PB, Jakarta — Sebagian elit partai oportunis hendak mengambil momen lengah umat, untuk menjual komitmen rekonsiliasi kepada rezim untuk di barter dengan remah-remah kekuasaan yang sedikit. Bromocorah politik ini, merapat ke kubu rezim dengan menjual ‘komitmen rekonsiliasi’ dan menjamin gerbong rakyat yang ada dibelakangnya, akan ikut tunduk taat dan patuh mengikuti kehendak rezim.

Para petualang politik ini hendak menjual darah dan bangkai umat, setelah bertarung sekuat tenaga melawan rezim, untuk menangguk kue kekuasaan. Mereka paham, rezim butuh legitimasi untuk membenarkan kemenangan politik yang diperoleh secara curang. Dan ini, merupakan kesempatan emas untuk mengayuh biduk dan berenang diantara bangkai dan darah penderitaan umat.

Rupanya mereka lupa, masih ada aktor dan kelompok politik yang ikhlas. Dan yang pasti, masih ada yang telaten mendampingi umat ini agar tidak terjebak ikut gerbong yang dibawa masuk kejurang kubu rezim.

Kelompok politik diluar partai ini, terus memotong jalur kepercayaan baik kepada rezim maupun politisi oposisi yang hendak menjual bangkai dan penderitaan umat, untuk di barter dengan remah-remah kue kekuasaan, sisa bancakan kubu rezim. Politisi yang seperti ini tidak ada bedanya dengan rezim, sama-sama hamba kekuasan. Mereka, hakekatnya hanya berjuang untuk kepentingan politik partai dan golongannya, tidak sedikitpun memikirkan urusan Umat ini.

Bulan Juli, telah memasuki tanggal ke-6. Namun, ini bukan berarti mereka akan memetik panen kekuasan dari transaksi menjual darah dan bangkai penderitaan umat. Setiap nyawa ada harga, dan kami tak ingin menjual murah nyawa pada peristiwa 21-22 Mei, dan nyawa 700 lebih korban tumbal demokrasi, dengan menyerahkan urusan ini pada politisi dan partai culas.

Kami akan mengawasi, dan segera memotong setiap tangan yang ingin menyambut jabat tangan dari tangan rezim yang berlumuran darah. Jika kami tidak bisa memotong tangan rezim, kami pastikan kami akan memotong tangan para pengkhianat, agar tidak bisa membawa gerbong umat ini ke kubu rezim.

Bukan hanya bukan Juli, bulan-bulan yang lain juga akan kami jaga. Kami pastikan, tidak akan ada rekonsiliasi antara umat ini dengan rezim di bulan Juli ini. Tidak juga bulan Agustus, September, November, Desember, bahkan sampai kapanpun.

Kami telap menyatakan menolak untuk tunduk dan akan terus terjaga di parit-parit perjuangan. Kami, tidak akan merasa capek dan rehat sebelum pertarungan ini kami menangkan.

Kepada partai, politisi, atau siapapun yang mencoba mendatangi umat, merayu umat untuk dapat memberikan pembenaran dan permaafan atas wacana rekonsiliasi yang kalian kumandangkan, kami ingatkan. Kami, telah mengasah pedang politik ini dengan sangat tajam, kami akan tebas tangan siapapun yang menarik umat ini untuk berhimpun bersama memberi komitmen rekonsiliasi dan berdamai bersama rezim.

Wahai mujahid-mujahid sosmed, tetap terus siaga di garis depan perjuangan. Kita tidak boleh lengah, atas setiap manuver politik rezim juga para aktor politik bromocorah yang ingin ngalap berkah dari musibah yang menimpa umat.

Jika aku alpa mengawasi mereka, maka tebaslah tangan siapapun yang mencoba menjangkau umat dan berusaha membawanya ke kubu rezim. Tak perlu izin dari disiapapun, karena kita berkewajiban untuk membongkar makar para penguasa antek dan para petualang politik yang bermain-main dengan aspirasi umat.

Oleh : Nasrudin Joha

loading...