Bogor, PB- Terkuatnya kasus dugaan penjualan aset (lahan) negara,sekaligus penyerobotan tanah milik warga petani,Desa Singasari,Kecamatan Jonggol,Kabupaten Bogor,terus menuai masalah.

Kasus korupsi di Bumi Tegar Beriman,diketahui menyeret sejumlah nama pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor. Terungkapnya kasus korupsi ini menurut data yang diterima Redaksi Pembawaberita.com, Sabtu (16/6), bermula langkah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) dalam penyitaan lahan PT Bank PSP di Singasari yang dijaminkan ke Negara,lantaran terkait kasus BLBI awal April 2018. Sehingga pemilik tanah (warga) merasa dizolimi dan melakukan aksi.

Aksi warga dengan tujuan untuk mempertahankan haknya berupa tanah,yang diketahui sebelumnya tanah seluas 14 hektar diserobot kroni Rahmat Yasin (Bupati Bogor kala itu yang mendekam di lapas Sukamiskin karena terjerat kasus gratifitasi).

Aksi BEM UNIDA yang ikut membantu warga,lakukan aksi di KPK dan menyerahkan sebundel berkas bukti penjualan aset negara dan penyerobotan tanah warga oleh kroni Rahmat Yasin di KPK. Kemudian aksi warga petani pemilik tanah di KPK dan Istana Presiden pada 7 Juni 2018.

Setelah kasus ini bergulir diketahui masyarakat luas. Kini masyarakat Singasari menjadi joki atau berpura-pura melakukan jual beli tanah kepada RY cs agar buka suara. Para joki sebetulnya tidak punya tanah yang dimaksud. Mereka hanya disuruh menandatangani Akta Jual Beli dengan blanko kosong tanpa diketahui siapa pemiliknya,dengan diiming-iming uang Rp 700 ribu. Kemudian hari baru diketahui tanah tersebut tanah sitaan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia pada tahun 1998.    Diketahui,tanah warga Desa Singasari digelapkan dan beralih kepemilikan atas nama Rahmat Yasin,Ade Yasin alias Ade Munawaroh dan kroni-kroninya. Kemudian dijual kembali kepada Siti Hutami Endang Adiningsing atau dikenal Mamiek Soeharto.

Nasib para joki diambang jerat hukum. Diantaranya,Momo,Hendi,Janin dan Naim,ketika ditemui mengaku menandatangani AJB tahun 2012. Menurut mereka,waktu itu meminta warga menandatangani AJB dan diberi uang Rp 700 ribu.Kata warga,disuruh tandatangan dengan cara paksa. Bahkan ada warga yang disuruh tandatangan AJB palsu.

“Awalnya saya tidak mau tandatangan. Namun pak RT datang dan menyuruhnya. Terpaksa saya tandatangan,”ujar salah seorang warga.

Berselang beberapa lama,kata warga,merasa curiga. Karena banyak orang datang ke kampung mereka mengaku pemilik tanah.Dace salah seorang pemilik tanah yang diserobot kroni RY,Ade Yasin menceritakan kejadian ini tahun 2013-2014. Menurut Dace,waktu itu,bersama warga lainnya ingin menjual tanahnya yang turun temuran. Namun saat mau urus surat jual beli tidak bisa.

“Karena tanah tersebut sudah atas nama orang lain,”kata Dace. Akhirnya warga penasaran dan menelusuri. Hasilnya diketahui kasus ini berawal dari Rudi Wahab selaku kuasa lahan PT Bank Putra Surya Perkasa (PSP) yang ingin mendirikan Pondok Pesantren diduga memberikan kompensasi tanah sekitar 100 hektar atas perizinan tersebut.

“Permasalahan adalah RY dan para kroninya ingin menjual tanah tersebut kepada Mamiek Soeharto atas kompensasi dari Rudi. Dengan hibah sangat besar yaitu 100 hektar. Begitu juga yang kemudian AJB palsu terbit dan munculnya sertifikat atas nama RY,AY,LZM,RF,D. Parahnya bukan hanya tanah palsu PT PSP yang digelapkan,tanah warga pun diserobot oleh kroni- kroni tersebut,”ungkap Dace.

Menurut Dace tahun 2014 dan pemilik tanah lainnya berjuang untuk mempertahankan tanah mereka.”Dulu sempat ingin dibayar murah Rp 40 ribu/meter. Sementara kami menggantungkan hidup ditanah kami. Kami tidak rela tanah kami dirampas. Tanah sekarang harganya Rp 500 ribu,” tegas Dace.

Warga Singasari dilanda ketakutan. Kini minta perlindungan hukum kepada pengacara Supasmo. Kasus ini pun mendapat perhatian dari tokoh pemerhati masalah sosial M Idris Hadi. “Aparat hukum harus memproses pihak-pihak yang terlibat dan wajib menuntaskannya. Ini adalah perampokan berencana dan sangat keji,”ungkapnya.  (Red)

loading...