PB, Jakarta — Sejarah perjuangan untuk menyingkirkan kemungkaran yang dilakukan oleh para penguasa zalim di mana pun di dunia ini, tidak pernah berlangsung tanpa korban nyawa. Sebab, penguasa yang zalim tidak pernah tiba-tiba tobat dan mundur teratur dari kezolimannya. Sehingga tak perlu jatuh korban ketika ada protes dari rakyat mereka.

Justru penguasa yang tidak zolim yang malah sering kita lihat mengundurkan diri. Sebagai contoh adalah masyarakat Jepang dan masyarakat Barat yang terbiasa menghormati kritik dan kehendak rakyat.

Di Indonesia, sejarah menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kezaliman selalu menelan korban jiwa. Nah, sia-siakah pengorbanan nyawa itu?

Sama sekali tidak. Tidak pernah sia-sia. Alhamdulillah, kezaliman demi kezaliman masa lalu bisa dihentikan. Sekaligus, situasi kehidupan menjadi lebih baik. Sebutlah kezaliman penjajahan Belanda, kezaliman penjajahan Jepang, kezaliman Orde Lama, kezaliman Orde Baru, dll, bisa dihentikan berkat pejuangan keras rakyat. Berkat pengorbanan berat, termasuk korban jiwa.

Hari ini, rakyat kembali menghadapi kezaliman para penguasa. Kesewenangan. Keangkuhan. Kesombongan. Kemungkaran masif dalam pelaksanaan pilpres, berlangsung secara terbuka. Kemenangan Prabowo dirampok. Seluruh proses perampokan ini difasilitasi dan dibentengi oleh para pemegang kekuasaan.

Peluru keangkuhan menewaskan sejumlah orang. Sekarang, para pemimpin pasukan keamanan telah berlumuran darah. Mereka akan memikul tanggung jawab di dunia dan di akhirat kelak.

Di dunia, mereka akan dikejar-kejar hukum dunia. Di akhirat, mereka akan ditanyai tentang pembunuhah yang terjadi setelah pengumuman hasil pilpres yang diprotes itu.

Tidak tertutup kemungkinan hukuman dunia untuk mereka akan turun dalam bentuk keruntuhan kesombongan mereka. Dalam bentuk keruntuhan kekuasaan yang mereka bentengi dengan persenjataan lengkap itu.

Rakyat bersatu menghalau para pelaku kemungkaran yang telah berlumuran darah. Keruntuhan kesombongan itulah yang membuat pengorbanan jiwa menjadi tidak sia-sia.

 

Oleh ; Asyari Usman

loading...