PB JAKARTA  – Rumah pegiat media sosial (medsos), Shafiq Pontoh di bilangan Jakarta Selatan digeruduk kelompok pemuda asal Ambon Maluku, Rabu (22/8/2018) siang.

Para pemuda asal kota Ambon yang bermukim di Ibu kota ini merasa tersinggung atas pernyataan Shafiq Pontoh. Tak hanya itu pernyataan Shafiq yang ditayangkan di sebuah acara di Kompas TV, Selasa (21/8/2018) malam bahkan menuai banyak kecaman para netizen di kota Ambon. Hal tersebut dipicu lantaran Shafiq menyebut orang muda Ambon tidak melek media sesuai temuan surveinya.

‎Selain itu dia juga mengatakan hanya sedikit anak muda Ambon memiliki akun media sosial alias medsos.

“Waktu saya di Ambon, jelas-jelas anak muda semua. Saya tanya ada yang pake Facebook enggak? Cekikan semua, itu ma bapak saya yang pakai, bahasa kasarnya seperti itu. Ada yang pakai Twitter enggak, angkat tangan? Itu celingukan, seperti menanyakan itu benda apa?, kata Shafiq saat menjadi narasumber di program Ngopi di Kompas Tv‎.

“Lalu saya tanya Instagram, sedikit yang angkat tangan. Oh saya tanya lagi mungkin Line, tidak juga. Oh ternyata banyak yang pakai Blackberry Messenger.”

Kecaman terhadap Shafiq juga keluar dari wartawan kantor berita Antara kota Ambon, Zairin Salampessy. Zairin yang biasa disapa Embong ini malah mempertanyakan validitas pernyataan Shafiq. Pasalnya kata dia, anak-anak muda di Ambon justru aktif menggunakan medsos, selain sebagai eksistensi diri, medsos juga sebagai medium untuk menyebarkan hal-hal positif dan menangkal informasi bohong.

“Asal Bung Shafiq Pontoh tahu, anak-anak muda di Ambon bergerak justru dengan mengandalkan medsos. Bahkan karena kiprah teman-teman komunitas muda Ambon lewat medsos jugalah membuat Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pada tahun 2015 datang dan ngobrol-ngobrol dengan mereka di rumah bersama komunitas anak muda Ambon, yakni Paparisa Ambon Bergerak,” papar Embong.

“Dan asal bung tahu juga, anak-anak muda di kota ini tercatat pernah mencatatkan diri dalam sejarah berkiprah lewat medsos, karena pernah melawan pemberitaan media arus utama lewat Twitter ketika tahun 2011 Ambon mau ‘digoyang’ lagi, agar terpuruk dalam konflik horizontal,” ungkapnya.

Embong meminta Shadiq Pontoh mengklarifikasi pernyataannya secara resmi. Menurut dia, pernyataan yang disambut gelak tawa narasumber pada acara tersebut tidak berdasar pada fakta dan seolah-olah menggambarkan keterbelakangan anak-anak muda Ambon dalam penggunaan media sosial.

“Jika anda tidak pernah tahu itu, saya meragukan kepakaran anda. Tapi sepertinya bung harus mengklarifikasi, anak muda Ambon sebelah mana yang menjadi responden survei anda di akhir tahun 2017 itu,” ucap Embong.

Tak hanya Embong, pegiat media sosial Syaikhan Azzuhry Rumra juga menyampaikan kekesalannya. Rumra menjelaskan, pada 2017 lalu saat pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon, dia merupakan admin media sosial Facebook, Instagram, dan Twitter dari salah satu pasangan calon.

Berdasarkan data yang dimiliki, kata Rumra, setiap posting-an yang diunggahnya itu ditanggapi lebih dari seribu orang. Dari jumlah tersebut, lanjutnya, lebih dari 50 persennya adalah anak muda.

“Di Instagram bahkan melebihi ekspektasi kami. Di Ambon anak remaja dan anak muda, lebih banyak mengekspose aktivitas mereka di Instagram yang notabene lebih baru dari Twitter dan Facebook. Bahkan, banyak anak muda meng-endorse pasangan calon kami di Instagram. Kalau Twitter kami akui tidak terlalu banyak. Tapi anda salah jika menyebutkan anak muda Ambon tidak tahu apa itu Twitter,” tulis Rumra.

Dia menambahkan, BlackBerry Messenger di Ambon malah sudah ditinggalkan anak muda pasca-kecepatan mengirim pesan melalui WhatsApp booming sejak 2015-2016 lalu. “Jadi sekali lagi anda duduk dengan anak muda siapa?” tegasnya.

Sementara itu, Marvin Laurens dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Ambon berpendapat Shadiq Pontoh memang pegiat media sosial asal Bandung. Shafiq pernah ke Ambon untuk acara pesta pendidikan.

Marvin menyayangkan ketika Shidiq bicara tanpa data. Mestinya, Shadiq menjelaskan secara rinci perkembangan pengguna media sosial berdasarkan platform di Ambon.

“Terkait platform social media untuk pengguna di Ambon, Maluku, itu perlu katong lihat kembali teknologi internet nich masuk ke Ambon kapan? Dan penyebaran platform social media yang dia bilang di Ambon itu booming kapan? Kalau uraikan juga panjang. Intinya dia bicara tanpa data,” ujar Marvin.

‎Diperoleh informasi, saat digeruduk kelompok pemuda Ambon, rumah Shafiq di jalan Dempo 1 Jakarta Selatan dikabarkan kosong. Shafiq dikabarkan pergi meninggalkan kediamannya tersebut. (Beby Hendry)

loading...