PB, JAKARTA – Keberadaan tenaga kerja asing yang terus berdatangan di Indonesia dari China rupanya menajdi sebuah kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Indonesia, apalagi Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan perpres terkait dengan kemudahan kemudahan yang bisa diperoleh oleh TKA yang ingin bekerja di Indonesia.

Banyak video video yang beredar di sosial media terkait dengan kedatangan para tenaga kerja dari China ketika baru turun dari pesawat. Video tersebut diambil di beberapa bandara, seperti di Bandara Haluoleo Kendari, Bandara Sultan Hasanudin Makassar, dan Bandara Sultan Babullah Ternate, termasuk dengan beberapa bandara di Kalimantan.

Bandara Hasanuddin adalah salah satu pintu masuk dari luar negeri, sementara bandara di Kendari dan Ternate adalah pintu masuk bagi para TKA asal China yang akan bekerja di beberapa perusahaan pertambangan di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Namun rupanya hal itu menjadi sebuah catatan tersendiri dari pihak Ombudsman RI yang kemudian mencoba menelusuri dan akhirnya diketemukannya beberapa catatan terkait dengan keberadaan TKA secara administarsi yang dianggap oleh Ombudsman sebagai kewenangan yang kebablasan alias Maladministrasi.

Salah satu anggota Ombudsman, Ninik Rahayu mengatakan jika keberadaan para TKA memang diperbolehkan bekerja di Indonesia, namun dari hasil penelusuran dan kajian yang dilakukan oleh pihaknya, diketemukan jika banyak TKA yang menggunakan visa tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Visa mereka bukan visa kerja, dan waktu tinggal sangat terbatas, namun mereka tidak perduli dan tetap bekerja bahkan ada yang tinggal melebihi batas waktu,” ujar Ninik, menjabarkan maladministrasi yang dilakukan oleh para TKA.

Dan salah satu indikator yang menyebakan hal itu terjadi, menurut Ninik dikarenakan pemerintah sudah membuat sebuah kebijakan terkait dengan kebebasan visa bagi wisatawwaan asing. Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para TKA dengan masuk menggunakan bebas visa wisatawan.

Dan dari hasil kajian tersebut, Ninik mengatakan jika sampai saat ini persoalan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh pihak kepolisian dan imigrasi terkait dengan keberadaan para TKA ilegal tersebut, masih sangat minim terutama dalam hal pengawasaan dan pencegahan.

Dan kedatangan mereka melalui bandara cukup insentif dengan jadwal kedatangan dalam satu hari mencapai hingga dua kali penerbangan, yang jadwalnya pada pukul 03.00 hingga pukul 06.00 dinihari.

“Sudah tentu jam tersebut yang mereka gunakan, karena mereka tidak mau sampai ada yang mengupload video jika didalam pesawat banyak warga China yang akan masuk ke wilayah tersebut,” ujar Heikal pendiri Heikal Center, yang mengingatkan ketika salah satu vokalis band yang mengupload sebuah video dirinya yang kaget melihat dirinya terbang bersama sama dengan warga asal China dengan tujuan Kendari, Sulawesi Tenggara.

Ninik menambahkan jika jumlah kedatangan para TKA China ini, sebesar 70 persen menggunakan pesawat terbang, sementara sisanya 30 persen masuk dengan kapal laut. Dan terbanyak masuk di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah.

(jall)

loading...