PB, Lumajang — Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-74, Kapolres Lumajang Muhammad Arsal Sahban bersama pejabat utama dan para Kapolres jajaran Polres Lumajang melakukan ziarah ke Makam Prabu Arya Wiraraja.

Pada kesempatan itu, Kapolres Lumajang menyampaikan bahwa Lumajang memiliki sejarah besar karena dulunya merupakan pusat kerajaan yang membawahi wilayah Lumajang, Jember sampai Banyuwangi.

“Saya ingin masyarakat Lumajang tahu akan kehebatan wilayahnya. Lumajang dulu pernah dikenal, pernah menjadi pusat kerajaan serta kebudayaan di atas situs biting yang kita injak sekarang. Dahulu saat masih berjaya, terbangun benteng sepanjang 10 kilometer dengan tinggi 10 meter sebagai pusat kotanya. Hal tersebut mengindikasikan dulunya Lumajang sangat berkembang. Tapi sayang, banyak pemudanya tak menghiraukan sejarah tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut, alumnus Akpol 1998 itu menceritakan tentang sejarah kerajaan Lamajang Tigang Juru dan kehebatan Prabu Arya Wiraraja.

Kata Kapolres, Arya Wiraraja adalah seorang ahli strategi perang dan karena kehebatannyalah yang membuat Raden Wijaya (Raja Majapahit) meminta tolong saat kerajaan singosari ditaklukkan oleh Jayakatwang (Raja Kediri).

Lanjut Arsal bahwa dahulu Raden Wijaya merupakan salah satu patih di Kerajaan Singosari yang diperintahkan oleh Prabu Kertanegara (Raja Singosari) untuk melawan pemberontakan Jayakatwang.

“Jayakatwang adalah Bupati Gelanggengang (kini Madiun) yang pada tahun 1292 memberontak dan meruntuhkan kerajaan Singosari,” ujar Arsal.

Lanjut Arsal, Ia kemudian mendirikan Kerajaan Kediri, namun hanya bertahan sampai tahun 1293.

Dia juga menyebut bahwa sebelumnya Gelanggengang merupakan salah satu kadipaten dibawah Kerajaan Singosari.

“Raden Wijaya yang terdesak kemudian melarikan diri bersama 15 pasukannya ke Sumenep untuk meminta bantuan Arya Wiraraja,” ujar Arsal lagi.

Arsal menuturkan  bahwa Arya Wiraraja yang dikenal sebagai ahli strategi perang, siap membantu Raden Wijaya dengan perjanjian apabila memenangkan peperangan, maka mereka akan membagi dua wilayah kekuasaan di Pulau Jawa.

“Singkat cerita, pasukan Raden Wijaya yang dibantu oleh Arya Wiraraja menaklukan Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Jayakatwang sehingga Raden Wijaya mendirikan kerajaan bernama Majapahit. sesuai perjanjian sumenep antara Raden Wijaya dan Arya Wiraraja terjadi pembagian wilayah kekuasaan di Pulau Jawa,” jelasnya.

Arsal juga menyebutkan bahwa Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit yang menguasai wilayah barat yang wilayahnya meliputi wilayah-wilayah Malang (bekas kerajaan Singosari), Pasuruan, dan wilayah-wilayah di bagian barat sedangkan Prabu Arya Wiraraja yang disebut juga Prabu Minak Koncar I, mendirikan kerajaan Lamajang Tigang Juru di Wilayah Timur.

“Kerajaan Lumajang Tigang Juru ini sendiri menguasai wilayah seperti Madura, Lamajang, Patukangan atau Panarukan dan Blambangan (Banyuwangi). Dari pembagian bekas kerajaan Singosari ini kemudian kita mengenal adanya 2 budaya yang berbeda di Provinsi Jawa Timur, dimana bekas kerajaan Majapahit dikenal mempunyai budaya Mataraman, sedang bekas wilayah kerajaan Lamajang Tigang Juru dikenal dengan “budaya Pendalungan (campuran Jawa dan Madura)” yang berada di kawasan Tapal Kuda sekarang ini,” terangnya.

Arsal menjelaskan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Lumajang Tigang Juru berada di Biting.

Kata Biting sendiri berasal dari kata benteng, sesuai pengucapan Suku Madura disebut Biting. Situs Biting saat ini berada di Desa Kutorenon Kecamatan Sukodono Lumajang. Situs Biting merupakan salah satu tinggalan sejarah kerajaan yang memiki kebesaran pada jaman dahulu,” jelasnya.

Arsal menambahkan bahwa sejarah Kerajaan Lamajang Tigang Juru dan kehebatan seorang Prabu Arya Wiraraja akan diukasnya secara lengkap di channel youtube arsalsahban.

“Hal itu saya maksudkan untuk memudahkan para pemuda Lumajang mengetahui kehebatan sejarah wilayahnya,” ungkap Arsal.

 

 

(Redaksi)

loading...