PB, Jakarta — Masuk dalam KA’BAH bukan bagian dari ritual ibadah dalam Islam. Itu hanya merupakan pernak pernik bila berkunjung dan BERZIARAH ke kota suci Makkah al-Mukarramah. Itupun gak semua jama’ah haji dan umrah bisa masuk ke dalamnya. Saat ini hanya para tamu raja Saudi aja yang diperkenankan masuk ke dalam Ka’bah. Terutama para Kepala Negara yang Muslim.

Tidak ada yang istimewa bila masuk ke dalam Ka’bah bila di ukur dengan pahala. Karena belum pernah ditemukan dalil naqli (al-Quran atau Hadits) membahas keistimewaan masuk ke dalam Ka’bah. Saat ini dalam Ka’bah hanya berisi peninggalan Nabi SAW berupa pedang dan lain-lain.

Di zaman awal-awal Islam, Ka’bah itu bisa dimasukin siapa aja. Karena di dalam Ka’bah itu tempat penyimpanan benda-benda purbakala. ABU JAHAL dan ABU LAHAB serta abu-abu yang lainpun bolak balik masuk ke dalam Ka’bah. Tidak ada halangan orang masuk ke dalamnya. Apalagi saat Rasulullah SAW masih tinggal di Makkah di awal Islam, Ka’bah itu tempat penyimpanan berhala-berhala. Ada Latta, Uzza dan Manaf serta konco-konconya dari yang terbesar dan yang terkecil ditaruh dan disimpan di dalam Ka’bah untuk DISEMBAH.

Nanti disaat Fathul Makkah (Penaklukkan kota Makkah) di tahun 8 hijriyah oleh kaum Muslimin yang dipimpin langsung oleh Nabi SAW., semua berhala yang ada dalam Ka’bah di hancurkan dan dibakar semuanya. Dan boleh jadi saat itulah Ka’bah gak semua orang bisa memasukinya.

Oleh karena itu tidak dibenarkan bila masuknya seseorang ke dalam Ka’bah kemudian diposisikan bahwa dia seorang yang sholeh dan mulia. Ada orang yang masuk ke dalamnya yang kebetulan dia seorang kepala pemerintahan yang lagi mengikuti kompetisi pemilihan kepala pemerintahan di negaranya, pas pulang kalah dalam pemilihannya dan berlabuh di penjara.

Dan itu bisa terjadi juga pada kepala negara yang lain. Walau masuk ke dalamnya bukan termasuk ibadah tapi kalau niatnya hanya PENCITRAAN supaya kelihatan orang shaleh maka kayaknya bila pulang ke tanah air dia akan mengalami hal yang tidak mengenakkan. Contohnya udah banyak.

Ingat di Makkah itu berlaku CASH and CARRY berkaitan dengan NAWAITU kita ziarah kesana. Kalau tidak kena disana maka dia bisa kena di tanah airnya. Maka dari itu kalau ke Makkah diniatkan betul-betul karena Allah. Kalau ada niat yang lain maka biar Allah lah yang mempertontonkan pada kita kesalahan niat tersebut. Sebab kita manusia gak bisa menilai niat seseorang karena itu berkaitan dengan hati. Dan hati gak bisa diukur selain Allah.

Allah tidak pernah tidur. Dia Maha Melihat dan Maha Menyaksikannya.
Hanya kepada Allah jualah kita berserah diri.

Wallahu A’lam …

Oleh : Moh. Naufal Dunggio

loading...