PB Jakarta – Maraknya lagu anak dan Film yang tidak sehat karena menafikan unsur edukasi, dan semakin seringnya anak-anak usia sekolah dasar menyanyikan lagu-lagu cinta yang lazimnya dilantunkan oleh penyanyi dewasa, telah membuat banyak kalangan (pendidik, ulama dan orangtua murid) resah, termasuk kelompok Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI)

HKTI sebagai lembaga otonom dan ormas mandiri yang memayungi masalah pertanian dalam helatan ulang tahunya ke 45, langsung membuat gebrakan baru sebagai contoh dan edukasi masyarakat pedesan dengan melakukan pembinaan kreatif kelompok-kelompok seni pertunjukan lewat film dan industri musik.

IMG-20180316-WA0144Film dan musik dari karya yang diharapkan tidak saja kental dengan unsur edukasi dan menghibur, tetapi juga bisa menarik penuh keceriaan, sambil mengenali beragamnya potensi pesona alam dan keunggulan lokal lainnya, khusunya para Petani di pedesaan.

Wakil Ketua lomba cipta lagu dan Film HKTI ke 45, Camelia Panduwinata Lubis mengatakan, kgiatan itu merupakan kegiatan tahunan dan berharap sedikit akan muncul 4 hal, yaitu terciptanya banyak lagu yang berkualitas, mendorong para pencipta lagu sering menciptakan lagu  yang bermutu, memproduksi lagu dalam bentuk pertunjukan dan rekaman, kemudian meningkatan apresiasi masyarakat terhadap lagu dan Film.

IMG-20180316-WA0146“Saya berharap lagu ini juga bisa jadi sound track dalam film Desa Impian yang di garap Sutradara Roy Wijaya dari Kreasi Media Cinema. Karena lagu yang akan nanti banyak penciptanya itu, bertemakan alam dan lingkungan,” kata Camel saat di temui wartawan di Jakarta, Jumat (16/3/2018)

Menurutnya, pelaksanaan lomba cipta lagu dan Film  tahun ini Lagu yang diciptakan harus disesuaikan dengan kategori kehidupan yang ada di HKTI yaitu tentang alam dan bebas genre atau aliran. Masyarakat umum bisa mengikuti lomba ini dengan syarat peserta harus melampirkan KTP/identitas, melampirkan surat bahwa lagu yang diikutkan lomba adalah asli karya sendiri, melampirkan surat bersedia lagunya dipublikasikan, dan lagu yang diikutkan lomba tidak sedang mengikuti lomba serupa di tempat lain. Lagu dibuat dalam bahasa Indonesia yang benar, harus mengandung unsur budaya local dan tidak berbau SARA.

“Lomba ini bertujuan menjadi salah satu cara agar masyarakat bisa ikut melestarikan lingkungan alam di Indonesia. Selain menginginkan adanya lagu-lagu yang bertema alam,” ujarnya.

IMG-20180316-WA0143“Saya berharap musik Indonesia bisa lebih kreatif. Belum lama ini memang Indonesia baru merayakan Hari Musik Nasional. Kenapa kami bikin tentang alam? Karena kami rindu tentang lagu bertema alam. Nanti kami juga memberikan award khusus untuk penyanyi yang pernah membawakan lagu bertema alam seperti Koes Plus, Ebiet G Ade, dan Iwan Fals. Dengan demikian harapannya agar anak muda bisa berkesenian dan memperhatikan alam,” ujar Camel.

Perempuan yang juga seorang penyanyi dangdut dan politikus ini berharap, musik Indonesia tidak hanya dikuasai oleh musisi yang ada di Jakarta. Dirinya menginginkan seniman daerah bisa bangkit dan bersaing dengan musisi-musisi yang sudah ada.

“Mudah-mudahan tahun ini dan ke depannya lebih baik. Kemudian dangdut daerah juga merajai saat ini. Artis daerah bisa mendapatkan kesempatan yang sangat terbuka luas. Artinya, industri musik terus berkembang,” pungkasnya. (****)

loading...