PB, Jakarta — Syahdan, Thalut dan pendukungnya semakin kuat dari sebelumnya. Jumlah pasukannya semakin banyak dan semakin kuat lagi solid. Mereka siap menghadapi Jalut.

Siapa tak kenal Jalut, penguasa besar namun zhalim pada saat itu yg segala ‘resources’ yg bisa dibilang tak terhingga. Dia punya kuasa punya juga harta. Dia punya tentara, punya juga kecanggihan teknologinya.

Namun, Thalut memang sudah siap dengan izin Allah. Walaupun tak bisa menyaingi dalam jumlah dan kapasitas yg sama dengan pasukan Jalut, Thalut dan pasukannya secara matematika manusia bisa mengalahkan Jalut. Tapi, Allah ‘belum selesai’ menguji Thalut.

Beberapa hari sebelum terjadinya pertempuran, Allah mengujinya, agar jelas siapa yg ikhlas berjuang, kokoh berkorban dan tenang dalam beramal, siapa pula yg tidak.

“Maka ketika Thalut membawa bala tentaranya, dia berkata, “Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah, 2:249)

Ujian ini menampakkan hikmah bahwa Allah memang tak pernah salah memilih dan mengistimewakan seseorang. Allah ingin menunjukkan bahwa Thalut memang pilihan-Nya. Dan orang-orang yg bersama thalut juga tentunya adalah orang yg terpilih. Sebab, tidak mungkin menghadapi tentara Jalut kecuali dengan kekuatan yg melebihinya, dan itu hanya satu, yaitu kekuatan iman dalam hati dan kemauan untuk menang. Kekuatan yg siap menundukkan keinginan syahwat dan mengalahkan desakan atau dorongan kebutuhan sesaat serta sanggup mengedepankan ketaatan terhadap pemimpin dalam semua keadaan.

Tidak ada gunanya amunisi lengkap dan fisik yg hebat jima pribadi-pribadinya lemah iman, bermental pecundang. Lemah keinginan dan kemauannya untuk menang.

Allah mengujinya dengan kekurangan air, sehingga air sungai yg segar itu sangat menggoda orang-orang yang kehausan. Padahal, Allah menghendaki pasukan Thalut menunda sejenak hausnya dan tidak minum dari air sungai dihadapannya.

Ujian itu menjadi saringan bagi pasukan Thalut. Dari 80.000 tentara, sebagian besar mereka melanggar, dan meminum air sungai sepuas-puasnya, padahal sudah dilarang. Akhirnya, mereka berbalik mundur, tidak jadi memerangi Jalut.

Ketidaksabaran mereka menahan haus beberapa saat saja adalah bukti terbesar tidak adanya kesabaran mereka untuk berperang yang pasti memakan waktu lama dengan kesulitan lebih besar.

Di sisi lain, mundurnya sebagian pasukan meningkatkan tawakal kepada Allah swt. Orang-orang yg ikhlas, tabah, semakin menambah sikap merendahkan diri, merasa hina, dan berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka sendiri kecuali totalitas bergantung kepada Allah swt.

Bahkan, berkurangnya jumlah mereka dan banyaknya musuh, semakin meningkatkan kesabaran mereka.

Mereka tidak melanggar janji mereka yang pernah terucap di hadapan Thalut mereka, bahwa mereka siap melawan Jalut apa pun kondisinya. Mereka pun bermunajat kepada Allah dengan sebait doa:

“Rabbana afrigh ‘alaina shabran wa tsabbit aqdamana wanshurna ‘alal qaumil kafirin.

Duhai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah, 2:250)

Atas ijin Allah, Jalut dan ratusan ribu bala tentaranya pun tumbang. Kekuasaannya pun jatuh. Kezhalimannya musnah.

Sahabat, hari-hari menjelang ‘pertempuran’ ini akan datang banyak ujian. Kekurangan amunisi, saksi, kesolidan, bahkan godaan ‘air sungai’ yg menghanyutkan di balik kebutuhan minum untuk energi dan kesegaran. Namun, berbagai macam ujian ini adalah ‘syarat’ yg memang harus dihadapi jika kita ingin menang.

Bersabarlah. Ikhlaslah. Kuatkan keimanan. Kuatkan keteguhan. Kita berjuang bukan untuk mendapatkan kekuasaan. Kita berjuang untuk mendapatkan rahmat Allah. Yg dengan rahmat-Nya itulah kemudian Allah menurunkan pertolongan dan mengaruniakan kemenangan.

Yakinilah, modal dan amunisi terhebat kita bukanlah keduniaan. Modal dan amunisi kita adalah keimanan dan kesabaran. Menang atau tidak, bukanlah menjadi sebuah persoalan. Tapi iman dan sabar di saat dimenangkan atau pun dikalahkan itulah yg utama bagi setiap perjuangan.

Sahabat, berdoalah sebagaimana tentara Thalut khusyuk berdoa: “Rabbana afrigh ‘alaina shabran wa tsabbit aqdamana wanshurna ‘alal qaumil kafirin”.

 

Oleh : Azzam Mujahid Izzulhaq

loading...