PB, Pasarwajo — Komandan Korem 143/Halu Oleo Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si., menampik ketelibatan anggota TNI pada peristiwa kericuhan di Kabupaten Buton pasca Shalat Idul Fitri 1 Syawal lalu.

Kata dia, peristiwa yang menyebabkan puluhan rumah terbakar itu murni dipicu ulah dari para pemuda kedua desa, yakni Desa Sampuabalo dan Desa Gunung Jaya

“Tuduhan yang ditujukan kepada anggota TNI yang berada di Desa Sampuabalo, atas nama Serka La Ode Sarawa adalah tidak benar. Bahwa dirinya bersama keluarga melaksanakan cuti lebaran gelombang I di rumah orang tuanya di desa tersebut,” tutur Kolonel Yustinus dalam keterangan tertulisnya, Ahad (9/6).

Yustinus membenarkan bahwa saat kejadian, yang bersangkutan sedang melintasi desa Gunung Jaya menuju ke kantor Koramil 02/Pasar Wajo (kembali dari cuti) dengan mengendarai Toyota Hilux warna hitam Nopol B 9056 QT.

Namun kata dia, di lokasi tersebut yang bersangkutan justru dilempari oleh kurang lebih 50 orang kelompok pemuda asal Desa Gunung Jaya yang mengakibatkan kerusakan pada kaca depan mobil retak dan pelipis kaca pintu kanan tergores akibat lemparan batu.

“Ketika hendak menegur tindakan para pemuda pelempar batu, yang bersangkutan turun dari kendaraannya, yang saat itu mengenakan seragam militer (PDL TNI), mungkin karena takut ada tentara yang jadi korban, maka para pemuda tersebut melarikan diri,” ujarnya lagi..

Lanjut Yustinus, yang bersangkutan kemudian melapor ke Pos Polisi yang terletak di Desa Kuraa dengan melintasi Desa Sampuabalo.

“Laporannya diterima oleh Brigpol La Heri dan Bripka Edi. Kemudian anggota Pos Polisi bersama yang bersangkutan menuju TKP, ditengah jalan bertemu Kades Gunung Jaya dan warganya, serta menyampaikan kalau dilempari batu oleh para Pemuda Gunung Jaya,” terang Danrem.

Selanjutnya Lanjut Danrem, mereka bersama-sama menuju TKP, namun belum tiba di TKP mereka sudah melihat ada bentrokan antara warga Desa Sampuabalo dengan warga Desa Gunung Jaya, sehingga mereka mengurungkan niat ke TKP.

“Setelah bentrokan reda yang bersangkutan kembali ke rumah orang tuanya di Desa Sampuabalo dan tidak kemana-mana lagi. Adanya tuduhan bahwa yang berangkutan memprovokasi masyarakat Desa Sampuabalo untuk bentrok dengan masyarakat Gunung Jaya adalah tidak benar,” tegas Kolonel Yustinus.

Dia menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan proses hukum apabila nantinya oknum TNI tersebut terbukti terlibat.

“Saat ini yang bersangkutan dimintai keterangan di Denpom Kendari, namun hingga kini belum ada bukti keterlibatannya, justru anggota kami adalah korban dari kerusuhan tersebut. Mohon rekan-rekan media agar ikut membantu menenangkan warga dengan pemberitaan yang positif demi terciptanya suasana aman dan damai di Buton,” pungkasnya.

 

(Redaksi)

loading...