PB- Agrobisnis, Suka makanan-makanan instan? Atau yogurt kekinian yang sekarang gerainya menjamur di mal-mal? Mungkinkah petani atau peternak menyuplai langsung keperluan industri-industri itu? “Hampir pasti tidak.” Itu kata Ketua Dewan Pakar DPP Asprindo Mukhlis Bahrainy, pemilik grup Pachira. Sebuah induk perusahaan bidang industri antara agro. “Industri makanan memerlukan bahan-bahan siap olah. Bukan mengolahnya sendiri dari produk pertanian.”

Ya, menjual bahan-bahan siap olah buat industri makanan. Pada dasarnya itulah bisnis industri antara agro. Itu pulalah yang ditekuni oleh Mukhlis Bahrainy ketua dewan pakar Asprindo dalam meramu ‘food ingrediensts’. Hal yang semula tak dibayangkan oleh Anak Medan cicit ulama besar Syekh Rokan di Deli ini. Pada mulanya ia hanya ingin kuliah di Bogor. Ia dikenal berprestasi di SMA-nya. Lalu datang undangan buat kuliah di IPB. Di tahun 1982 itu. Maka bergabunglah Mukhlis kesana.

Lulus IPB niatnya sederhana juga. Cari kerja. Apa saja. Walaupun dia punya modal bagus. Dia alumnus jurusan prestisius: Teknik Industri Pertanian (TIN). Jurusan yang mengantarkan teman-temannya dapat bekerja di korporasi-korporasi besar. “Saya hanya dapat kerja di perusahaan kecil,” katanya. Sebuah perusahaan yang baru berdiri. Membuat perasa makanan buat pasar ekspor.

Mukhlis menjadi tenaga ahli di situ. Yang tepat sebenarnya adalah menjadi asisten pemimpin sekaligus pemilik perusahaan itu. Siang malam waktunya di lab. Terus berupaya kembangkan produk-produk baru yang mungkin bakal laku di pasar. Pimpinannya, seorang Belanda alumnus Teknik Kimia, membimbingnya secara detil teknis produksi. Itu yang membuat Mukhlis menguasai aspek produksi secara menyeluruh.

Penguasaan Mukhlis pada bahan-bahan industri makanan itu tercium pihak lain. Dia ditawari pindah kerja ke perusahaan distribusi, Dos Ni Roha. Perusahaan yang banyak menangani pemasaran produk-produk farmasi. Mukhlis diminta menangani divisi pemasaran bahan industri pangan. Ada satu merek besar dunia yang dipegangnya. Yakni Pfizer.

Di sinilah penguasaan pemasaran Mukhlis ditempa. Sebagai penanggung jawab pemasaran produk Pfizer se-Indonesia, ia harus mengikuti standar kerja perusahaan multi nasional ini. Setiap tiga bulan sekali dia harus ikut pertemuan tim pemasaran se-Asia Pasifik. Tempatnya diputar antar negara. “Saya harus membuat laporan dan mempresentasikannya sesuai standar Pfizer,” katanya. Lalu mengikuti pelatihan-pelatihan manajemen pemasaran Pfizer pula.

Itu pengalaman yang sangat disyukurinya. Pengalaman yang membuatnya kokoh dalam industri intermediate atau industri antara agro. Sebelumnya, ia sudah sangat menguasai aspek produksinya. Kemudian mendapat kesempatan pula mendalami pemasaran dengan standar dunia. Kesempatan yang tak banyak dimiliki oleh orang lainnya. Tinggal menunggu momentum buat mengaktualisasikannya sendiri.

Akhirnya momentum itu tiba. Krisis moneter 1997 menjadi momentumnya. Saat itu, banyak produsen makanan olehan kelimpungan. Mereka harus menanggung gejolak nilai tukar uang. Banyak yang gulung tikar. Yang mampu bertahan oleh gempuran moneter juga masih harus menanggung akibat lain. Banyak pasokan bahan baku dari luar negeri terhenti. Selain volume tampung di Indonesia menyusut, mereka juga tak percaya pada kemampuan perusahaan-perusahaan Indonesia.

“Krisis justru merupakan kesempatan besar.“ Itu ungkapan lama dalam bisnis. “Menyalip itu di tikungan, bukan di trek lurus.” Itu ungkapan dunia balap, sebagai penanda seberapa jago dalam membalap. Itu yang dilakukan Mukhlis. Ia segera kontak jejaringnya di luar. Menanyakan apakah mungkin memasok berbagai bahan baku industri pangan untuk Indonesia lewat dia. Sambutannya ternyata luar biasa.

Sejumlah produsen asing mempercayainya. Dia tidak harus membuka LC lebih dulu buat dikirim bahannya. Pembayarannya juga bias belakangan. Bahkan dengan termin sesuai kemampuan pembelinya. Sementara itu, banyak pembeli bahkan memberikan uang muka padanya. “Sungguh itu berkah besar buat saya,” kata Mukhlis.

Untuk dapat mengelola itu, Mukhlis keluar dari tempat kerjanya. Katanya, “Saya ingin total di bisnis ini, dan tak mau ada benturan kepentingan (dengan kantornya).” Dengan dua orang rekannya, dia membuat perusahaan sendiri akhir 1997. Tanggal 2 Januari 1998, dia mulai usaha baru itu secara penuh. Padahal, banyak pebisnis lain malah mulai rontok. Dia mengaku percaya diri menjalaninya. Dia menguasai soal produksi, menguasai pula pemasaran.

Krisis Moneter 1998 justru membuat Mukhlis panen besar. Murni sebagai distributor bahan pendukung pangan impor. Itu dinikmatinya selama lima tahun. Dia, antara lain menjadi pemasok utama suatu bahan industri pangan di Indonesia. Setelah itu, pasar berangsur normal. Persaingan menguat. Itu saat untuk mentransformasi usaha. Dalam hal ini, Pachira memilih melangkah ke hulu. Ke produksi. Itu dilakukannya tepat 10 tahun setelah memulai usaha, tahun 2007, dan telah memiliki jaringan pasar yang kuat.

Tak sulit baginya buat melangkah itu. Pachira mengakuisi sebuah Gudang terbengkalai di Tangerang, dan menyulapnya jadi pabrik. Di sinilah dia memproduksi bumbu-bumbu buatan, bahan penstabil, pengawet, hingga perasa. Pada saat yang sama, dia juga kembangkan bengkel kerja (workshop) untuk membuat mesin-mesin untuk pabriknya.

Sulitkah? “Sama sekali tidak. Ilmu yang saya peroleh di kampus dulu, lebih dari cukup buat membuat mesin pengolah pangan,” katanya, sambil tersenyum. Maka permesinan dikembangkannya sendiri, buat mendukung alur produksi yang diinginkannya. Dengan pendekatan terintegrasi itu Pachira berkembang pesat. Dari sebatas distributor menjadi produsen pada industri antara agro.

Pengalaman itu dia tularkan ke berbagai kalangan. Termasuk pada para mahasiswa di Fakultasnya dulu di IPB, setiap tahun. Dia tunjukkan fakta bahwa ilmu yang diajarkan setiap dosen di kampus itu sungguh relevan dengan industri nyata. “Maka, bersungguh-sungguhlah saat kuliah,” katanya. Ilmu-ilmu itu yang disebutnya mengantarkan sukses baginya sekarang.

Perlahan tapi pasti, bisnis industri antara agro Pachira menguat. Walaupun tantangan selalu ada. Seperti harus berpisah kongsi dengan mitra usahanya. Kuat dalam soal produksi, Mukhlis ingin semakin menguatkan hulu. Sedangkan, kawannya justru ingin memperlebar distribusi. Mukhlis pun mengakuisisi seluruh saham Pachira. Mengembangkannya seperti sekarang.

Saat ini Pachira telah memiliki puluhan merek produk, seperti Capsio untuk cabai rekonstruksi, Kaldio untuk kaldu ayam dan daging, Stabifil sebagai pasta isian roti, Caramelo untuk aroma dan perasa karamel, dan banyak lain. Perusahaannya juga sudah beranak pinak. Workshop yang dikembangkan 10 tahun silam, juga sudah menjadi perusahaan sendiri.

Oremco namanya. Perusahaan spesialis pembuat mesin-mesin pengolahan pangan maupun farmasi. “Ambil contoh produk pangan apa saja dari toko, bawa kemari, kami siap membuatkan sistem produksinya,” kata Mukhlis, membanggakan perusahaan ini. Perusahaan yang paling merepresentasikan dirinya sebagai alumnus jurusan TIN.

Kini Pachira memiliki lebih dari 400 perusahaan pelanggan. Angka yang memastikan bahwa Mukhlis memang serius menekuni ‘food ingredients’ di Indonesia. Industri yang menurutnya harus sangat dikembangkan karena kebutuhannya memang sangat besar. Industri pangan di Indonesia, menurutnya sudah sangat berkembang. Sayangnya, kebutuhan untuk industri antaranya masih sangat bergantung pada asing. Belum mampu dipenuhi oleh anak bangsa sendiri.

Menurutnya, sangat baik bila para petani Indonesia dapat diberdayakan. Tentu buat masuk ke industri antara agro ini. Hal yang disebutnya sama sekali tidak sulit. “Prinsipnya hanya tampung dan olah kelebihan hasil panen, lalu jual saat bukan musimnya,” katanya. Yang terpenting adalah untuk tekun mendampingi para petani itu maju. Itu yang akan membuat industri agro nasional dapat melaju pesat.

Itu keyakinan Mukhlis yang sudah dua dasawarsa menekuni industri antara agro. Yang tidak khawatir, dan bahkan ringan hati, berbagi ilmunya. Hal yang semestinya karena Mukhlis Bahrainy memang sesorang teknopreneur ‘food ingredients’ sesungguhnya.(Red)

Reza, baca sumber : Agronet (312)

loading...