PB, Jakarta — Anda, atau siapapun yang berkelindan dibalik tirai kekuasaan tak perlu bingung menghentikan Nasjo untuk menulis. Tak perlu tawarkan kompensasi dunia, tak perlu juga mengumbar ancaman yang pasti tak dipandang -meskipun- hanya sebelah mata. Berbuat adil-lah, tinggalkan kezaliman, niscaya Nasjo akan berhenti menulis.

Ketika Anda adil, Anda telah penuhi apa yang menjadi hak Allah SWT, Anda penuhi apa yang menjadi hak umat, Anda penuhi apa yang menjadi hak rakyat, melalui kekuasaan yang Anda miliki, maka Nasjo pasti berhenti menulis. Andai, Nasjo masih menulis, dan terus mengkritik kekusaan yang Anda jalankan, maka atas dasar keadilan yang Anda tegakan niscaya Nasjo pasti akan diabaikan. Boleh jadi, Nasjo akan dianggap orang gila yang mengigau tentang kekuasaan.

Namun, ketika Anda zalim, Anda menelantarkan hudud Allah, Anda mengabaikan hak umat dan rakyat atas kekuasaan yang Anda jalankan, Anda menyakiti rakyat dan pada saat yang sama Anda memberikan pelayanan dan penghormatan bahkan pemuliaan pada penjajah asing maupun aseng, maka bersiaplah ! Anda telah berurusan dengan Allah SWT, Anda berurusan dengan umat, sementara Nasjo hanyalah hamba Allah, pelayan umat, yang telah bersumpah untuk menyuarakan jeritan bathin umat.

Anda keliru, memoles citra agar dipercaya namun gemar melakukan kezaliman. Pisau pena Nasjo, akan menguliti seluruh selubung dan topeng kepalsuan rezim, pengkhianatan rezim, dan seluruh ‘aurat’ yang selama ini disembunyikan rezim dari umat.

Anda keliru, berusaha menebar kasih dan menyemai bibit damai, padahal Anda-lah yang menggores luka dan mengokohkan bara nestapa. Bagaimana mungkin, umat ini terima dan ridlo atas segala bentuk kecurangan ?

Bagaimana mungkin, Anda meminta kami untuk bungkam dan tidak menuntut Qisos atas sejumlah darah yang tertumpah, atas sejumlah nyawa yang melayang, padahal hingga saat ini belum ada pihak yang bertanggung jawab dan mengajukan permohonan maaf ?

Bagaimana mungkin, kami menerima damai setelah kriminalisasi terhadap ulama kami terus di berlakukan ? Penangkapan dan pemenjaraan para tokoh dan putra umat ini ? Anda ini bagaimana ? Coba, jika nyawa putra Anda yang meregang, kepala saudara Anda yang ditembak, Anda bisa terima ?

Sulit sekali memahami Anda, dan kekuasaan yang Anda jalankan dengan kesombongan dan keangkuhan. Kami, dipaksa ridlo setelah dizalimi. Dipaksa damai setelah dicurangi. Dipaksa menerima, setelah kejahatan itu ditimpakan kepada kami.

Para punggawa istana, dengan pidato berulang yang sangat menjemukan, tak sekalipun berorasi menyampaikan kejujuran. Kebohongan, dusta dan tipu daya terus diproduksi secara berulang, dan memaksa kami rakyat memahaminya sebagai kebenaran.

Nasjo tidak akan diam. Nasjo akan terus menulis. Nasjo, akan membongkar apa yang kalian lakukan termasuk apa yang kalian rencanakan.

Nasjo, tidak takut ancaman kaleng-kaleng, apalagi tawaran sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan. Nasjo, sepanjang hidup telah lekat dengan ujian dan cobaan. Kesakitan yang paling pedih, adalah jauh dari ketaatan.

Lantas, bagaimana Anda akan menyakiti Nasjo sementara dia telah bahagia dengan ridlo dari Tuhan-Nya ? Lantas, bagaimana Anda mampu merayu Nasjo, sementara seluruh kebutuhannya telah dipenuhi Rab-Nya ?

Lantas, bagaimana Anda sibuk memburu dan meminta Nasjo berhenti menulis, sementara kekuasaan yang Anda jalankan senantiasa memamerkan kezaliman ? Anda, terus saja bermimpi ingin ‘menampar muka Nasjo’ padahal, tangan Anda tak akan mampu meraih puncak gunung yang Anda lihat dari kejauhan ?

Ah, sudahlah. Mudah sekali membungkam Nasjo. Cukup, Anda bertindak adil, tinggalkan kezaliman, niscaya Anda akan dapati Nasjo terbungkam.

 

Oleh : Nasrudin Joha

loading...