PB, Jakarta — Ekonom Senior Rizal Ramli mengatakan defisit neraca perdagangan Indonesia disebabkan kebijakan perekonomian pemerintahan Jokowi terlalu longgar terhadap China.

“Dulu perdagangan kita dengan China defisit US$13 miliar. 2018, kita defisit US$18 miliar. Kebijakan ekonomi Pak Jokowi terlalu baik dengan China,” kata RR dilansir wartaekonomi.co.id, Ahad (14/4).

Ketua Dewan Pembina Asprindo itu menyebutkan bahwa berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik, dengan China, neraca perdagangan Indonesia tercatat mengalami defisit sebesar US$3,93 miliar dalam kurun waktu Januari-Februari 2019.

Kata dia, nilai ini meningkat dibanding periode yang sama pada 2018, yakni sebesar US$3,29 miliar.

Menurutnya, Indonesia perlu memiliki mitra dagang yang baik.

“Prabowo berani dengan (Presiden China) Xi Jinping. Kita akan revisi proyek listrik dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung,” ucap RR, yang juga merupakan Dewan pakar ekonomi yang membantu tim Badan Pemenangan Nasional (BPN).

Mantan Menko Ekuin itu menambahkan saat ini pertumbuhan ekonomi China sedang merosot, yakni dari 8% menjadi 6% hingga mendorong banyaknya tenaga kerja kasar asal China pergi ke luar, termasuk Indonesia.

Sementara itu kata RR, di Indonesia sendiri banyak angkatan kerja yang menganggur.

Untuk itu, RR mengklaim, jika Prabowo terpilih sebagai Presiden RI periode 2019-2024 siap bernegosiasi dengan Negeri Tirai Bambu, termasuk soal tenaga kerja asing.

“Diperlukan keberanian dalam dunia internasional,” tegasnya.

Dia menjelaskan bahwa banyak cara untuk mendorong masuknya investasi asing ke Indonesia tanpa mengorbankan martabat bangsa sebagaimana India dan Vietnam yang saat ini lebih diminati investor untuk menjadi negara tujuan penananaman modal.

“Kita genjot ekonomi 8%. Ngapain ngemis-ngemis datengin asing,” jelasnya.

 

(Redaksi/Sumber)

 

loading...