PB JAKARTA – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) mengutuk keras aksi teror yang dilakukan simpatisan PDIP ke kantor Radar Bogor.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, Yadi Hendriana mengecam keras aksi kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh simpatisan PDIP di kantor Radar Bogor. Menurutnya, aksi premanisme dan main hakim sendiri adalah ancaman bagi kebebasan pers dan demokrasi yang tengah tumbuh di tanah air

“Meminta aparat kepolisian mengambil langkah tegas bagi siapapun yang melakukan tindak kekerasan terhadap pers, karena produk jurnalistik yang dibuat pers, karena produk jurnalistik yang dibuat sesuai dengan kode etik dilindungi dan dijamin oleh Undang-undang,” desak Yadi melalui keterangan tertulisnya, Jumat (1/6/2018).

Dia juga mendorong pers yang diintimidasi dan mengalami kekerasan menempuh jalur hukum, agar menjadi pembelajaran dan aksi kekerasan kepada pers tidak terulang lagi dikemudian hari.

“Meminta pada semua pihak yang merasa dirugikan oleh pers untuk menempuh jalur yang sudah ditentukan yakni dengan mengadukan ke Dewan Pers terlebih dahulu.” katanya.

Yadi juga meminta kepada seluruh jurnalis di Indonesia agar selalu berpegang teguh pada kode etik jurnalistik dalam menjalankan tugasnya. Fungsi pers adalah menyuarakan kebenaran serta berpihak pada kepentingan orang banyak.

“Mengingatkan kepada seluruh insan jurnalis, produk jurnalistik yang dipublikasi adalah yang sudah terverifikasi, terkonfirmasi dengan mengedepankan asas keberimbangan,” ungkap dia.

Berikutnya, ia meminta semua pihak agar menjaga demokrasi dan kebebasan pers yang tengah tumbuh dan berkembang di tanah air. Karena demokrasi dan kebebasan pers adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.

“Menyerukan kepada semua pihak dan para insan pers khususnya untuk tetap istiqomah menjaga demokrasi dan menjalankan kebebasan pers dengan penuh rasa tanggung jawab, demi tujuan bersama yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.” jelasnya.

Ramai diberitakan, aksi penyerangan terhadap lembaga pers kembali terulang. Kali ini menimpa surat kabar lokal Radar Bogor. Surat Kabar yang berdomisili di kota Bogor mendapat intimidasi dan tindak kekerasan dari sejumlah massa yang mengatasnamakan kader partai penguasa alias PDIP. Mereka mendemo serta memaksa masuk ke kantor Radar Bogor.

Tidak hanya itu massa juga sempat melakukan tindak kekerasan kepada salah satu staff Radar Bogor. Aksi merupakan kekecewaan para simpatisan PDIP atas pemberitaan Radar Bogor yang dinilai menyudutkan Ketua Umum PDIP, Megawati SP. (Beb)

loading...