PB CIREBON – Pecinan di kota Cirebon kini sudah berubah dan tampil beda . Banyak bangunannya yang sudah dicat beragam warna. Daerah di kawasan Pasar Kanoman ini lebih tertata, bersih, dan rapih. Ini karena ratusan bangunan atau kios serta pedang kaki lima di sana mendapat sentuhan Pacific Paint sehingga dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Keragaman suku, budaya, dan agama di Cirebon memang unik. Bahkan, dianggap sebagai representatif tentang kerukunan di Indonesia. Hal ini pula yang menjadikan Pacific Paint memprakarsai program warna warni Pecinan.
Revitalisasi di pasar Kanoman yang dilakukan ini tak lepas dari kesepakatan jalinan kerja sama dengan tiga kesultanan Cirebon , yakni Gusti Sultan Sepuh ke-14, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat dari Kasultanan Kasepuhan Cirebon, Sultan Pangeran Raja Muhammad Emirudin dari Kasultanan Kanoman, dan Sultan Pangeran Raja Abdulgani Natadiningrat dari Keraton Kacirebonan.
“Kami melihat bahwa kawasan pecinan pasar Kanoman ini sangat berpotensi menjadi salah satu daya tarik utama pengunjung yang sayang apabila tidak kita jaga, karena selain sebagai pusat ekonomi juga bagian dari sejarah bangsa Indonesia.  Untuk itu kami berharap dengan revitalisasi ini bisa menghidupkan kembali pasar sebagai destinasi utama wisata dan berbelanja, sehingga dapat lebih meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan yang terpenting dapat menikmati hingga berbagai generasi,” kata Suryanto Tjokrosantoso, Direktur Pacific Paint saat  meresmikan Pecinan Warna Warni di Pasar Kanoman Cirebon, Kamis (3/5/2018).
Pemilihan Pecinan Cirebon dengan sentuhan warna warni ini juga bukan tanpa alasan. Seperti diketahui, hubungan keraton-keraton Cirebon dengan komunitas Tionghoa sudah terjalin lama. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, warga Tionghoa berada di wilayah Cirebon sekitar 200 tahun sebelum Kesultanan Cirebon berdiri.
Bahkan, keberadaan warga Tionghoa di Cirebon sudah ada sejak sekitar 1415 M sebelum kerajaan Cirebon berdiri pada sekitar tahun 1500 M. Hal ini mengingat riwayat putri dari Dinasti Ming. Ong Tien yang merupakan istri Sunan Gunung Jati juga diiringi dengan peristiwa monumental ketika pasukan negeri Tiongkok yang dinakhodai Laksamana Cheng Ho. Panglima Besar Angkatan Laut dari Dinasti Ming datang ke Cirebon.
“Pasar Kanoman bukan hanya bagian dari sejarah namun juga sudah menjadi bagian jantung dari Kota Cirebon itu sendiri, dengan adanya pemugaran ini saya berharap masyarakat dapat lebih bangga dengan jati diri bangsa dan semakin apresiasi akan nilai sejarah dengan budaya lokal yang sudah semakin tergerus dengan modernnya zaman,” jelas Kasultanan Kasepuhan Cirebon, Gusti Sultan Sepuh ke-14, Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat.
Selain prosesi peresmian, diadakan pula panggung budaya yang menampilkan pertunjukan barongsai dan tarian tradisional Cirebon. Acara yang dihadiri ribuan pengunjung ini menjadi salah satu acara peresmian dan budaya terbesar di Kota Cirebon.
Sebelumnya, ada beberapa tempat yang daerahnya dipenuhi semarak warna warni sehingga menarik perhatian wisatawan, yakni di kawasan Tangerang dengan Kampung Bekelir dan Kampung Merah Putih di Kota Tual Maluku Tenggara. (Beby Hendry)
loading...