PB, JAKARTA – Selama dua hari (23-24 April 2019), Ditrektorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM (Ditjenpas Kemenkumham) mencoba untuk memberikan warna baru dalam dunia pembinaan kepada para penghuni Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia.

Pada hari pertama, Senin (23/4/198) pembuaan dilakukan langsung oleh Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto yang didampingi oleh beberapa pejabat dari beberapa kementerian, yang secara khusus di undang untuk menyaksikan kegiatan yang pertama kali terjadi di Asia.

Bahkan jumlah narapidana adalah yang terbesar hadir untuk ikut mengisi dan mensukseskan rencana yang hampir dianggap mustahil. Karena jumlah pesakitan sebanyak 450 dari 35 lapas dan rutan yang harus didatangkan dianggap sangat beresiko. Namun kekhawatiran itu bisa diatasi dengan keyakinan atas pembinaan yang dilakukan selama ini. Dan suksesnya kegiatan ini dikarenakan keyakinan dari seluruh penanggung jawab lapas dan rutan yang berhasil melakukan pembinaan kepada penghuni didikan mereka.

Pada bagian luar halaman kegiatan IPAFest 2018 yang dipakai, disamping panggung utama kegiatan, bertebaran tenda tenda yang mengisi hasil kerajinan para penghuni lapas, mulai dari pernak pernik kecil hingga hasil pakaian batik yang mutu dan kualitasnya cukup bersaing dengan batik yang dijual di toko toko khusus yang menjual batik.

Bukan hanya pameran hasil kerajinan para pesakitan, namun para narapidana juga menampilkan sebuah pentas musik teatrikal. Dan dari pantauan media ini, penonton yang masuk ke dalam ruangan Tetater Kecil milik TIM terpaksa harus berdiri sambil menonton karena penuh, hiburan yang ditampilkan dianggap sempurna.

Bahkan para penonton semakin salut ketika mengetahui, jika para pemain teater dan juga para pemusik yang menjadi bagian dari tetater musik yang ditampilkan selama 1 jam lebih adalah para narapidana bersama sama dengan petugas lembaga.

Mereka digodok dan dibimbing langsung oleh intstruktur dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dalam sebuah training camp di Lapas Salemba. Adegan demi adegan yang dimainkan oleh para pemain teater amatir ini, menghibur para penonton bahkan selama adegan tawa para penonton tidak berhenti.

“Ini handphone siapa ?” tanya petugas yang mempergoki salah satu narapidana sedang menelpon keluarganya, yang kemudian beralasan jika dirinya rindu anak anaknya, petugas yang menyita telpon tersebut ternyata mengenali pemiliknya, dan kemudian lampu beralih ke sudut lainnya yang menyinari dua orang petugas salah satunya adalah petugas yang menyita handphone tersebut.

“Maaf komandan sepertinya ini handphone milik komandan saya temukan di salah satu blok,” ujar petugas yang kemudian menyerahkan hp milik komandannya. Sambil gemetar si komandan menerimanya dengan tangan gemetar yang kemudian dimasukkan ke dalam saku celananya.

Singgungan yang diadegankan oleh para pemain, ternyata mendapat apresiasi dari penonton yang sebagian besar berasal dari pegawai kemenkumham. “Kena banget sindirannya,” celetuk salah satu penonton yang berdiri di sebelah media ini yang ikut menonton.

Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly mengaku mendukung program yang dibuat oleh Ditjenpas, “Saya mendukung sepenuhnya setiap ide kreatif dan inovasi baru dalam menciptakan momen seperti ini, apalagi bukan hanya berskala nasional namun sudah internasional, ini membuktikan lapas di Indonesia sudah mengalami kemajuan yang baik, ini menjadi leader di kawasan Asean dan Asia,” ujarnya.

Mardjoeki selaku Pelaksanan Tugas Dirjenpas mengharapkan IPAFest 2018 menjadi motivasi bagi narapidana lainnya untuk bisa menjadi lebih baik, “Semoga mereka kembali ke masyarakat nanti bisa menjadi pendukung untuk program program pembinaan narapidana,” ujarnya.

Mardjoeki yang didampingi oleh Sekretaris Dirjenpas Sri Puguh Budi Utami, menambahkan jika kegiatan kegiatan yang secara terus menerus dilakukan untuk membuat para narapidana bisa menjadi lebih baik lagi.

“Kami sangat berharap agar masyarakat bisa hadir dan melihat langsung apa yang dilakukan oleh narapidana melalui karya mereka, karena bukan tidak mungkin ini menjadi jalan untuk kelangsungan dalam hal ekonomi buat keluarga mereka ketika kembali ke masyarakat usai menjalani hukumannya,” ujar Budi Utami.

Ketua Panitia penyelenggara IPAFest2018, Aman Riyadi, mengakui jika untuk mensukseskan kegiatan ini, memerlukan waktu yang tidak sedikit, karena selain harus menemukan formulasi yang tepat, karena selain ide dari para pembimbing, juga ide dan masukan dari para narapidana juga menjadi salah satu alasan suksesnay kegiatan ini.

“Untuk mengeksekusi dan sekaligus memobilasi para narapidana dari daerah ke Jakarta bukanlah hal mudah, kami lakukan pembauran narapidana ke masyarakat secara pelan pelan dengan cara mengikutkan mereka ke berbagai kegiatan pameran kerajinan narapidana yang melibatkan langsung masyarakat luas,” ujar Aman.

Aman mengakui jika lokasi yang dipilih memang memiliki keterbatasan namun momentum Hari Bhakti Pemasyarakatan ke 54 kali ini justru memperlihatkan kepada masyarakat jika hasil yang dibuat justru tidak membuat mereka mundur untuk berkarya lebih baik lagi.

Acara selama dua hari ini juga dimeriahkan oleh para artis papan atas Indonesia, Cak Lontong, Sandriana Malakiano, Ayu Laksmi, Saykoji, JRX “SID” dan Robby Geisha.

 

(jall)

loading...