PB Jakarta ; Prestasi bulutangkis Indonesia tengah merosot dibalik prestasi yang ditorehkan ganda putra Kevin Sanjaya dan Markus Gideon. Sebenarnya banyak bibit –bibit atlet  bulutangkis pontensial yang dapat menoreh prestasi tingkat dunia.

Asal saja PBSI selaku induk organisasi bulutangkis mampu menjalankan pola pembinaan secara jujur dan konsekuen.

“Terus terang saja saya katakan. Pencurian umur dalam tubuh bulutangkis  ditanah air kian merajalela dan sudah berlangsung bertahun-tahun. Faktor inilah salah satu penyebab prestasi bulutangkis Indonesia berjalan ditempat,” tegas Edi Bagus, Wakil Ketua I Masyarakat Pemerhati Bulutangkis Indonesia (MPBI), Senin (2/4) kepada wartawan.

Menurut Edi, pemasalahan pencurian umur atlet luput dari pandangan masyarkat Indonesia bahkan lembaga terkait. Berawal dari kasus ini maka masyarakat pecinta bulutangkis membuat suatu wadah yakni Masyarakat Pemerhati Bulutangkis Indonesia (MPBI).

Edi Bagus menambahkan, kasus ini harus segera diatasi sebab banyak anak-anak berbakat yang menjadi korban dan membuat prestasi bulutangkis Indonesia semakin merosot dimata dunia.

“Kami telah melakukan study yang panjang, Indonesia tidak memiliki pemain tunggal putra dan putri yang diperhitungkan di mata dunia, terlebih ganda campuran. Hanya kevin dan markus yang mendapatkan keajaiban. Ini semua karena adanya pencurian umur yang sudah berjalan bertahun-tahun,” kata Edi Bagus.

Edi menjelaskan, pencurian umur yang dimaksud ialah dimana anak yang usianya 2 tahun diatas ditempatkan pada yang usia dibawahnya, sehingga ketidak sesuaian usia menjadi problem anak-anak berbakat sebab anak berbakat tidak akan mampu melawan senior diatasnya.

“Pencurian atau pemalsuan umur atlet harus dibrantas. Pencuri umur penyebab utama prestasi olahraga khususnya bulutangkis terpuruk ”, tegas Edi Bagus.

Sejauh ini, MPBI tengah gencar melakukan komunikasi ke lembaga terkait seperti PBSI, Kemenpora, Komisi 10 DRP RI, KONI Pusat serta Kemendiknas. Edi menuturkan bahwa surat menyurat telah diajukan ke PBSI namun belum ada balasan.

“Untuk PBSI sudah kami kirim surat. Kalau KPAI sudah berkomunikasi dan sangat mendukung langkah yang kita lakukan.  KPAI menilai ini bentuk eksploitasi anak sebab apabila ketahuan psikologi anak akan kena sehingga dikhawatirkan membuat anak depresi,” ujarnya.

Padahal Edi menjelaskan terkait pencurian umur ada peraturannya di PBSI namun aturan ini tidak berjalan mungkin ada oknum yang bermain di balik ini guna meraup keuntungan. (Red*)

 

loading...