PB, Jakarta – Berbagai kalangan meragukan hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang melambungkan elektabilitas Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin dibandingkan elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pasalnya, elektabilitas lawan petahana dinilai menanjak, sehingga survei LSI Denny JA yang menyatakan Jokowi-Maruf meraup 52,4 persen suara muslim dianggap suatu hal yang lucu.

Terlebih lagi selama ini stigma Jokowi yang kerap disebut anti-Islam begitu kuat melekat di masyarakat, kendatipun Jokowi menggandeng Maruf Amien sebagai wakilnya namun stigma tersebut tidak serta merta luntur.

”Kami khawatir survei LSI itu penuh rekayasa dan berpihak ke Jokowi, di  kubu Jokowi, sementara  Prabowo terus menanjak elektabilitasnya,  sehingga LSI makin  tak kredibel dan menjadi bahan tertawaan cemooh publik,”kata Deputi Direktur Prabowo Centre, M. Muntasir Alwy sebagaimana dikutip konfrontasi.com, Selasa (5/3).

Alumnus Fisipol UGM itu juga menuding jika hasil survei Deny JA itu tidak masuk akal.

“Mayoritas masyarakat muslim ketika survei dilakukan tidaklah mungkin memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan 52,4 persen. Itu survei ngawur,” tegasnya.

Senada dengan itu Peneliti Indonesian Research Group, F. Reinhard MA. menyebut elektabilitas Prabowo naik daun dan menanjak tajam menyalip Jokowi.

”Kok survei LSI ganjil dan menyesatkan publik? Itu kan survei bayaran dan tak kredibel, sudahlah LSI makin brutal membela Jokowi dan menyudutkan Prabowo, LSI menghalalkan segala cara dalam surveinya,” kata peneliti  F Reinhard MA.

”Dari mana ditemukan bahwa  Prabowo-Sandi di posisi kedua? Itu tak mungkin dan itu survei sesat,” tegasnya.

Diberitakan, Hasil riset terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan, 64,1 persen suara kaum Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan akan mengalir ke kubu 01 Jokowi-Ma’ruf.

“Memasuki Februari 2019, trennya terus naik. Dari sampel 1200 responden, ada 87,8 persen pemilih Islam, dan 52,4 persen menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf. Selanjutnya di Januari 2019 kembali naik menjadi 55,6 persen,” ujar peneliti LSI, Ardian Sopa di kantor LSI Denny JA Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (5/3).

Dalam survei ini, LSI Denny JA membagi menjadi empat ormas Islam yaitu NU, Muhammadiyah, Persaudaraan Alumni 212, dan Front Pembela Islam. Serta ormas Islam lainnya.

Pemilih dari Muhammadiyah yang memilih Jokowi pada Februari 2019 sebesar 33,3 persen, turun cukup drastis dari 42 persen pada Januari 2019.

Sementara itu, pemilih Jokowi-Ma’ruf yang berasosiasi dengan PA 212 terbilang turun drastis. Angkanya dari 33,3 persen pada November 2018, kemudian menjadi 0 persen pada Desember. Kemudian menguat di 28,6 persen di Januari 2019. Serta menyisakan 14,3 persen di Februari.

Sementara, pemilih Jokowi-Ma’ruf dari FPI pun terbilang jeblok. Saat Desember 2018 ada 40,0 persen, bergeser satu bulan turun mejadi 30,0 persen. Dan ditutup dengan 0 persen di Februari 2019.

“Artinya sangat jelas bahwa di pemilih muslim dukungan atas Jokowi-Ma’ruf menurun di berbagai ormas Islam kecuali di NU,” paparnya.

Sementara itu, suara NU kepada Prabowo cenderung menurun dibandingkan ormas Islam lainnya. Yakni sebesar 28,3 persen pada Februari 2019, 33,6 persen pada Januari 2019 dan 33,9 persen pada Desember 2018.

Sedangkan pemilih Muhammadiyah kepada paslon 02 diketahui sebesar 62,2 persen pada Februari 2019. Itu menguat dari 54,0 persen pada Januari, dan 41,5 persen pada Desember 2018.

Pemilih Prabowo-Sandi dari golongan PA 212 malah cenderung naik turun. Jika di Desember 2018 mecapai 100 persen, pada Januari 2019 menjadi 57,1 persen. Dan kembali menguat menjadi 85,7 persen di Februari 2019.

Sedangkan pemilih FPI terbilang solid dengan 100 persen dukungan pada Februari 2019, 70 persen pada Januari 2019, dan 40 persen pada Desember 2018.

Sebagai informasi, survei ini dilakukan pada rentang waktu 18-25 Februari 2019, melibatkan 1.200 responden. Metode yang digunakan yaitu multistage random sampling, dengan wawancara tatap muka. Margin of error survei sebesar 2,9 persen.

(Redaksi/Sumber)

loading...