PB, Jakarta — Duduk di samping Capres JKW, K.H.Maemon Zubair kemaren Jumat 1 Februari 2019 di pesantrennya Sarang Jateng  berdoa: “Semoga Prabowo jadi presiden.”

Doa yang sama juga pernah dipanjatkan ulama sepuh Jawa Tengah ini saat Prabowo sowan kepada beliau, akhir September 2018 (29/9). Saya sendiri hadir menyaksikan pada saat itu bagaimana doa yang begitu panjang dipanjatkan Mbak Maimun agar Pak Prabowo dijadikan Allah Presiden RI priode 2019 sd 2024.

Kembali  pada peristiwa kemaren saat Mbah Maimun berdoa utk Presiden Prabowo dan setelah ditutup dengan doa sapu jagat yang disambut azan, Romahurmuzy (Rommy) bergegas mendekat. Kelihatan gugup. Rommy menghampiri Sang Kiyai dan minta sesepuh PPP ini berdoa untuk Jokowi. Ralat doa, mungkin itu maksudnya. Sayangnya, mic mati. Rommy makin gugup. Otak-atik mic. Saat mic hidup, suara Mbah Moen, panggilan akrab K.H. Maemoen Zubair ini menyebut lagi nama Prabowo. Bahkan dua kali. Baru kemudian nama JKW, setelah ada yang berbisik.

Malam harinya, doa Mbah Moen viral. Di medsos ramai polemik. Apakah Mbah Moen salah ucap? Atau sengaja? Banyak ahli ta’wil bermunculan. Menerka-nerka apa maksud Mbah Moen. Padahal, mereka belum begitu mengenal sosok Mbah Moen, tapi berani buat ta’wil.

Sembrono! Di kalangan santripun juga terjadi debat dan multi tafsir. Terutama antara pendukung Paslon 01 dan paslon 02.

Ta’wil dan tafsir siapa yang benar, perlu diuji. Cara mengujinya, pertama, apakah Mbah Moen selama ini sering salah ucap? Pengakuan sejumlah santri, Mbah Moen itu punya daya ingat yang kuat, cermat dan detil. Kecil kemungkinan jika beliau salah ucap. Apalagi ini masalah serius, penting dan sensitif. Kedua, apakah Mbah Moen selama ini sering ketemu Prabowo sehingga nama Prabowo yang terucap? Di tahun pilpres ini, Mbah Moen hanya sekali jumpa Prabowo. 29 September 2018. Sebaliknya, Mbah Moen berulangkali jumpa Jokowi. Ada yang menduga, ini alam bawah sadar. Di hati Mbah Moen hanya ada Prabowo, bukan Jokowi.
Santri bilang: ini adalah qadarullah. Itu suara malaikat. Tangan Allah Penguasa langit dan bumi yang punya skenario.

Doa Mbah Moen untuk Prabowo ini kali kedua. Kali pertama di akhir September. Saat itu, doa Mbah Moen: Prabowo jadi presiden, cukup panjang. Tegas dan jelas. Hanya saja, tidak seheboh sekarang. Dan memang, doa gak perlu dihebohkan. Doa hanya butuh dijabah.

Doa yang kedua ini agak heboh. Karena doa Prabowo jadi presiden dipanjatkan Mbah Moen di samping Jokowi. Alam bawah sadar! Begitulah kira-kira cara mudah untuk memahaminya.

Apakah berarti Mbah Moen dukung Prabowo? Doa itu dukungan. Apalagi dua kali diucapkan. Dalam konteks ini, beliau konsisten dengan apa yang pernah beliau ucapakan jauh sebelumnya: mendoakan Prabowo jadi presiden.

Doa yang kedua ini petunjuk bahwa di hati Mbah Moen hanya ada Prabowo. Indikator lain bahwa di hati Mbah Moen ada Prabowo diantaranya adalah pemasangan Baliho besar, tak jauh dari panggung acara Jokowi kemarin. Gambar itu memuat foto-foto sejumlah putra dan keponakan Mbah Moen. Ada K.H. Najih Maemoen, K.H. Ahmad Wafi, K.H. Ahdal Abdurrahim, dan yang lain. Indikator berikutnya adalah salam dua jari para santri ketika mobil yang dinaikin Jokowi tiba di Sarang. Santri berdesakan angkat dua jari persis di depan dan samping mobil jokowi. memang, agak dramatis. Uji nyali, kata Hersubeno Arief. Nalar sehat bertanya: apakah ada putra-putri dan santri yang berani berseberangan dengan Mbah Moen? Beranikah mereka memasang baliho tanpa ridho dan seijin Mbah Moen? Jawabnya, tidak!

Mbah Moen salam satu jari. Betul! Para santri tahu siapa yang mengkondisikan itu. Rommy sekarang kena bully, karena dianggap tak sopan bersikap di depan Mbah Moen. Over acting. Santri bilang, Rommy tak punya adab terhadap kiyai. Menabrak norma dan pakem pesantren. Terkesan “memaksa” kiyai sebagaimana tampak dalam video yang viral.

Apapun ta’wil dan tafsir yang riuh terkait do’a Mbah Moen, Kesan bahwa Prabowo ada di hati dan alam bawah sadar Mbah Moen susah untuk dibantah. Benar kata Tony Rosyid, santrinya Mbah Moen, yang pernah menulis artikel berjudul: Prabowo Istimewa di Mata K.H. Maemoen Zubair (2/10/2018). Karena memang, di hati Mbah Maimun hanya ada Prabowo.

Oleh : Ustadz Sambo

Pengasuh Pesantren HILAL Bogor

loading...