PB, Kendari — Pasca demonstrasi mahasiswa dalam menolak RUU KUHP dan revisi UU KPK di DPRD Sultra yang berujung gugurnya dua mahasiswa pekan lalu, protes sebagian mahasiswa dilanjutkan dengan aksi tinggal di depan Mapolda Sultra.

“Aksi tinggal ini telah kami lakukan selama dua hari sejak Rabu (2/10), tujuannya untuk menuntut pihak kepolisian yakni Polda Sultra agar mengungkap dan mengusut tuntas para pelaku penembakan dan penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya dua rekan kami  beberapa waktu lalu,” ujar Korlap Aksi Rahman Paramai kepada pembawaberita.com.

Lanjutnya, berdasarkan informasi yang diperolehnya, telah ada 6 oknum polisi yang ditetapkan sebagai tersangka dari 13 oknum terperiksa dalam insiden berdarah ini.

“Untuk itu kami meminta kepada Kapolri dan Kapolda Sultra agar menghukum berat dan memecat 6 oknum tersebut karena telah melanggar SOP dalam penanganan aksi unjuk rasa beberapa waktu lalu,” ketusnya.

Aksi tinggal tersebut, dilakukan siang dan malam di depan pintu Mapolda Sultra yang bersebelahan dengan kantor Gubernur Sultra.

Namun pada malam hari, puluhan mahasiswa akan bergabung dengan peserta aksi lainnya sebagai bentuk solidaritas.

Para peserta aksi tinggal tersebut tidak akan berhenti dan akan tinggal seterusnya sampai proses hukum kasus kematian dua mahasiswa UHO selesai, sampai ke pengadilan.

Lebih lanjut, Korlap aksi mengatakan, tuntutan dan harapan dari pijaknya adalah meminta kepada Kapolri untuk menon-jobkan mantan Kapolda Sultra (Brigjen Iriyanto red) dari semua jabatan di tubuh Polri.

“Kami juga meminta Kapolda yang baru untuk mencopot dan memecat Kapolres Kota Kendari, sebagai bentuk pertanggungjawaban moril atas kegagalannya dalam penanganan aksi unjuk rasa mahasiswa yang mengakibatkan meninggalnya dua mahasiswa UHO,” tegasnya.

Selanjutnya tambah dia, meminta agar kasus tersebut dibuka seterang-terangnya dan para pelakunya dihukum seberat-beratnya.

 

(Syah)

loading...