PB – Peran serta kaum perempuan di era pembangunan seperti sekarang tak bisa dipandang sebelah mata. Walau sibuk mengurus keluarga, mereka mampu membagi waktu untuk bekerja, bersosialisasi dengan sahabat, menjalani hobi dan tentu saja tak lupa merawat kecantikan diri sendiri.

Bangsa lain menilai perempuan Indonesia adalah sosok pekerja keras, multi talenta dan jarang mengeluh. Walau sudah melanglang buana dan memegang posisi tinggi di sebuah perusahaan namun dengan kultur timur yang telah mengakar, perempuan Indonesia mampu menempatkan diri menjadi istri yang taat pada suami dan ibu yang harus mengurus anak-anaknya.  Salah satu wanita yang sesuai dengan gambaran tersebut adalah Maya Miranda Ambarsari, SH.MIB.

Jabatan President Director di beberapa perusahaan tak membuat Maya melupakan kodratnya sebagai perempuan. Ia selalu mengutamakan keluarga daripada aktivitas pribadinya di luar rumah. Mencium tangan suami, memasak menu favorit, mengurus segala keperluan suami dan putra semata wayang, merawat belasan kucing peliharaan adalah kegiatan yang paling disukai disamping berbisnis. Bekerja, mengurus keluarga dan segala aktifitasnya berusaha  dijalankan sesuai dengan tuntunan agama yang dianutnya. Seperti perempuan pada umumnya, nilai-nilai agama selalu ditanamkan pada diri sendiri, keluarga, ratusan anak asuh dan ribuan karyawannya.

“Perempuan Indonesia itu sangat unik. Kalau sedang fokus mengerjakan sesuatu hasilnya akan luar biasa walau menjalani peran ganda dalam kesehariannya. Mereka hanya butuh kesempatan untuk membuktikan kemampuannya dan saya bangga menjadi bagian kecil dari jutaan perempuan di Indonesia,” ucap Maya yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI).

PPLIPI merupakan organisasi sosial kemasyarakatan lintas profesi, lintas agama dan lintas suku dengan keanggotaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia hingga ke luar negeri.  Visi dan Misi organisasi ini adalah menjadikan perempuan Indonesia mandiri, berkualitas, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, memperjuangkan aspirasi perempuan dalam segala lintas profesi serta memberdayakan perempuan Indonesia agar lebih  maju.

Sebagai salah satu pendiri dan pemilik saham perusahaan tambang emas yang sudah go public (PT. Merdeka Copper and Gold Tbk), Maya yang kini merambah bisnis properti dengan membangun beberapa guest house, hotel dan condotel ini juga memiliki kepedulian tinggi  pada bidang pendidikan anak dan pemberdayaan perempuan.

Rumah Belajar Miranda, bangunan sejuk bermarmer tiga lantai  dipersembahkan untuk mereka yang kurang mendapat perhatian. Dari pagi hingga sore, celoteh anak meramaikan rumah belajar tersebut. Walau bergerak dibidang sosial tetapi operasionalnya dijalankan oleh tenaga ahli professional. Para pengajarnya adalah sarjana dibidang agama, fisika, kimia, matematika dan bahasa asing yang digaji oleh Maya. Beberapa diantara pengajar tersebut bahkan dibiayai untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 demi kemajuan rumah belajarnya.

“Bayangkan balita yang awalnya berkeliaran di jalan, kini jago matematika, lancar bahasa Inggris dan hafal Al Qur’an. Bahagia dan terharu sekali melihatnya. Pagi hingga sore mereka dititipkan disini untuk belajar, sementara orangtuanya mencari nafkah sebagai pemulung, pedagang asongan, penjual sayur, tukang urut, dan lainnya,” urai Maya yang pernah meraih berbagai penghargaan diantaranya Tokoh Peduli Anak Bangsa, The Best Enterpreneur of the Year, Tokoh Berprestasi Indonesia, dan lain-lain.

Tak hanya pada anak-anak, Maya juga menaruh perhatian besar pada kaum ibu. Bersama team yang dipekerjakannya, secara rutin Maya memberi berbagai pelatihan wiraswasta agar kaum ibu lebih mandiri, mengadakan pengajian, memberi pinjaman modal tanpa bunga, hingga mengajak rekreasi untuk menghilangkan penat. Penceramah terkenal, financial planner dan tenaga ahli lainnya diundang untuk membimbing dan membagi pengetahuan kepada mereka.

Biaya operasional ratusan juta Rupiah dikeluarkan dari kocek pribadi setiap bulannya  untuk kelangsungan rumah belajar tersebut. Dana tersebut diakui Maya diperoleh  dari doa anak-anak, wanita tak mampu dan para jompo yang dirawatnya. “Sebenarnya saya tidak pernah menghitung semua pengeluaran. Bagi saya uang yang sudah keluar tidak perlu diingat-ingat. Saat mulai menjalankan rumah belajar ini, saya serahkan semuanya pada Allah. Alhamdulillah, hingga saat ini tidak pernah meminta sumbangan atau sponsor tetapi jika ada kawan yang ingin menyumbang buku, peralatan ibadah atau pakaian layak pakai, dengan senang hati saya terima,” ucap pemilik gelar pendidikan Master of International Business, dari Swinburne University of Technology, Melbourne ini.

Setelah sukses di bidang tambang, melalui PT. Tri Tunggal Agung Propertindo miliknya, Maya merambah bisnis properti dengan membangun Elliottii Residence di kawasan elite Jakarta serta Grand Dafam Condotel, Cisarua. Kegiatan sosial dijadikan penyeimbang hidup Maya. Saat orang lain sibuk mencetak uang, ia memilih sibuk membahagiakan orang lain.

“Empat guest house mewah Elliottii Residence di Pondok Indah, dua di Cipete dan satu di Cisarua saya sewakan dengan harga relatif terjangkau bila dibandingkan dengan guest house lain. Saya memang tidak terlalu mengkomersilkan bangunan itu. Tujuan utama saya berbisnis adalah beribadah dengan menyalurkan rezeki dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Saya selalu ingin berbagi, ingin orang lain merasakan kebahagiaan yang saya rasakan. It’s not about the money, kepuasan batin tidak bisa dinilai dengan uang,” ungkap Maya yang tampak akrab pada semua karyawannya.

Di usia yang menginjak 45 tahun, tak terlihat lelah di wajah walau aktivitasnya sangat padat. Ia menjalani semua dengan suka cita. Aktif dibidang sosial menenangkan jiwanya. Ia percaya beauty comes within, kecantikan akan terpancar dari jiwa yang tenang dan bahagia. Maka ia tak dipusingkan dengan urusan perawatan kecantikan. Tak ada perawatan istimewa selain mewarnai rambutnya yang mulai beruban, berenang, yoga, lari, dan zumba. Me time diisi dengan membaca, memasak, berkebun, menata rumah sebab ia adalah tipe wanita ‘rumahan’.

Lingkungan kerja dan bisnis yang didominasi kaum pria dan karakternya yang cenderung cuek tak membuat Maya menanggalkan kefemininannya. Ia tetap wanita yang halus perasaannya dan unsur feminin itu diwakili melalui pernak-pernik  nuansa pink yang dikenakannya. Tak hanya pakaian dan aksesoris, furniture dan peralatan rumah tangganya pun diberi sentuhan pink. Baginya pink sangat feminin, identik dengan kelembutan wanita.

Seperti lazimnya perempuan, Maya pun senang berbelanja.  Seratus lebih  tas branded tertata rapi di sebuah kamar khusus namun ia mengaku memiliki kontrol diri yang cukup baik dalam hal berbelanja. Ia membelinya untuk menunjang profesi semata. “Saya bukan tipe orang yang mendewakan penampilan. Belanja sewajarnya saja supaya tidak ada jenjang terlalu tinggi dengan orang-orang disekitar saya. Saya berpikir uang yang saya pakai untuk beli tas, baju dan sepatu mahal tentu akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk anak asuh dan jompo yang saya rawat. Maka sehabis shopping, saya berusaha menyisihkan rezeki sebesar uang yang saya keluarkan untuk berbelanja. Jangan sampai saya bisa memanjakan diri tetapi orang yang mendoakan dan  membantu saya tidak merasakan kesenangan,” ungkap istri dari Ir .Andreas Reza Nazaruddin itu.

Sukses berbisnis dan harta berlimpah bagi Maya bukan hal yang luar biasa. Jika kesuksesan dan materi tersebut dinikmati seorang diri tentu sudah lumrah, hampir semua orang seperti itu. Menjadi hal yang luar biasa jika ia bisa terus menyalurkan rezeki pada sesama dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Maya berusaha konsisten dengan pilihan yang membuatnya sangat bahagia itu.

(Monty/Red)

loading...