PB, Kuala Lumpur — Hasil investigasi tim Pusat Informasi dan Pelayanan (PIP) PKS Malaysia menemukan suara siluman dan dugaan penggelembungan suara oleh salah satu caleg dan partai pada Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pos di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Guna menjaga legitimasi Pemilu yang telah diadakan oleh PPLN KL, maka PIP PKS Malaysia menuntut agar PPLN KL dan Panwaslu KL menjaga keutuhan amplop-amplop pengiriman surat suara dan tidak mencampur adukkan amplop-amplop tersebut antar titik penghitungan,” kata Ketua PIP PKS Malaysia Ali Sophian melalui siaran pers seperti dikutip VIVA.co.id, Sabtu 18 Mei 2019.

Ali menambahkan PIP PKS Malaysia menuntut agar hasil PSU ini dibatalkan.

“PIP PKS Malaysia menuntut agar hasil PSU dibatalkan. Karena sudah tercampurnya suara-suara sah rakyat dengan suara-suara pemilih hantu yang sistematis dan masif” tegasnya.

Selain itu, PIP PKS Malaysia mendesak agar Panwaslu KL dan, atau Bawaslu melakukan investigasi untuk mengecek kembali DPT. Dan dugaan-dugaan alamat-alamat fiktif, serta mengambil tindakan hukum yang sesuai bila memang ditemukan kecurangan pidana baik dari penyelenggara maupun peserta pemilu.

“Agar problematika ini dapat menjadi pembelajaran bagi KPU dan Bawaslu dalam mengadakan Pemungutan Suara melalui Pos di Luar Negeri pada masa yang akan datang,” jelasnya.

Ali memastikan timnya telah melakukan investigasi. Bahkan kader dan relawan PKS ikut menjadi saksi dalam proses penghitungan di PWTC, Kuala Lumpur.

“Dalam proses tersebut, saksi-saksi PKS menjumpai banyak alamat pada amplop surat suara yang berasal dari daerah Sekinchan, Selangor. Uniknya, beberapa alamat itu tampak berulang dalam jumlah yang besar. Yang lebih menarik perhatian adalah alamat-alamat yang berulang ini tidak menunjukkan sebagai sebuah alamat yang lengkap,” ungkapnya.

Ali mencontohkan dua alamat yang dimaksud adalah: No 101 Pekan Sekinchan 45400 Sekinchan – Selangor. Dan No 105 Pekan Sekinchan 45400 Sekinchan – Selangor.

“Sebagai catatan, ini hanya sampel dan diambil secara acak dari satu satu lokasi kelompok penghitungan suara dimana salah satu partai mendapat lebih dari 90 persen suara dari sekitar 580 total suara,” ujarnya.

 

(Redaksi/Sumber)

loading...