PB, Jakarta — Pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno bersama dengan badan pemenangan mereka, menolak hasil perhitungan suara pemilu presiden yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Ketua BPN Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso, meminta perhitungan dihentikan. BPN katanya, telah mengirim surat kepada KPU untuk meminta dan mendesak agar menghentikan sistem perhitungan suara di KPU. Sebab pemilu telah berjalan curang.
Sementara Sandiaga Uno, menyinggung persoalan politik uang hingga pejabat yang diduga terlibat memenangkan calon tertentu. Dia juga curiga ada dugaan pelibatan pejabat tinggi BUMN memenangkan paslon tertentu.
“Penjuru tanah air, masyarakat disuguhi cerita tsunami amplop politik uang yang dikawal aparat keamanan. Rakyat sebagai pemilih kedaulatan dipaksa atau setengah dipaksa memilih yang memberikan iming-iming uang,” kata Sandi, seperti dikutip viva.co.id, Rabu (15/5).
Sandi menyebut ada juga kepala desa dan aparat yang digerakkan pasangan calon tertentu dengan ancaman. Kemudian  Daftar Pemilih Tetap yang bermasalah dan tak ada solusi. Kotak suara mudah dijebol, dibakar, hingga terkena banjir. Sandi mengkritisi kesalahan dalam situng KPU. Ada puluhan ribu kekeliruan, tapi tetap dipergunakan dengan alasan situng bukan untuk tentukan hasil akhir.
“Sebanyak 6,5 juta orang tak memperoleh undangan pemilih, intimidasi saksi pasangan 02 di daerah tertentu. Ini sebabkan perolehan kami nol,” kata Sandi.
Hal yang sama juga disampaikan Prabowo Subianto. Dia akan terus memperjuangkan keadilan demi rakyat Indonesia. Disinggung juga soal banyaknya kecurangan yang terjadi dalam pemilu 2019. Prabowo akan mengumpulkan tim ahli dan tim hukum, dan rencananya dia akan menulis surat wasiat apabila terjadi kemungkinan terburuk.
Menurut Prabowo, Pemerintah tidak perlu menakut-nakuti rakyat dengan tuduhan makar. Sebab diantara rakyat yang memperjuangkan keadilan, terdapat Jenderal yang dahulu membela NKRI sehingga tidak mungkin dituduh makar.
“Enggak usah nakut-nakuti kita dengan makar-makar. Orang-orang ini bukan makar, jenderal-jenderal ini sudah mempertaruhkan nyawanya sejak lama, mereka tidak makar. kita membela bangsa dan negara republik indonesia. Jangan takut-takuti kita dengan senjata yang diberikan oleh rakyat,” ujarnya
Prabowo masih menunggu itikad baik dari pemerintah dan penyelenggara pemilu untuk menyadari kesalahannya. Menurut Prabowo, saat ini kedaulatan ada di tangan rakyat.
Sementara itu, berdasarkan hasil pengumpulan data form C1 oleh tim IT BPN Prabowo Sandi, dipastikan kalau pasangan kubu 02 menang dengan raihan suara 54,42 persen.
Menurut anggota tim IT BPN Prabowo-Sandi, Laode Kamaludin, berdasarkan data tanpa kecurangan mereka miliki, pada jam 12.00 WIB, Selasa 14 Mei 2019, pasangan Prabowo-Sandi telah mengumpulkan 48 juta suara. Sementera Jokowi memperolah 44,24 persen atau sekitar 39 juta suara.
Angka itu berasal dari data total TPS 51 persen lebih. Ia mengklaim bagi ahli statistik angka ini sudah valid. Ia menambahkan data C1 yang dihitungnya sudah diverifikasi dan divalidasi. Meski masih berjalan, tapi bisa dipertanggungjawabkan.
ubir BPN Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan kalau ada yang menuding ini hoax, maka ia menantang adu data.
“Jadi kalau ada yang bilang hoaks, ini waktunya kita berdebat, adu data jangan sampai ini semua ditangkap karena dianggap menebar hoaks,” kata Dahnil.
Berikut data IT BPN soal kemenangan Prabowo-Sandi, pada pukul 17.00 WIB, Selasa 14 Mei 2019:
1. DKI Jakarta
Jokowi-Amin 43,97 %
Prabowo-Sandi 56,03 %
2. Kepulauan Riau
Jokowi-Amin 43,63 %
Prabowo-Sandi 56,37 %
3. Kepulauan Bangka Belitung
Jokowi-Amin 39,51 %
Prabowo-Sandi 60,49 %
4. Lampung
Jokowi-Amin 38,41 %
Prabowo-Sandi 61,59 %
5. Bengkulu
Jokowi-Amin 35,93 %
Prabowo-Sandi 64,07 %
6. Sumatera Selatan
Jokowi-Amin 33,65 %
Prabowo-Sandi 66,35 %
7. Jambi
Jokowi-Amin 29,22 %
Prabowo-Sandi 70,78 %
8. Riau
Jokowi-Amin 22,62 %
Prabowo-Sandi 77,38 %
9. Sumatera Barat
Jokowi-Amin 11,28 %
Prabowo-Sandi 88,72 %
10. Sumatera Utara
Jokowi-Amin 29,74 %
Prabowo-Sandi 70,26 %
11. Aceh
Jokowi-Amin 16,43 %
Prabowo-Sandi 83,57 %
12. Papua
Jokowi-Amin 41,97 %
Prabowo-Sandi 58,03 %
13. Papua Barat
Jokowi-Amin 40,61 %
Prabowo-Sandi 59,39 %
14. Maluku Utara
Jokowi-Amin 30,59 %
Prabowo-Sandi 69,41 %
15. Maluku
Jokowi-Amin 20,63 %
Prabowo-Sandi 79,37 %
16. Sulawesi Barat
Jokowi-Amin 49,18 %
Prabowo-Sandi 50,82 %
17. Gorontalo
Jokowi-Amin 33,51 %
Prabowo-Sandi 66,49 %
18. Sulawesi Tenggara
Jokowi-Amin 32,75 %
Prabowo-Sandi 67,25 %
19. Sulawesi Selatan
Jokowi-Amin 31,78 %
Prabowo-Sandi 68,22 %
20. Sulawesi Tengah
Jokowi-Amin 38,56 %
Prabowo-Sandi 61,44 %
21. Sulawesi Utara
Jokowi-Amin 63,48 %
Prabowo-Sandi 36,52 %
22. Kalimantan Utara
Jokowi-Amin 56,09 %
Prabowo-Sandi 43,91 %
23. Kalimantan Timur
Jokowi-Amin 43,65 %
Prabowo-Sandi 56,35 %
24. Kalimantan Selatan
Jokowi-Amin 28,61 %
Prabowo-Sandi 71,39 %
25. Kalimantan Tengah
Jokowi-Amin 38,20 %
Prabowo-Sandi 61,80 %
26. Kalimantan Barat
Jokowi-Amin 31,92 %
Prabowo-Sandi 68,08 %
27. Nusa Tenggara Timur
Jokowi-Amin 57,33 %
Prabowo-Sandi 42,67 %
28. Bali
Jokowi-Amin 78,64 %
Prabowo-Sandi 21,36 %
29. Banten
Jokowi-Amin 35,76 %
Prabowo-Sandi 64,24 %
30. Jawa Timur
Jokowi-Amin 48,60 %
Prabowo-Sandi 51,40 %
31. DI Yogyakarta
Jokowi-Amin 58,11 %
Prabowo-Sandi 41,89 %
32. Jawa Tengah
Jokowi-Amin 76,57 %
Prabowo-Sandi 23,43 %
33. Jawa Barat
Jokowi-Amin 35,24 %
Prabowo-Sandi 64,75 %
(Redaksi/Sumber)
loading...