PB, Jakarta — Ada substansi penting yang perlu dipahami oleh rezim juga kubu Prabowo, bahwa dendam kesumat dan kemarahan itu antara rezim dan umat, bukan sekedar dengan Prabowo, Gerindra atau elit politik. Sehingga, rekonsiliasi yang terjadi antara rezim, Prabowo dan elit partai tidak akan mampu meredam amarah umat, kecuali rekonsiliasi itu memenuhi syarat yang diajukan umat.

Skenario konsesi untuk Prabowo juga elit partai, hanyalah konsesi kekuasaan yang umumnya menjadi orientasi politik partai. Juga, konsesi pengembalian modal politik serta jaminan berbisnis tanpa gangguan dari rezim.

Konsesi ini, meskipun jelas dapat mengkompensasi kerugian Prabowo dan elit partai, namun tak sedikitpun menyentuh kepentingan umat.

Konsesi selanjutnya, mungkin bisa juga Prabowo menarik sedikit kepentingan umat, atau umat menitipkan sedikit kepentingan untuk bisa diikat menjadi satu kesatuan syarat paket rekonsiliasi. Yakni, jaminan rezim untuk melepaskan semua tokoh dan ulama yang dikriminalisasi, dibebaskan tanpa syarat apapun.

Nama-nama seperti HRS, Kivlan Zen, Ust Alfian Tanjung, Ahmad Dani, Gus Nur, Habib Bahar Bin Smith, seluruh aktivis yang ditersangkakan pada peristiwa 21-22 Mei, seluruh ulama yang dikriminalisasi dengan pidana SARA, seluruh elemen yang dikriminalisasi karena kritis terhadap rezim, dll. Nama-nama ini wajib dibebaskan, sebagai kesatuan syarat dan paket rekonsiliasi.

Namun, semua paket rekonsiliasi diatas tak ada satupun paket yang mampu menjadikan syarat untuk mengembalikan nyawa yang telah melayang di peristiwa 21-22 Mei, mengembalikan nyawa 700 anggota KPPS yang jadi tumbal Pilpres 2019, menjahit luka yang menganga akibat kezaliman rezim dan yang paling penting tidak akan mungkin menghilangkan kecurangan yang telah dilakukan dalam proses politik yang telah berjalan.

Karena itu, komitmen apapun yang akan dibangun oleh Prabowo bersama elit partai dengan berbagai skenario dan konsesi yang dirancang, tidak akan mampu menarik umat sebagai pihak yang terlibat dalam rekonsiliasi. Umat, akan tetap menjadi entitas yang lain yang tidak pernah mau terikat dengan berbagai keputusan politik yang dibangun elit melalui mekanisme rekonsiliasi.

Hanya saja, jika rezim tulus ingin berdamai, tulus ingin membangun rekonsiliasi, maka rezim harus melakukan rekonsiliasi itu langsung dengan umat, bukan dengan Prabowo atau elit partai lainnya. Syarat yang diajukan umat, adalah rezim wajib mundur dan menyerahkan kekuasaan pada yang berhak.

Umat, tidak akan pernah mau duduk berunding dengan rezim curang. Namun umat, sangat membuka pintu untuk menerima maaf dan pertaubatan rezim yang sadar telah mengambil paksa kekuasan dari umat tanpa hak, dan mengembalikannya kepada yang berhak.

Namun, apakah syarat rekonsiliasi dengan umat ini akan dipenuhi rezim ? Jelas mimpi. Justru rezim mengumbar rekonsiliasi itu guna mengokohkan legitimasi kekuasan curang yang telah mereka peroleh. Tak mungkin berharap rezim sadar, mengembalikan kekuasan pada pemiliknya yang telah dirampas tanpa hak. Itu sama saja seperti memasukan onta ke lobang jarum.

Karena itu, disampaikan kepada Prabowo dan elit partai, tidak perlu mengunggah narasi rekonsiliasi. Anda, tidak akan mampu menarik umat menjadi pihak yang terlibat atau tunduk pada komitmen rekonsiliasi.

Justru, kepada Anda kami tawarkan untuk bersatu dibarisan umat, berdiri dan berjuang bersama umat, menegakkan wibawa dan harga diri yang telah diinjak injak rezim. Jika Anda bergeser kepada rezim, maka ada dua Resiko yang Anda hadapi. Ditinggalkan umat dan dikhianati rezim.

Anda tahu betapa kemarahan umat kepada rezim tak mungkin dihilangkan, Anda juga tahu siapapun yang berhimpun dikubu rezim berpotensi hanya di PHP. Sementara Anda juga tahu, keteguhan umat ini untuk terus berada di jalur perjuangan dan perlawanan, akan terus memasang mata dan telinga untuk mengawasi Anda dan rezim curang ini.

Adapun kepada rezim zalim, rezim curang, rezim represif dan anti Islam, kami katakan kepada kalian: opsi yang kami tetapkan adalah kami menang atau kami Syahid. Kami, tak akan pernah membuka peluang sedikitpun untuk memberi jalan kalian menuju kami, apalagi kami yang harus merangkak mengibarkan bendera putih kepada kalian.

Oleh : Nasrudin Joha

loading...