PB, Jakarta — Alih-alih mendengarkan dan mencerna masukan dari masyarakat, Anggota Komisi VII DPR RI dari Partai Nasdem, Zulfan Lindan malah menyerang balik Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman.

Menurut keterangan Yusri, Zulfan Lindan malah menudingnya tak paham masalah RPP Minerba. Tudingan Zulfan itu kata Yusri muncul di grup Whatsapp setelah ia menyatakan ucapan Zulfan Lindan soal RPP Minerba sebagai pernyataan keliru dan mencerminkan ketidakpahaman UU Minerba.

“Justru yang gak ngerti masalah adalah Yusri Usman. Faham gak dia bahwa yang sudah setuju RPP adalah Menko Maritim, Menko Ekuin, Menkeu, dan Men ESDM, hanya men BUMN yang tidak paraf langsung ditolak. Anehkan lalu apakah para menteri yang sudah paraf bodoh semua atau juga dibayar. Saya curiga penulis yang bisa juga bayaran. Jangan sok bersih lah. Apa mau kita sumpah Al Quran,” ungkap Yusri menirukan pernyataan Zulfan Lindan tersebut.

Terkait pernyataan Zulfan Lindan tersebut, seperti dikutip urbannews.id, Rabu (10/7), Yusri mengatakan, Zulfan Lindan mestinya harus tahu bahwa kalau menteri sudah paraf maka tidak harus PP itu disahkan dengan tanda tangan oleh Presiden.

“Apalagi PP tersebut bertentangan dengan UU Minerba, bahkan Presiden pun harus taat konstitusi sesuai sumpah jabatan. Karena proses pembuatan RPP itu tidak melalui FGD,” kata Yusri.

Selain itu juga, pemikiran Zulfan Lindan sebagai anggota Komisi VII sangat ironis.

“Semestinya sebagai anggota Komisi, Zulfan juga meletakkan dari sisi makro, bagaimana ketahanan energi dibangun, bagaimana kondisi RUPTL PLN dalam pasokan batubara, serta sekaligus daya beli masyarakat saat ini. Dengan memahami pasti Zulfan justru akan memperjuangkan bagaimana “roh” UU Minerba untuk memperbesar peran BUMN dapat diperkuat. Bukan sebaliknya, apalagi telah melanggar UU Minerba,” tegas Yusri.

Dikatakan Yusri, karena proses pembuatan RPP ke-6 Minerba itu tidak melalui FGD dengan asosiasi pertambangan dan kampus, tapi langsung harmonisasi ke Kementerian, maka hal itu merupakan hal yang tidak lazim.

“Lazimnya FGD dengan asosiasi dan kampus. Yaitu proses sosialiasasi setiap pembuatan peraturan dan perundang undangan sesuai UU Nomor 12 tahun 2011. Tentang Pembuatan Peraturan Perundang Undangan. Masak dia sebagai aggota DPR tak paham itu?,” ungkap Yusri.

Terkait materi RPP tersebut, menurut Yusri, merubah perpanjangan dua tahun sebelum kontrak, menjadi 5 tahun sebelum kontrak, menjadi sangat jelas dapat dibaca bahwa perpanjangan yang dibuat lebih diarahkan untuk kepentingan korporasi semata.

Yusri juga menyayangkan sikap Zulfan Lindan atas masukan dari masyarakat.

“Seharusnya Zulfan Lindan jangan sewot kalau ada masukan dari rakyat, emang dia kerja untuk siapa? Untuk kepentingan rakyat atau cukong?,” ujar Yusri.

Selain itu, atas tudingan Zulfan Lindan yang menyebutnya sok suci, Yusri mengatakan hal ini bukan soal sok suci atau tidak.

“Ini bukan persoalan sok suci, ini persoalan UU dan ketahanan energi nasional,” tegas Yusri.

Soal tantangan Zulfan Lindan untuk saling bersumpah di bawah Al Quran, Yusri mengaku tak gentar.

“Saya siap untuk bersumpah di bawah Al Quran. Kapan dia mau saya siap, bahkan di gedung DPRRI” ungkap Yusri.

Sementara itu, terkait pernyataan Zulfan Lindan di grup Whatsapp tersebut, urbannews.id mengkonfirmasi ke Ardiyoso. Nama ini diketahui memposting pernyataan Zulfan Lindan tersebut. Ardiyoso membenarkan pernyataan Zulfan Lindan.

(Redaksi/Sumber)

loading...