PB, Denpasar — Ketua Dewan Penasehat Asprindo Provinsi Bali, Evy Fatimah Kurniaty menegaskan warga pribumi harus menjadi pelaku utama pada industri UMKM di Provinsi Bali.

Untuk itu dirinya berkomitmen mendorong Asprindo menjadi fasilitator bagi pelaku UMKM di Bali agar dapat menjadi subyek utama dari semua usaha yang dijalankan oleh pelaku UMKM.

“Asprindo akan siap memfasilitasi pelaku UMKM di Bali dengan semua pemangku kepentingan termasuk pemerintah,” tegas Evy kepada pembawaberita.com, Rabu (20/3).

Ketegasan Ketua Dewan Penasehat Asprindo Provinsi Bali itu bukan tanpa alasan, pasalnya dalam beberapa tahun terakhir, industri UMKM di Bali seakan mati suri karena tidak adanya proteksi industri UMKM oleh pemerintah.

Menurut Evy, akibat dari tidak adanya proteksi itu setidaknya sekira 60 persen pelaku UMKM di Bali stagnan bahkan nyaris gulung tikar.

“Sekira 60 persen industri UMKM kita tidak bisa jalan lagi, ini sangat memprihatinkan,” ujarnya lagi.

Evy mencontohkan bahwa pada sektor Pariwisata saat ini, Bali tidak lagi menjadi ikon wisata berkelas dunia karena longgarnya regulasi yang mengatur wisatawan itu sendiri.

“Saat ini Bali sudah menjadi surga bagi ‘wisatawan kere’ yang kemudian menimbulkan citra negatif bagi kita. Akhirnya di Bali banyak kita temui wisatawan juga nyambi sebagai kurir narkoba dan bahkan jual diri di Bali,” kesal Evy.

Ironisnya kata Evy terdapat juga beberapa usaha kecil dan menengah yang kini dimiliki oleh orang asing.

“Sehingga kita hanya menjadi penonton di negeri kita sendiri,” imbuhnya.

Evy berharap kehadiran Asprindo sebagai fasilitator pelaku UMKM dapat mengantisipasi perilaku wisatawan yang diduga kuat melakukan praktek bisnis ilegal di Bali sebagaimana yang pernah dilakukan oleh wisatawan asal Tiongkok (China).

Sementara itu, Ketua Umum DPP Asprindo H. Jose Rizal, MBA., mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ekspor UMKM Provinsi Bali menurun hingga 85%.

Dia menyebutkan bahwa penurunan produksi ekspor yang cukup besar itu terjadi pada produk garmen sebesar 85%, produk kerajinan turun hingga 50% dan produk kayu olahan sebesar 25,68%.

“Padahal ke 3 produk tersebut merupakan andalan Bali dan selama ini model tersebut diexport dalam jumlah besar ke AS, Eropa, dan Jepang,” ujar Jose Rizal.

Dia juga mengatakan bahwa penurunan ekspor Bali juga berdampak siginifikan dengan produsen dari luar Bali seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang selama ini menjadi mitra dari pelaku UMKM di Bali.

Menurut Jose Rizal, bahwa penurunan tajam dari ekspor Bali dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain ; Cina mampu memproduksi hasil kerajinan Bali dan dijual dengan harga murah, mata rantai distribusi bahan baku dan barang modal tidak efisien sehingga mewujudkan high cost economy dan secara bertahap mulai kehilangan market dan daya saing, belum tersertifikasinya produk-produk makanan dan minuman olahan produk UMKM asal Bali dan akses pengusaha Bali ke pasar tujuan ekspor terputus karena selama ini produk Bali dijual melalui wisatawan yang sekaligus bertindak sebagai eksportir.

Oleh karena itu kata Jose, Asprindo telah menyiapkan langkah antisipatif untuk kendala- kendala tersebut dengan membangun kerja sama dengan Trading House Indonesia Incorporate yang memiliki fungsi menjembatani produk UKM ke pasar global.

“Kami sudah bekerja sama dengan Trading House dan lembaga sertifikasi internasional sehingga produk-produk UMKM kita terjaga kualitasnya,” jelas Jose Rizal.

(Redaksi)

loading...