PB, Batam — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asprindo Provinsi Kepri dan Trading House Incorproted Indonesia Cabang Kepri  bertekad meningkatkan eksport non migas.
Komitmen tejad itu dituangkan dalam sebuah MoU yang ditandatangani oleh Ketua DPW Asprindo Provinsi Kepri Yuhendri dengan Kepala Cabang Trading House Incorporated Indonesia Cabang Kepri Riki Indrakari di Hotel Travellodge Batam, Kamis (14/3).
Ketua DPW Asprindo Provinsi Kepri Yuhendri mengatakan tekad itu merupakan keniscayaan mengingat potensi SDA Provinsi Kepri melimpah.
“Potensi SDA nonmigas kita di kepulauan Kepri  sangat melimpah baik itu berupa SDA kelautan, Pariwisata maupun agrobisnis,” ujar Yuhendri kepada pembawaberita.com, Jum’at (15/3).
Lanjutnya dengan kerjasama tersebut pihaknya dapat mendorong pelaku-pelaku UKM untuk memasarkan potensi unggulan dari SDA non migas yang dimiliki Kepri ke luar negeri.
Senada dengan itu Ketua Umum DPP Asprindo H. Jose Rizal meyakini kerjasama antara dua lembaga tersebut
mampu membuat kebijakan-kebijakan dalam rangka mewujudkan UMKM sebagai lokomotif pembangunan ekonomi nasional Indonesia secara berkelanjutan.

“Melalui trading house ini UKM dapat  memasarkan produk unggulannya di luar negeri karena misi trading house ini adalah menjadi lokomotif bagi UKM dalam menghadapi persaingan global,” jelas Ketua Umum DPP Asprindo.

Lanjut Jose, sesuai misi trading house yang fokus pada seluruh kegiatan mata rantai ekspor dan impor, momentum ini menjadikan pasar luar negeri sebagai sasaran utama dengan mengenalkan produk unggulan UKM ke pasar dunia.

“Melalui trading house maka mata rantai distribusi bahan baku dan barang modal  akan terpangkas sehingga daya saing global produk UKM meningkat,” ujar Jose Rizal lagi.

Kata Jose melalui trading house pelaku UKM tidak perlu lagi melakukan perjalanan ke luar negeri yang membutuhkan biaya mahal hanya untuk mencari pangsa pasar untuk produk unggulannya tersebut karena kehadiran trading house akan mewakili kepentingan UKM dalam upaya promosi dan negosiasi akses pasar.

Ketua Umum Asprindo juga menegaskan melalui trading house akan termanage distribusi bahan baku dan produk ekspor UKM, sehingga produk-produk UKM seperti hasil perikanan, hasil pertanian dan pariwisatamenjadi naik kelas.

Lebih jauh Jose Rizal menuturkan bahwa inisiatif kerjasama dengan trading house tersebut dilatar belakangi karena dalam kurun waktu 8 tahun terakhir nilai ekspor Indonesia terus menurun.

Menurunnya nilai ekspor tersebut menurut Rizal, salah satunya dipicu karena ketiadaan trading house Indonesia yang seyogyanya telah didirikan oleh pemerintah pada saat krisis moneter 1997-1998 lalu.

“Sehingga tidak terdapat lembaga yang mengintermediasi dan menjadi ujung tombak penetrasi produk UKM Indonesia ke pasar global secara sistematis,” terangnya.

Padahal lanjut Jose, salah satu komponen strategis untuk memediasi UKM dengan pasar tujuan ekspor adalah trading house.

“Contohnya Jepang yang saat ini menjadi negara maju telah mendirikan trading house sejak restorasi Meiji abad Ke 18 yang diikuti Korea Selatan pada awal 1960an. Untuk trading house Korea Selatan dikukuhkan dengan Perpres Korea Selatan,” sebut Jose Rizal.

Jose Rizal meyakini melalui kemitraan yang strategis antara DPW Asprindo Kepri  dan Trading House Incorporoted Cabang Kepri dapat meningkatkan geliat eksport Indonesia.

Sementara itu Kepala Cabang Trading House Incorporated Indonesia Cabang Kepri, Riki Indrakari meyakini kemitraan ini mampu meningkatkan kontribusi UMKM terhadap total nilai ekspor non migas pada tahun 2024 dari 20% menjadi 50%.
Menurutnya target itu dapat tercapai dengan membuat langkah strategis berupa penajaman pembangunan UMKM 2020–2024 dengan menyatukan fungsi kebijakan pembangunan UMKM dibawah satu Kementerian, termasuk dalam rangka effisiensi APBN dan effektivitas regulasi agar tidak terjadi overlap.
“Juga menyatukan fungsi operasional aktivitas bisnis UMKM dalam perdagangan internasional dibawah satu atap dalam bentuk Trading House Indonesia dengan peran khusus sebagai commercial intermediaries dalam mempermudah akses UMKM ke pasar global khususnya dalam mencapai target kontribusi UMKM terhadap total ekspor non migas menjadi 50% pada tahun 2024,” ujarnya lagi.
Riki juga menuturkan, penerapan azas ekonomi gotong royong dan pemerataan kesempatan berusaha dalam pembangunan UMKM Indonesia dengan tekanan pada pasar internasional sebagai kebijakan strategis 2020–2024 dapat mengakselerasi target peningkatan eksport non migas.
(Redaksi)
loading...