PB, Jakarta — Akhirnya huru hara pasca pencoblosan pemilu 2019 menjadi spot internasional. Krisis ini -suka tidak sukasudah dispot oleh media internasional utama seperti Al Jazeera sebagai konflik domestik yang serius.

Berarti krisis yang terjadi saat ini memiliki pola konflik yang sama dengan krisis-krisis di Mesir, Sudan, Libya, Ukraina, Georgia, Thailand, AI Jazair dan Suriah. Yaitu krisis terbelahnya sebuah bangsa.

Meski belum ada konflik fisik, namun krisis ini sebenarnya membuka jalan menuju level krisis yang lebih berbahaya.

Al Jazeera selalu mengimbangi opini untuk pihak yang tertindas dengan kupasan analisis geopolitik yang lugas dan apa adanya. Inilah model keberpihakan mereka.

Marilah kita ikuti reportase Al Jazeera mengenai polemik dalam pemilu 2019 kita:

1. Prabowo menolak pernyataan kekalahan, dan mengumumkan kemenangan berdasarkan perhitungan pihak oposisi yang sangat meyakini kemenangan mereka. Disini (oleh Al-Jazeera) tidak disebut individu, golongan dan partai, akan tetapi oposisi (ileaAJI). Andai disebut sebagai golongan atau partai maka opinipun akan berubah.

2. Disebutkan bahwa oposisi Indonesia menuduh media-media yang disebut Al Jazeera sebagai media-media pemerintah yang berpihak, curang dan tidak adil.

3. Pihak Koalisi Adil Makmur Indonesia tidak menginginkan perpecahan dan tidak akan melakukan cara cara inkonstitusional karena kami sudah menang dan kami adalah bagian dari bangsa. Al Jazeera menerjemahkan bagian pidato Prabowo ini tanpa dipotong-potong apalagi dipelintir.

4. Para pengacara dan aktifis pro demokrasi menuduh institusi-institusi pembentuk opini dalam pemilu mempermainkan opini publik dan perhitungan hasil pemilihan.

5. Institusi-institusi masyarakat madani menuduh adanya kesalahan dan keganjilan dalam pelaksanaan pemilu meski pemilu ini mendapatkan antusiasme yang sangat luas dari masyarakat yaitu tingkat keikutsertaan hingga 82 persen.

6. August Mellaz seorang Jubir Koalisi Masyarakat Madani Indonesia mengatakan bahwa sistem pemilihan di Indonesia mengalami kemunduran setelah pelaksanaannya yang kelima, dan sudah waktunya untuk menuntut para penyelenggara pemilu. Dan kami akan menuntutnya di pengadilan atas apa yang mereka perbuat.

7. Al Jazeera menggambarkan aparat keamanan sebagai pihak yang represif karena menolak dan mengancam segala bentuk aksi pernyataan kemenangan sebelum hasil resmi diumumkan oleh otoritas yang berwenang, namun pihak oposisi mengabaikannya.

8. Al Jazeera menyoroti fenomena seranganserangan elektronik yang massif yang kerap melumpuhkan server KPU.

9. Al Jazeera menilai bahwa peristiwa ini menjadikan Indonesia masuk ke lorong ketidakpastian yang penuh misteri.

10. Indonesia menghadapi tantangan yang besar karena penyimpangan perhitungan PEMILU dan pengumuman resmi yang akan datang yang sudah banyak dipersepsikan oleh masyarakat sebagai hal yang penuh kecurangan.

 

Oleh : Mutawakkil Abu Ramadhan

loading...