PB – Jakarta : Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara (ASPRINDO) kembali mengadakan audiensi ke Bulog, setelah melakukan pertemuan dengan Ketua KEIN (Komite Industeri dan Ekonomi Nasioanal) dan Komisaris Utama PT Aneka Tambang (ANTAM).

Kunjungan perwakilan ASPRINDO disambut dengan baik oleh Direktur Utama BULOG, Budi Waseso di Gedung Bulog Pusat Jl. Jend.Gatot Subroto pada hari Rabu / 23 Mei 2018. Dalam pertemuan tersebut ASPRINDO di wakili oleh Rizal Ramli (Ketua Dewan Pembina), Jose Rizal (Ketua Umum Asprindo) dan Ali Arief (Dewan Pakar Asprindo dan Mantan Dewan Pengawas Bulog).

Jose Rizal kepada wartawan menyebutkan “ASPRINDO sebagai Organisasi Pengusaha Bumiputera yang mempunyai perwakilan di 34 propinsi bertujuan bertujuan membantu para anggotanya dalam mengambil peran dalam proses pembangunan ekonomi, sehingga hasil-hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata dan berkeadilan (AD/ART ASPRINDO)”.

“Kedepan, ASPRINDO akan membentuk perwakilan di Tingkat Kabupaten/Kota akan dibentuk Dewan Pimpinan Cabang (DPC) , untuk dapat berperan dalam pembangunan ekonomi ditambah lagi Asprindo baik ditingkat Pusat, Wilayah dan Daerah memiliki akses pada Lembaga-lembaga Pelatihan dan Pengembangan Masyarakat dan Penguatan Usaha Mikro,Kecil dan Menengah. Oleh Karenanya sangatlah perlu untuk berpartisipasi aktif untuk memberikan sumbangsih kepada pemerintah mewujudkan pembangunan ekonomi, salah satunya melalui ikut mewujudkan program dan target BULOG melalui program kemitraan” ujar Jose kembali.

Ali Arief selaku Mantan Dewan Pengawas Bulog yang juga merupakan Dewan Pakar Asprindo menyebutkan bahwa Kinerja Bulog masih jauh dari target yang telah ditetapkan. “Oleh karenanya dibuttuhkan keseriusan dalam menjalankan program-program Bulog yang memberikan manfaat dan stabilitas ekonomi Indonesia” ujar Arief.

“Panjangnya rantai distribusi dalam pengadaan barang-barang yang dibutuhkan masyarakat membuat harga-harga kebutuhan pokok tidak terjangkau, Saya ambil contoh misalnya, dalam pengadaan kebutuhan-kebutuhan pokok, Bulog acap mendapatkan barang tersebut bukan dari petani langsung, melainkan dari pabrik pengelolaan bahan-bahan kebutuhan pokok tersebut” ujar Arief.

Arief kembali menambahkan “Dalam sistem pengadaan bahan pokok di Bulog, biasanya dari petani ke pengepul kecil dilanjutkan ke pengepul besar yang kemudian diolah di pabrik setelah itu baru Bulog. efek negatif dari panjangnya matarantai akan riskan dengan ‘permainan’ sehingga harga ke masyarakat akan semakin mahal. Oleh karenanya perlu diperkecil mata rantai tersebut bahkan kalau perlu Bulog langsung mendapatkan dari petani untuk diolah melalui program kemitraan sehingga harga kebutuhan pokok dapat terkendali”.

Mengingat ketergantungan pemerintah terhadap efektivitas Bulog sangatlah tinggi untuk menjaga stabilitas harga pangan ditanah air serta menekan inflasi, maka Bulog hendak mendekatkan diri dengan masyarakat melalui  program strategis Rumah Pangan Kita (RPK). Dengan program RPK, Warga yang akan menjadi agen RPK akan mendapatkan suply kebutuhan pangan seperti beras, gula pasir, minyak goreng dan tepung. Melalui program RPK, Bulog menargetkan 50.000 RPK tersebar diseluruh Indonesia.

Melalui program RPK, Bulog dan ASPRINDO berencana menyepakati untuk menyiapkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang memuta visi, misi dan target yang hendak dicapai (Roadmap) dalam Pengembangan RPK dan ditindaklanjuti oleh Departemen Pengadaan Pangan, Jasa dan Distribusi ASPRINDO yang diketuai Andi Kaharudin.

Kesiapan ASPRINDO untuk mewujudkan PKS tersebut dengan menjabarkan dan menyusun berbagai Standard Operation Prosedure (SOP) Kemitraan terkait dengan program pengembangan RPK. SOP tersebut, akan berisi tugas dan fungsi masing-masing pihak, perencanaan, pelaksanan, pemantauan dan pelaporan.

Selain itu ASPRINDO segera menyusun berbagai media sosialisasi dan modul pelatihan bagi Pemerintah Daerah, DPD Asprindo Kab/Kota, Pemerintah Desa, Para Pedamping Bumdes-Mart agar memahami visi utama dan ketrampilan yang memadai.

Pemetaan Bumdes dapat dijadikan “pilot pembelajaran” kemitraan antara Bulog dan Asprindo dalam penyeimbang dan penyangga ketahanan pangan serta perkampungan indutri pada sentra-sentra produk agro yang dapat diserap oleh Bumdes-Mart dan Bulog. Atas dasar pilot pembelajaran tersebut dapat dikembangkan target capaian pembinaan dan pengembangannya. (Hefrizal/Monty)

loading...