PB, JAWA TIMUR – Mutasi di jajaran kepolisian merupakan hal yang biasa bahkan menjadi keharusan yang tidak bisa dihindari baik oleh anggota yang dimutasi maupun warga yang sudah terlanjur mencintai pejabat yang selama bertugas ternyata berhasil merebut hati warga.

Kecintaan yang sudah terlanjur datang, membuat warga merasa berat untuk menerima kepergiannya. Seperti yang dialami oleh AKBP Sigit Dany Setiyono yang harus meninggalkan posnya sebagai Kapolres Situbondo dan digantikan oleh AKBP Awan Hariono.

Serah terima jabatan dari AKBP Sigit kepada AKBP Awan dilaksanakan, Selasa (24/4/18). Dengan diiringi lantunan shalawat dari anggota kepolisian Polres Situbondo, AKBP Awan bersama istri disambut kedatangannya ke Mapolres Situbondo.

Sigit selama ini dikenal menjadi salah satu pejabat kebanggaan bagi warga Situbondo, terutama bagi umat muslim, karena Sigit ternyata sering meluangkan waktunya untuk menjadi Khatib shalat jumatan dimesjid manapun manapun di Situbondo.

“Setiap ada pengajian yang dilakukan oleh masyarakat, beliau pasti hadir bersama dengan anggota polres lainnya, tidak memilih itu dari NU, Muhammadiyah atau Al-Irsyad, bahkan anggotanya diwajibkan untuk selalu menjaga shalat 5  waktu,” ujar Umar, salah satu warga yang menyaksikan langsung, bahkan tentang menjaga akidahnya, nama Sigit menjadi buah bibir bagi masyarakat Situbondo.

Menurut Umar beberapa rekannya mereka pernah saksikan Sigit menyantuni kaum dhuafa dan fakir miskin, termasuk yayasan fakir miskin atau yatim piatu, ataupun pesantren yang ada di Situbondo dan sekitarnya, bahkan menyantuni kaum dhuafa dan fakir miskin seakan akan menjadi kewajiban bagi Sigit.

Bahkan kunjungannya ke panti asuhan atau pesantren tidak pernah mengajak siapapun termasuk ajudan atau sesprinya. Bahkan tidak jarang para pengurus yayasan dan pesantren dibuat kaget dengan kedatangan Sigit yang tidak pernah mereka ketahui terlebih dahulu, seperti kebiasaan pejabat daerah.

“Beliau datang diam diam, sendirian tidak pernah mengajak anggotanya bahkan ajudannya juga tidak,” ujar Umar yang diceritakan oleh salah satu temannya di salah satu yayasan di Situbondo.

Umar sangat mengharapkan agar jalinan silaturahmi antara AKBP Sigit dengan warga Situbondo tetap terjalin sampai kapanpun, selain sikap dan jiwa kesederhanaannya, Sigit dianggap banyak memberikan ilmu kepada masyarakat.

“Banyak Ilmu yg telah Bapak Torehkan di kota kami tercinta ini, walaupun kami tidak perna berguru langsung kepada Beliau tapi insya Allah beliau adalah guru kami, beliau adalah bapak kami,” ujar Umar kepada media ini.

Salah satu pesan Sigit yang sering dia sampaikan dalam ceramahnya, kepada umat muslim di Situbondo, “Tolong cari saya nanti di jannah (Surga) jika kalian tidak menjumpai saya,” ujar Umar mengenang beberapa ceramah yang sempat dia ikuti.

Media ini yang kebetulan berada di lokasi perpisahan, menyaksikan beberapa warga termasuk anak anak kecil terlihat mengusap matanya karena tidak mampu menahan airmata mereka yang tumpah.

“Jujur ini belum pernah terjadi kepada pejabat siapapun di Situbondo yang pindah atau berpisah, ini pertama kalinya terjadi,” ujar Umar yang melihat bagaimana warga merasa kehilangan.

(Saddam Situbondo)

loading...