PB JAKARTA – Keterpurukan dalam bidang ekonomi yang tengah melanda Indonesia saat ini mendapat perhatian dari pakar ekonom Indonesia serta sejumlah Insinyur di tanah air.

Berangkat pada upaya peningkatan integrasi yang komprehensif dari seluruh pemangku kepentingan (stake holder) industri dan ekonomi dan semua organisasi profesi yang peduli dengan kebangkitan kembali industri Indonesia sebagai pendukung stabilitas perekonomian Indonesia, Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia (ISTMI) ‎menggelar diskusi bertajuk “Merespon Keterpurukan Ekonomi/Industri Nasional Pada Saat Ini”. Hadir dalam diskusi yang berlangsung di bilangan Jakarta Selatan, Minggu (22/7) ini antara lain ; Pakar Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri, Ketum ISTMI, Faizal Safa‎, Dewan Pakar BKTI-PII, Marthias Thaib, Ketum ISEI, Marzuki Usman dan Roosdinal Salim selaku Ketua Komtap KADIN Bidang LHK.

Dalam paparannya, Faizal mengatakan bahwa tujuan utama diskusi tersebut mampu memicu semangat membangun industri di Indonesia dengan melibatkan berbagai pelaku pengusaha nasional yang nantinya diharapkan bisa memberikan tambahan dorongan kemandirian industri manufaktur yang terbaik untuk kemajuan perekonomian di Indonesia.

Dirinya mengatakan, ‎tantangan Industri di tanah air saat ini adalah kurangnya penekanan terhadap efisiensi dan inovasi. “Di beberapa Industri di tanah air, kita memerlukan banyak inovasi di aspek industri hilirnya guna membuat industri tersebut lebih memiliki utilisasi yang optimal, efisiensi sehingga mencapai hasil yang optimal,” kata Faizal kepada pembawaberita.com.

Menurutnya, diperlukan pula usaha-usaha perbaikan struktur pasar di semua lini industri dengan lebih baik, sehingga proses pembentukan harga pun akan lebih stabil, fair dan sesuai antara supply and demand.

Foto istimewa (c) ngobrol santai ngupy bareng

Sementara itu, pakar ekonom UI, Faisal Basri menegaskan bahwa terpuruknya nilai tukar rupiah dikarenakan industri di tanah air terus melemah, dan pelemahan rupiah tak hanya akibat faktor eksternal perekonomian global. “Pelemahan mata uang kita karena industri nasional yang lemah,” kata Faisal.

“Karena banyak perusahaan asing yang tak lagi masuk ke industri manufaktur dalam negeri berbasis ekspor. Ini yang kemudian menyebabkan repatriasi profit perusahaan asing menjadi sangat besar,” sambung Faisal.

Lebih lanjut dia mengatakan, repatriasi profit perusahaan asing luar biasa besar berdasarkan data Bank Indonesia (BI). Current account deficit kita USD 17 miliar, barang masih surplus USD 27 miliar, tapi defisit repatriasi dan bayar bunga itu USD 33 miliar karena asing yang di Indonesia itu tidak lagi di industri manufaktur yang berorientasi ekspor.

“Jadi melemahnya rupiah ya karena industrinya semakin melemah,” ‎katanya lagi

Faisal mengungkapkan, industri yang berorientasi ekspor saat ini yang masih dapat dikembangkan adalah industri otomotif, baik mobil ataupun sepeda motor.

“Pertumbuhan sepeda motor Januari hingga Mei ini 250 unit. Yang biasanya pertumbuhannya minus selama tiga tahun berturut-turut, tapi ini tumbuh 13,1 persen. Ini kan bisa jadi contoh untuk yang lain,” jelas mantan cagub DKI ini.‎ (Beby Siahaya)‎

loading...