PB, Lumajang — Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban memimpin langsung Tim Cobra Polres Lumajang menuju ke Desa Kalibendo Kecamatan Pasirin, Senin (8/7).

Hal ini dilakukan atas buntut dari aksi warga Desa Kalibendo, Desa Gondoruso dan Desa Bades yang menginginkan armada pasir tidak lagi melewati wilayahnya.

Mereka berpendapat bahwa para penambang sudah memiliki jalur khusus untuk armada tambang pasir.

Pemerintah Desa Kalibendo yang didatangi oleh sekitar 300 massa tersebut akhirnya mengambil jalur tengah, dengan memperbolehkan warga untuk membangun portal sementara dari bambu, agar armada truk tak dapat melewati jalur tersebut.

Dalam kegiatan pembangunan portal tersebut, Kapolres nampak di tengah-tengah masyarakat membantu mendirikan penghalang bagi truk Armada tambang pasir.

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban mengatakan pihaknya datang untuk menengahi serta mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Saya bersama Tim Cobra Polres Lumajang hadir disini untuk menyupport warga serta mengantisipasi hal yang tidak diinginkan. Kita semua tahu bahwa beberapa bulan yang lalu saya bersama pak Bupati serta pak Dandim juga hadir untuk menyelesaikan konflik horisontal tentang penambangan pasir ini, dan telah didapati kesepakatan untuk seluruh armada pasir tidak diperbolehkan melewati pemukiman warga setelah 2 bulan, dan hari ini sudah melampaui waktu yang disepakati. Setelah ini saya juga akan memantau jalur alternatif bagi armada pasir untuk memastikan jalur tersebut sudah dapat dilalui. Karena jalur itu solusi komprehensif yang bersifat win win solution,” ujar Arsal.

Perlu diketahui, beberapa bulan yang lalu memang disepakati oleh pihak penambang maupun warga, bahwasanya armada tambang tidak diperbolehkan melintasi jalur warga dan harus melalui jalur khusus truk pasir.

Jalur tersebut melintasi pinggiran aliran sungai Gunung Semeru serta berakhir di Jalan Lintas Selatan (JLS).

Meskipun telah selesai dalam tahap pengerjaan, namun banyak sopir truk yang enggan melewati jalur tersebut karena jaraknya yang jauh serta jalannya yang berbatu.

Mereka mengaku lebih menyukai lewat di perkampungan karena lebih dekat dan lebih halus, tapi kendalanya mereka mendapat penolakan dari warga.

Dengan adanya portal yang telah dibangun, akhirnya mau tidak mau mereka pun harus melintasi jalan tersebut.

(Redaksi)

loading...