PB, Jakarta — Tokoh Nasional Rizal Ramli menegaskan hingga saat ini dirinya masih belum menentukan dukungan terhadap salah satu pasangan Capres/Cawapres.
Lanjut RR, dirinya menantikan capres yang memiliki konsep ekonomi yang menjanjikan kemajuan Indonesia dengan angka-angka yang masuk akal.
Ekonom senior itu mengaku, tidak ingin gegabah memutuskan dukungan sebelum dirinya mendapat janji terbaik dari Capres Joko Widodo maupun Capres Prabowo Subianto.
“Jangan cepet-cepet dong kita mutusin, jangan cepet-cepet karena kita ingin menunya ini lebih baik untuk rakyat Indonesia. Jadi jangan cuma nawarin menu tahu tempe, tapi menu yang lebih baguslah. Jadi kedua calon presiden kita dorong untuk tawarin menu daging di meja makan, ikan, ayam, pake dessert,” jelas Ketua Dewan Pembina Asprindo itu kepada pembawaberita.com, Sabtu (9/2).
Menurutnya, menu yang lebih baik tersebut adalah Capres yang berani menawarkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen karena dengan angka pertumbuhan tersebut, Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik.
“Kalau hanya 5 persen doang mah enggak cukup. Kalau 8 persen maka upah buruh pasti naik, lapangan kerja jauh lebih banyak, negara lain dulu bisa di atas 10 persen. Kita juga harus bisa,” tegas RR.
Mantan Menko Perekonomian itu menerangkan, angka pertumbuhan 8 persen dapat dicapai bila pemerintah mampu mewujudkan kedaulatan pangan mengingat Indonesia memiliki Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berlimpah.
“Harusnya kita itu eksportir pangan di Asia. Tapi, hari ini kita importir segala macam yang paling gede. Gula paling gede di dunia, beras, jagung, segala macam paling besar di dunia,” uajr lagi.
Menurut mantan Menko Kemaritiman ini  kondisi tersebut tidak terlepas dari kebijakan Presiden Jokowi yang tidak konsisten mengsinkronkan tujuan dengan strategi, kebijakan, dan personalnya yang mengakibatkan impor pangan ugal-ugalan.
“Istilahnya tujuannya ke kanan supaya kita berdaulat pangan, tapi kebijakannya impor ugal-ugalan yang merugikan petani dan sebagainya. Sehingga, terjadilah impor kita tinggi sekali,” pungkasnya.
(Redaksi)
loading...