PB, Jakarta — Di jagat raya di dunia infrastruktur langit alias medsos lagi ramai dengan tayangan dua ulama dari dua kubu yang berbeda. Yang satu dalam acara bincang-bincang dengan Capres 02. Dan yang satu dari kubu 01 dalam bentuk film animasi dengan gaya jagoan bagai si Pitung dalam menghajar musuh-musuhnya.

Tayangan keduanya lagi viral di media sosial. Masing-masing pendukung berusaha mengshare sebanyak-banyaknya dengan berbagai macam komentar dengan bumbu penyedapnya agar orang tertarik masuk bergabung ke kubunya. Mari kita bedah dari kedua tayangan itu sehingga kita bisa mengambil manfaatnya dan di kubu mana kita akan letakkan pilihan kita.

Tayangan pertama adalah Wawancara eksklusif antara Prabowo dan ustadz Abdul Somad (UAS). Setiap orang yang punya hati dan dia sebagai seorang muslim akan bercucuran air matanya bila menyaksikan tayangan itu. Karena terharu menyaksikan ketulusan UAS dalam menasihati Prabowo. Dan Prabowo menyimak dengan serius sambil meneteskan air mata.

Betapa kagumnya kita menyaksikan seorang mantan Jenderal pasukan komando, calon presiden dan umurnya jauh lebih tua dari sang Ustadz mau mendengar wejangan dan nasihat sang Ulama muda sambil menangis. Itu bukan rekayasa apalagi sekedar pencitraan. Dan sang Ustadz tidak sungkan-sungkan mengatakan apa adanya tanpa harus diatur-atur agar sang calon presiden simpatik padanya.

Kata kunci dalam dialog itu adalah “Jika Bapak Terpilih jadi Presiden maka jangan undang saya ke istana. Dan jangan beri jabatan kepada saya. Biarlah saya berdakwah masuk hutan karena itu bidang saya. Oh Subhanallah … Alhamdulillah Allah masih mengirimkan ke bangsa Indonesia ada ulama yang benar-benar ulama seperti UAS. Dikala banyak orang mencari muka ke penguasa agar bisa diundang ke istana … syukur-syukur jadi penghuni istana. Ini ada yang menghindar dari istana.

Ini ulama aneh dan unik. Dikala ulama lain lagi sibuk menjual ayat, hadits, do’a dan sholawatan agar si penguasa makin cinta dan sayang padanya hingga pundi-pundi isi kantongnya makin tebal. Tapi UAS mengambil pilihan sebaliknya. Alhamdulillah anak-anak generasi milenial sekarang bisa mengambil contoh ada ulama yang istiqomah di jalur keulamaannya. Tidak silau dengan jabatan dan harta.

Bandingkan dengan tayangan yang satu. Sang Ulama digambarkan bagaikan seorang jagoan yang siap menghantam musuh-musuhnya yang suka fitnah. Padahal tayangan itu adalah fitnah terbesar karena sang ulama dipersepsikan sebagai orang hebat yang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang besar untuk bangsa ini. Pada kenyataan sebenarnya tidak demikian karena faktor usia yang sudah udzur. Itu kampanye kebohongan paling tidak populer saat ini.

Bukankah sumber utama fitnah itu datangnya dari istana …? Bisakah sang Ulama melawan fitnah yang datangnya dari istana yang dia sendiri lagi memimpi-mimpikan untuk masuk ke dalamnya …? Sungguh sangat beda perilaku kedua ulama itu. Yang satu menghindar bermesrah ria dengan penguasa dan yang satu merindukan bersanding dengan penguasa di dalam istana.

Untung umat masih punya panutan para ulama yang masih istiqomah dan jujur serta amanah di jalan Allah. Tidak tergiur dengan lezatnya kekuasaan dan harta duniawi. Sehingga para generasi milenial yang muslim tidak termakan dan meniru dengan perilaku ulama yang menjadi penjilat penguasa.

Mari kita ikuti seruan para ulama, yang benar-benar istiqomah, dalam memilih pemimpin nasional yakni Prabowo Sandi. Ingin negeri terhindar dari berbagai macam malapetaka, bala’ dan bencana maka ikutilah dan sambutlah seruan para ulama seperti UAS. Tapi kalau mau sebaliknya maka silahkan pilih pemimpin yang tukang ingkar janji dan RAJA HOAX.

Kepada Allah jualah kita serahkan urusan ini. Semoga minggu depan kita sudah punya presiden baru bukan dari kemenangan yang curang. Aaamiiin ya Allah.

Wallahu A’lam …

 

Oleh : MOH. Naufal Dunggio

loading...