PB, Wanggudu — Banjir yang melanda Kabupaten Konawe Utara telah menyebabkan 4.089 KK mengungsi dan sejumlah fasilitas publik terendam.

Parahnya benjir tersebut juga menyulitkan petugas mendistribusikan bantuan logistik dan obat-obatan ke titik bencana.

Berdasarkan penelusuran pembawaberita.com, banjir tersebut dipicu oleh curah hujan cukup tinggi dalam kurun waktu beberapa hari terakhir sehingga mengakibatkan beberapa sungai meluap.

Tercatat, Sungai Wadolo, Lalindu, dan Sungai Wadambali meluap dan menghanyutkan sejumlah rumah warga di Kecamatan Asera, Langgikima, Andowia, Landawe, Oheo, dan Kecamatan Wiwirano.

Bupati Konut, Ruksamin, menjelaskan ketinggian banjir sempat surut sekitar 50 sentimeter, namun kembali merendam rumah warga lantaran hujan yang terus mengguyur wilayah setempat hingga malam hari.

“Tadi ini kita evakuasi lagi warga di lima/enam kecamatan, di 28 desa/kelurahan, jumlah KK-nya, yaitu 1.054. Sampai hari ini tidak ada korban jiwa,” terang Ruksamin, Sabtu (8/6).

Kata dia, sejumlah kecamatan sempat sulit dijangkau guna pendistribusian bantuan karena akses jalan nasional tergenang air setinggi tiga meter.

Lanjutnya, banjir di wilayahnya itu juga merendam empat unit SD, satu unit SMP, lahan sawah 970,3 hektare, lahan jagung 83,5 hektare, lahan lainnya 11 hektare, yaitu palawija, perikanan tambak sekitar 420 hektare yang terendam, satu puskesmas di Desa Uwonua tenggelam, termasuk di Kecamatan Motui.

“Di Kecamatan Motui baru tadi terendam, kami langsung ke sana mengecek,” tambah Ruksamin.

Upaya penanganan banjir dilakukan Pemda sejak 2 Juni lalu, berupa pendataan awal; rapat darurat di Pemda dan langsung mengeluarkan SK penanganan darurat di Konut (3 Juni). Selanjutnya dikeluarkan SK Bupati tentang pembentukan pos komando penanganan darurat bencana di Konut yang dipusatkan di rujab bupati.

Tempat pengungsian juga didirikan di empat titik, sekaligus pendistribusian logistik, misalnya bahan makanan.

Dampak lainnya dari banjir seperti adanya keputusan untuk meliburkan aktivitas sekolah, termasuk mengundur pelaksanaan ujian.

“Sekolah sudah kami putuskan ini hari kami liburkan termasuk ujian kami undur,” jelasnya.

Parahnya dampak banjir ternyata diakui bupati menjadi yang terbesar dibandingkan tahun 1977 yang katanya merupakan banjir terbesar kala itu.

“Banjir terbesar tahun 1977, 42 tahun kemudian terulang tapi lebih besar dari yang ada sekarang,” jelas Ruksamin yang juga Ketua DPW PBB Sultra tersebut.

 

(Redaksi)

loading...