PB, Jakarta — Tokoh Nasional Fahri Hamzah menegaskan, kata “Kafir” itu istilah dalam kitab Suci dan merupakan wahyu Ilahi sehingga tidak bisa diamandemen.
“Gak bisa diamandemen, itu wahyu Ilahi,” kicau Fahri di akun twitternya, Jum’at (1/3).
Kata dia, tapi jika ada kata kafir dalam konstitusi dan UU, itu dapat diamandemen karena  buatan manusia.
“Katanya kita disuruh jangan campur agama dan politik. Beginian aja gak bisa dicerna,” ujar Fahri lagi.
Fahri juga mengatakan bahwa kata “Kafir” dan padanannya ada di banyak agama.
“Kenapa yang jadi korban hanya agama Islam? Kenapa Alquran yang dipersoalkan?  Susah banget mau jadi orang Islam. Kalau oleh konsep iman agama lain saya disebut kafir ya terima saja. Memang kenapa kalau kafir?” jelas Fahri.
Menurutnya,  kedewasaan berwarganegara dan toleransi itu ditentukan oleh kemampuan untuk mencerna perbedaan konsep dalam iman.
“Ini malah toleransi mau merasuk pada perubahan konsep iman. Lah apa hak kita mengubah konsep iman? Nabi aja gak boleh. Heran saya. Ini kan sederhana,” terangnya.
Dia juga menyangkan kalau terdapat tokoh Islam yang minder dengan konsep iman mereka sendiri.
Sehingga dia berharap ke depan akan lahir generasi yang percaya diri dari pesantren dan sekolah-sekolah agama.
“Sehingga tegaklah agama dan tegaklah negara. Sebab kalau ulama minder maka negara kacau. Ini potret hari ini,” imbuhnya.
Lanjut Fshri, seharusnya warga negara didewasakan untuk menerima konsep iman yang beragam karena toleransi pada perbedaan adalah syarat kewarganegaraan.
“Agama tidak perlu diamandemen sebab ia telah didisain untuk mengelola perbedaan. Kalau Tuhan mau, kita gak bakal beragam,” tegasnya.
Wakil Ketua DPR RI itu menuturkan bahwa Tuhan Maha Kuasa bisa saja untuk menyeragamkan manusia sejak DNA sampai pada pilihan Iman tetapi Dia yang maha kuasa tidak mau agar manusia berlomba mengejar kebaikan.
“Sekarang, ayo berbuat baik. Ayo berbuat baik untuk bangsa. Ayo berdialog sebagai warga negara. Itu saja,” harapnya.
Dia juga mengingatkan agar tidak ada lagi majelis duduk untuk saling merevisi iman.
“Itu sakit jiwa namanya. Santai aja, mari kita berlomba menemukan cara untuk saling menikmati perbedaan. Masa menerima “Kafir” aja gak sanggup? Ya ampun. Dewasalah bangsaku,” pungkas Politisi kelahiran NTB itu.
(Redaksi)
loading...