PB, Jakarta — Ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya dari Debat Capres ke-5 barusan, yaitu :

Pertama, Petahana lagi-lagi lebih banyak berbicara tentang pencapaiannya di periode yang telah lalu, seperti: infrastruktur, infrastruktur lagi, dan lagi-lagi infrastruktur, kemudian kartu-kartu, kartu-kartu lagi, dan lagi-lagi kartu-kartu.

Ini sebenarnya sangat menggelikan, karena sudah debat 3x debat, itu-itu saja yang diulang-ulang. Padahal, debat ini adalah dalam rangka untuk menggali apa yang ada di benak para kandidat tentang visi-misi dan rencana besar mereka di masa depan seandainya mereka terpilih. So it’s not about your past achievements, Sir!

Lebih lucunya lagi, sekalinya berbicara tentang action plan, yang dibicarakan hanya proyek yang sebenarnya berskala mikro. Contohnya sampai sedetil “Mobile Legend”… duuuh, jangan-jangan setelah ESEMKA, terbitlah Mobile Legend. Hadeeeh… tape deeeh!

Well Sir, you are not just a project supervisor!

Sebaliknya, Paslon 02 jelas sekali memiliki visi-misi yang jelas dan action plan yang tajam. Sehingga tinggal dielaborasi menjadi semacam GBHN agar specific – measurable – attainable – relevant – timely (time-bound).

Kedua, Gesture dan Body Language.

Gesture Petahana terlihat sangat tegang. Bahkan ketika duduk menunggu giliran di antara sesi-sesi pemaparan, debat, dan tanya-jawab, kaki Petahana terlihat berkali-kali “tick”, yang mana itu merupakan tanda-tanda ketegangan/stress atau rasa kurang percaya diri.

Begitu juga chemistry dengan running mate-nya, terlihat sangat minim kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali. Running mate-nya seperti hanya menjadi “Obyek Pelengkap Penderita” saja.

Sementara pada Paslon 02, mereka terlihat relax sekali walau terus dalam posisi berdiri. Bahkan Prabowo pada akhir salah satu sesi duluan memberikan “high five” ke Cawapresnya. Pun Sandiaga juga sempat bercanda dengan mengatakan “do you want to test your vice president?”, kemudian pada closing speech mengatakan: “your turn, Bro!” yang disertai dengan ekspresi muka lucu. Betul-betul menyenangkan melihat bond di antara keduanya.

Kemudian saat terakhir, sehabis closing speech yang sangat keren, Prabowo dan Sandi otomatis saling berpelukan dengan hangat. Sementara Petahana harus colek-colek dulu untuk meminta salaman kepada running mate-nya yang sudah membelakanginya. Hadeeeh…

Ketiga, Again and again: Blok Mahakam dan Rokan, serta Freeport.

FYI, Blok Mahakam dan Rokan itu keduanya sudah habis masa KKKSnya dari Total-Inpex dan Chevron. Lalu ketika perusahaan dalam negeri memenangkan KKKSnya melalui tender terbuka, ya tinggal dilihat saja apakah ketika sudah diambil alih performanya lebih baik daripada saat dikelola oleh perusahaan asing? Kemudian bagaimana sumbangannya secara netto terhadap APBN?

Adapun Freeport, ini juga pengambilalihannya dengan jelas dengan utang. Kemudian ketika sudah diambil alih pun ternyata FCX (Freeport-McMoRan) menyatakan bahwa mereka masih menguasai keuntungan FMI sebesar 82% setidaknya sampai dengan tahun 2022 dan pada 2019 ini tidak membagikan deviden. Jadi benarkah adalah suatu keuntungan mengambil alih 51% sahamnya seperti yang digembar-gemborkan itu?

By the way, baik Blok Mahakam dan Rokan serta Freeport, keduanya bukanlah termasuk dari janji kampanye Petahana di 2014 lalu. Yang dijanjikan itu adalah akuisisi kembali Indosat. So, bagaimana kabar Indosat? Kenapa tak pernah dibahas?

Keempat, Petahana Sangat Anti Kritik.

Jelas terlihat bahwa Petahana itu sangat anti kritik. Seakan semua kebijakannya selama ini sudah sempurna dan tinggal meneruskan saja, sehingga tidak perlu masukan dari pihak lain. Contohnya ketika Prabowo menyatakan bahwa Tax Ratio yang menurun daripada saat periode OrBa, Petahana malah menjawab bahwa menaikkannya kembali dalam waktu singkat ke level semasa OrBa akan menimbulkan economic shock.

Kelima, Bluffing.

Petahana berkali-kali menyebut ekonomi negara itu adalah Ekonomi Makro yang agregatif.

Heylooo…?!?

Pertama, itu hal yang anak semester kedua Fakultas Ekonomi dan Bisnis pun sudah wajib tahu kalau sudah mengambil mata kuliah “Pengantar Ekonomi Makro”. Sungguh sangat menggelikan berbicara seperti itu kepada Prabowo yang adalah putra dari Begawan Ekonomi Indonesia, sang pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, yaitu mendiang Professor Doktor Soemitro Djojohadikoesoemo. Apalagi itu ditujukan kepada Sandiaga Uno yang adalah doktor dalam Ilmu Manajemen.

Kedua, baik Prabowo dan Sandiaga Uno itu adalah elite bisnis yang sukses dengan asset trilyunan rupiah. Tidak mungkin keduanya berpikir berskala mikro à la mandor proyek. Sebab keduanya mengelola bisnis dengan asset trilyunan rupiah, dan itu sudah pasti mengharuskan keduanya untuk berpikir dalam skala makro, bahkan skala internasional! Terlalu picik menuduh keduanya hanya berpikir mikro… bukankah ketika Petahana masih berkutat dengan perkara kayu mana yang cocok dengan cat pelitur mana, baik Prabowo maupun Sandiaga Uno sudah berkiprah di Dunia Bisnis Internasional?

Keenam, Ad-hominem.

Kalau pada Debat Capres sebelumnya, Petahana melakukan ad-hominem dengan menyerang soal lahan yang dimiliki oleh Prabowo, maka kini running mate Petahana lagi-lagi coba-coba untuk ad-hominem dengan menyinggung bahwa baik Prabowo dan Sandiaga Uno adalah the elite 1%.

Ini jelas cara yang sangat murahan! Namun alhamdulillâh dibantah dengan cantik oleh Prabowo, yaitu dengan mengatakan bahwa benar dirinyaa adalah the elite 1%, namun ia siap berkorban bagi Rakyat Indonesia. Hal itu kembali ditegaskan oleh Sandiaga Uno dengan pernyataan bahwa keduanya jika terpilih, maka tidak akan mengambil sepeser pun dari gaji mereka dan akan menyumbangkannya untuk orang miskin dan kaum dhu‘afa.

Penutup dari saya, Indonesia ini adalah negeri yang memilki potensi yang sangat besarm baik dalam bentuk Sumber Daya Alam maupun penduduknya. Oleh karena itu, Indonesia harus dipimpin oleh orang yang KUAT (BOLD), CERDAS (SMART), dan PUNYA VISI, di mana orang tersebut mempunyai cinta dan kasih sayang kepada rakyatnya dan cinta kepada rakyatnya!

 

oleh: Arsyad Syahrial

loading...