PB, Jakarta — Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) Rizal Ramli mengatakan kondisi Bumiputera Indonesia saat ini sangat tertinggal dalam banyak hal terutama dalam bidang ekonomi.

Menurutnya kondisi ini sangat tidak baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kalau dibiarkan gejala ini berlanjut pasti ada kecemburuan di bawah permukaan yang sewaktu-waktu bisa meledak,” ujar RR kepada wartawan usai Acara Deklarasi Dukungan Asprindo kepada Pasangan Capres/Cawapres nomor urut 02 di Restauran Batik Kuring Kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Sabtu (13/4).

Kata RR, pihaknya tidak menghendaki adanya kesenjangan yang berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial.

“Kita kan tidak mau terjadi kita ingin bangsa kita semua masalah kita selesaikan dengan baik-baik. Jangan sampai ada kecemburuan sosial, olehnya itu perlu kita pelajari dari pengalaman bangsa lain,” ujarnya lagi.

Diapun mencontohkan penerapan kebijakan afirmatif di Amerika Serikat yang akhirnya bisa mendudukan seorang Presiden dari golongan kulit hitam yang notabene merupakan golongan minoritas di negeri Paman Sam itu.

“Di Amerika pernah golongan kulit hitam dulu sangat terpinggirkan. Tetapi berkat perjuangan Martin Luther King dan kawan-kawan akhirnya pemerintah Amerika merumuskan kebijakan afirmatif yang memberikan kesempatan lebih besar untuk orang kulit hitam untuk maju di bidang sosial, pendidikan dan ekonomi.  Hari ini Amerika sungguh luar biasa bahkan presidennya saja sudah ada yang kulit hitam,” jelasnya.

Kasus Malaysia lain lagi. Yang mayoritas yang ketinggalan sehingga terjadi kerusuhan di Penang tahun 60an akhir.

Sehingga pemerintah Malaysia tidak mau ada lagi masalah itu.

Selain di Amerika Serikat dan Eropa, Mantan Menko Maritim itu juga mencontohkan Malaysia yang pernah menerpakan kebijakan afirmatif bagi Pribumi Melayu.

Jelas RR, melalui rumusan New Economi Policy di bawah Perdana Menteri Tun Hussin Onn, Bumiputera Malaysia mendapatkan kesempatan lebih besar di segala bidang.

“Hari ini sudah selesai di Malaysia masalah itu (kecemburuan sosial,” jelasnya.

 

(Redaksi)

 

loading...