PB, Kendari — Kasubdit 3 Ditreskrimum Polda Sultra Kompol Robby T Manusiwa menegaskan secara profesional pihaknya menangani kasus yang dilaporkan Dirut PT Prima Duta Internasional (PDI) Mardin Nurdin.
“Kami menindaklanjuti laporannya sebagai mana yang dilaporkan oleh pelapor dalam hal ini Mardin Nurdin dengan terlapornya H. Harun,” ujar Robby di hadapan wartawan saat konferensi pers di Kendari, Ahad (27/1).
Bahkan Robby menuturkan bahwa dalam proses itu pihaknya telah mendatangi TKP dan memeriksa pelapor dan saksi-saksi yang mengetahui kasus tersebut.
“Namun kami belum menemukan bukti-bukti kuat bahwa pelapor (Mardin Nurdin red) memiliki ore nikel sebanyak 40.000 M³.
“Kami tetap mencari bukti-bukti lain yang menguatkan kepemilikan pelapor,” ujarnya lagi.
Dia menyebutkan bahwa bukti yang diserahkan oleh pelapor adalah bukti kerja sama (Join Operasional/JO) antara PT Dharma Rosadi Internasional (DRI) dan PT PDI yakni bukti bahwa pelapor melakukan pengolahan ore nikel di lokasi IUP PT DRI.
“Sedangkan bukti nota angkutan dari PT DRI ke PT Akar Mas, kami belum menemukan itu, kami belum menemukan bahwa barang bukti orenya sebanyak 40.000 M³,” jelasnya.
Robby juga membantah telah menerima jaminan dana sebesar 570 juta sehingga dirinya memberangkatkan kapal yang mengangkut ore nikel yang disengketakan.
“Yang ada itu PT Akar Mas telah membeli ore dari Pak Mardin Nurdin sebanyak 1,8 M  tahun 2013 lalu dan stock filenya itu ada di Akar Mas sejak tahun 2013,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa untuk melengkapi berkas kasus tersebut, pihaknya telah mengagendakan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Direktur PT Akar Mas, Direktur PT Toshida dan JM yang merupakan perantara/broker dalam jual beli ore itu.
Dia berharap agar semua pihak dapat memberikan waktu terhadap pihaknya sehingga menyelesaikan kasus tersebut.
“Biarlah kita bekerja dulu, kita tidak usah mengandai-andai, menduga-nduga, saya penyidik bekerja sesuai fakta,” tegasnya.
Sebagimana diberitakan sebelumnya bahwa profesionalisme oknum penyidik Subdit 3 Krimum Polda Sultra dalam menangani kasus pencurian ore dipertanyakan.
Pernyataan itu dilontarkan oleh Direktur Utama PT DDI Mardin Nurdin karena  kasus pencurian ore miliknya yang melibatkan Dirut PT Akar Mas H. Harun Basnapal terkesan tidak diselesaikan secara profesional.
Ketidak profesionalan itu kata dia tercermin saat pihak penyidik Polda Sultra terkesan membiarkan Kapal MV Silvia Ambition untuk berlayar meskipun di atas kapal bebendera Hongkong tersebut terdapat ore yang sedang disengketakan.
Akibat dari ketidakprofesional oknum penyidik tersebut, pihaknya menderita kerugian hingga mencapai 10,5 Milyar Rupiah.
(Tim)
loading...