PB, Jakarta — Sekertaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Catrine Lengkey mensinyalir anjloknya harga nikel domestik disebabkan permainan kartel.
Pasalnya kata dia, harga biji nikel domestik saat ini sangat tidak rasional bagi para penambang.
Bahkan kata dia harga jual biji nikel kadar rendah yang dieksport lebih tinggi dibanding dengan harga harga jual biji nikel kadar tinggi yang dijual di pasar domestik.
“Contohnya nikel kadar 1,8 untuk lokal harganya hanya 300 ribuan sedangkan harga nikel kadar 1,7 di pasar ekspor sudah mencapai US $34,” ujar Meidy lagi.
“Kalau kita ekspor harga ore nikelnya tinggi sedangnkan walaupun kadarnya rendah,” ujar Meidy kepada wartawan di Kantor DPP APNI, Jakarta Kamis (22/8).
Namun ironisnya lanjut Meidy, di saat penambang menikmati harga eksport yang manusiawi itu, tiba-tiba para penambang nikel dihebohkan dengan rencana pemerintah mempercepat pelarangan eksport nikel mentah ke luar negeri.
Padahal kata dia, sejatinya bila merujuk pada PP nomor 1 tahun 2017 batas akhir eksport ore nikel ke luar negeri berlaku pada 12 Januari 2022.
Untuk itu APNI mengingatkan Pemerintah untuk konsisten dengan regulasi yang telah dikeluarkan pada tahun 2017 lalu itu.
“Kami tidak meminta yang lain, namun tonglah konsisten dengan aturan yang ada,” jelas Meidy.
(Redaksi)
loading...