PB LOMBOK  – Keramaian para wisatawan menjadi pemandangan sehari-hari Gili Trawangan sebagai salah satu destinasi wisata populer di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).‎ Bahkan suasana indah tersebut pernah dirasakan oleh tim pembawaberita.com saat berkunjung ke Gili Trawangan, sesaat lalu.

Perjalanan menuju ke pulau Gili Trawangan saat itu menyimpan kenangan tersendiri sambil terbayang indahnya alam di lokasi yang menjadi saingan dari wisata di pulau Bali tersebut.

Menumpang speed boat berukuran jumbo dengan jumlah penumpang sekali jalan mencapai 50-an orang, pesona gugusan Gili yang ada di pulau Lombok yang kami lintasi pun nampak tak kalah indah dengan Gili Trawangan. Kekaguman alam akan karya Sang Pencipta di wilayah tersebut sungguh mempesona.

Namun, pascagempa 7,0 SR akhir pekan lalu, keramaian turis di pulau yang daya tariknya populer hingga mancanegara tersebut menjadi sirna.

Sejumlah toko, restoran, penginapan, dan rumah banyak yang rusak berat, sementara warga dan pelancong sudah seluruhnya meninggalkan pulau. Sebanyak 8.381 wisatawan baik domestik maupun asing telah dievakuasi dari Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air.

Kini Gili Trawangan pun menjadi sepi menyisakan sebagian kecil warga dan penjaga. Dan itu terjadi pada bulan Agustus yang dikenal sebagai musim liburan.

Menurut kesaksian warga Lombok yang kerap memandu turis ke Gili Trawangan mengatakan pada puncak musim liburan, berjalan kaki saja bisa macet karena padatnya orang di pulau tersebut.

Setelah hampir seluruh turis dievakuasi, kini Gili Trawangan berubah seolah menjadi pulau mati.

Sepeda yang biasa disewakan bagi para turis dibiarkan tergeletak begitu saja di jalan-jalan. Puing-puing bangunan yang ambruk akibat gempa pun masih berserakan tak karuan.

Kerusakan di sana-sini, dan sejumlah gempa susulan tak membuat beberapa WNA yang bekerja di Gili Trawangan terpikir untuk meninggalkan pulau.

“Yah waktu itu banyak yang lari ke pantai dan keluar pulau, tapi menurut saya sama saja” ucap seorang WNA, seperti dikutip pembawaberita.com, Kamis (9/8/2018).

Seorang WNA lainya berkata, saat gempa menghantam Lombok orang-orang hanya panik saja ketika memutuskan segera pergi dari pulau. WNA tersebut menilai lebih baik tetap bertahan di pulau sembari memperbaiki propertinya ketimbang pergi ke tempat lain yang potensi bahayanya tak jauh berbeda.

“Mereka panik karena gempa dan peringatan tsunami itu. Padahal, itu tidak ada,” ungkapnya.

Peringatan tsunami memang sempat diterbitkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ketika gempa berskala 7,0 skala richter terjadi Minggu (5/8/2018) malam. Peringatan itu hanya berlangsung beberapa saat saja, namun warga pulau Lombok dan sekitarnya terlanjur panik.

Mereka yang berada di Gili Trawangan ketika gempa terjadi pun berhamburan lari ke bukit. Setelahnya, saat proses evakuasi mulai dilakukan mereka pun tumplek ke pantai berebut ingin didahulukan menyeberang ke pulau utama.

Pemerintah daerah NTB belum bisa mentaksir berapa kerugian di Gili Trawangan. Namun secara keseluruhan, pemerintah memprediksi kerugian materiil akibat gempa di Lombok ini mencapai Rp1 triliun.

Namun, melihat upaya segelintir warga di Gili Trawangan yang sedikit demi sedikit mulai bangkit dari bencana ini menunjukkan ada optimisme untuk segera mengembalikan Gili Trawangan kembali jadi primadona Lombok. (Beby‎ Siahaya)

loading...