PB JAKARTA – ‎PTTEP Indonesia dan CECT meluncurkan seminar berseri tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SGDs) di kawasan Kuningan, Jakarta. Adapun, kegiatan ini menyatukan lebih dari 100 pemeran utama di sektor publik dan swasta, serta LSM dan akademisi.
Pada seminar ini, PTTEP menekankan pentingnya untuk semua stakeholder memainkan peran kolaboratif dan menciptakan front persatuan dalam upaya mencapai SDGs di Indonesia.
Adapun, para panelis yang mengisi seminar ini antara lain adalah General Affairs Manager PTTEP Indonesia, Afiat Djajanegara; Praktisi keberlanjutan (sustainibility) terkemuka, Jalal; Kementerian Desa Direktur Jenderal Pengembangan Desa, Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika; Presiden TELAPAK, Silverius oscar Unggul; Chief Technical officer dan Pendiri Kitabisa.com, Vikra ijas; Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa, Yuli Pujihardi; dan Manajer Program Senior British Council Indonesia, Ari Sutanti.
‎General Affairs Manager PTTEP Indonesia, Afiat Djajanegara mengatakan, tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) adalah serangkaian 17 tujuan global yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan ekonomi dan sosial yang dihadapi dunia di dalam ‘The 2030 Agenda’.
Afiat menjelaskan bahwa, Pemerintah Indonesia sudah mengadopsi tujuan-tujuan ini hampir tiga tahun lalu bersama para pemimpin dunia, namun tujuan ini tidak dapat diperjuangkan oleh Pemerintah saja. Sebagaimana dinyatakan dalam SDG 17, ‘Kemitraan untuk Tujuan, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan’ hanya dapat direalisasikan melalui komitmen dan kemitraan yang kuat di antara sejumlah besar pemangku kepentingan (stakeholders).
Dalam mencapai SDGs dirinya memaparkan, PTTEP bermitra dengan CECT untuk melayani sebagai penyelenggara diskusi di antara para pemangku kepentingan utama di negara tersebut dan membentuk serangkaian seminar sebagal platform untuk bertindak, menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi Indonesia.
“Sebagai seseorang dari sektor menyadari bahwa untuk mencapai SDGs adalah upaya kolektif, kami tidak dapat dilakukan sendiri. Itulah mengapa kami ingin membuat forum di mana setiap orang dapat untuk berbagi peran masing-masing dan mendiskusikan bagaimana kami dapat bekerjasama untuk menciptakan dampak yang lebih tahan lama,” jelas Afiat dalam sambutannya di JS Luwangsa Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/4) lalu.
Dikatakannya, bahwa seminar ini nantinya akan berlanjut di empat kota di Indonesia lainnya. PTTEP pun berharap, inisiatif seminar ini akan memberikan manfaat untuk LSM-LSM di Indonesia.
“Kami memulai acara ini di Jakarta, tetapi kami juga akan menyelenggarakan seminar serupa di Makassar, Surabaya, Medan, dan Palembang dalam waktu dekat. Mudah-mudahan inisiatif seminar ini akan memberikan manfaat untuk teman-teman LSM agar kualitas dan mutunya menjadi lebih tinggi, karena ke depannya keberadaan LSM akan semakin-semakin banyak dibutuhkan, agar mitra antara sektor pemerintah semakin tinggi dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia,” jelas dia.
Sementara itu, Anastasia Putri dari CECT, menuturkan bahwa saat ini semakin banyak bukti socialpreneur telah meningkatkan pertumbuhan sosial dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Maka atas dasar itulah, CECT merasa terpanggil untuk mendukung mereka dalam mengadopsi inovasi sosial untuk mengatasi masalah-masalah sosial.
“Melalui Seminar dan Lokakarya ini, kami berharap dapat mengubah paradigma orang tentang kontribusi sosial organisasi mereka. Kami bersikeras bahwa Indonesia tidak akan tertinggal di kancah global dalam mencapai Usulan Pembangunan Berkelanjutan (SGDs) yang diusulkan,” ujar Anastasia Putri.
Selain seri ini, PTTEP dan CECT juga akan secara kolaboratif menyelenggarakan lokakarya dua hari yang bertujuan untuk melatih LSM lokal tentang bagaimana cara terlibat secara lebih efektif dan bermitra dengan sektor swasta dan publik.
Adapun, lokakarya ini akan dipimpin oleh para instruktur dari Program Magistrate-Magistrasi Guru di Universitas Trisakti. Program pelatihan intensif ini akan mengajarkan LSM pentingnya membangun tata pemerintahan yang berkelanjutan, beralih ke perusahaan, dan menciptakan program pengembangan masyarakat yang memiliki dampak berkelanjutan.
“Bekerja dengan LSM sangatlah penting bagi kami, karena mereka memainkan peranan penting sebagai mitra tepercaya bagi semua stakeholders. oleh karena itu, kami percaya bahwa perlu untuk memberikan peningkatan kapasitas yang tepat agar LsM menjadi profesional di bidangnya dengan kompetensi yang tepat untuk memberikan hasil yang berkualitas tinggi,” pungkas Afiat.
SDGs sendiri merupakan serangkaian dari 17 tujuan global yang ditetapkan oleh Perserikan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengatasi masalah-masalah pembangunan ekonomi dan sosial yang dihadapi dunia di dalam “The 2030 Agenda”. Pemerintah Indonesia sudah mengadopsi tujuan-tujuan ini hampir tiga tahun lalu, bersama para pemimpin dunia.
Namun, tujuan ini tidak dapat diperjuangkan oleh pemerintah saja, melainkan–sebagaimana dinyatakan dalam SDG nomor 17, Kemitraan untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan–hanya dapat direalisasikan melalui komitmen dan kemitraan yang kuat di antara sejumlah besar pemangku kepentingan (stakeholders).‎ (Beby)
loading...