PB, Jakarta — Mantan Menko Maritim, Rizal Ramli membeberkan sejumlah strategi untuk membuat Indonesia menjadi eksportir beberapa komoditas pokok seperti gula, beras, dan jagung sehingga lepas dari status importir.
Menurut RR, strategi pertama adalah membuka satu juta lahan untuk areal pertanian baru.
“Mau tidak mau kita harus buka 1 juta hektar sawah baru. Tapi jangan terlalu berpetualang, bereksperimen seperti sawah pasang surut zaman Pak Harto 1 juta. Itu di Kalimantan gagal karena kualitas airnya beda,” kata dia, di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta, Selasa (29/1) kemarin.
Lanjutnya, sawah baru dengan total 1 juta hektare tersebut, dapat dibuka di sejumlah daerah seperti Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Memberamo, dan Bangka.
“Kenapa dipilih karena satu daerah datar, airnya banyak, matahari bagus. Kita bisa bikin dalam waktu kurang dari 5 tahun,” ujarnya lagi.
Dengan demikian kata Ketua Dewan Pembina Asprindo itu, akan ada penambahan produksi beras hingga 5 juta ton setiap tahun.
“Akan ada tambahan produksi beras 5 juta ton setiap tahun. Kita kalau lagi cuaca panas sekali kita kurang 2 juta ton. Sekarang kita jaga 2 juta ton atau 2,5 juta sudah cukup,” jelasnya.
Selanjutnya menurut RR,  kelebihan 2,5 juta ton tersebut dikreditkan ke negara-negara yang perlu bantuan utamanya di negara-negara Afrika, Asia.
Dengan demikian jelas RR, Indonesia akan berubah dari importir beras menjadi eksportir beras dalam waktu lima tahun.
Selain itu menurut dia, juga perlu dibangun 0,5 juta hektare ladang gula baru dengan kualitas bibit unggul dengan produktivitas 2 kali lipat dari bibit yang ada sekarang.
Kata dia, perkebunan tersebut akan berkonsep terpadu atau integrated farming.
“Perkebunan gula kita tidak hasilnya hanya gula. Bongkahannya bisa diproses jadi etanol dan lain-lain, ternyata penghasilan petani dari yang lain-lain itu bisa lebih tinggi dari pendapatan jual gula. Jadi harus ada integrated farming,” terangnya.
“Gula aren bagus. Buat tanah sangat bagus dia simpan air. Gulanya juga mengurangi diabetes. Nanti kita bikin kebun gula-gula aren di luar Jawa,” imbuhnya.
Sementara itu, menurut dia, untuk meningkatkan produksi jagung, diperlukan perluasan lahan tambahan sebanyak 1 juta hektare ladang jagung baru yang tentunya dapat memenuhi kebutuhan jagung domestik.
“Mau tidak mau kita juga harus tanam 1 juta hektare jagung lagi supaya kita jadi penghasil untuk makanan ternak. Supaya harga ayam kita stabil. Bayangkan lapangan kerja yang dapat dihasilkan. 1 juta sawah baru, 0,5 juta hektare kebun tebu. 1 juta hektare jagung. Rakyat kita akan banyak pekerjaan,” terang mantan Menko Karitiman itu.
“Kami ingin 2019-2024 kita mencapai kedaulatan pangan. Karena itu kita butuh presiden yang modalnya bukan hanya slogan. Yang modalnya bukan hanya kampanye kedaulatan pangan tapi sungguh-sungguh menciptakan kedaulatan pangan,” pungkasnya.
(Redaksi)
loading...