PB, Lumajang — Kesaksian ini ditulis langsung oleh sebuah akun Facebook yang bernama @Dede Waya di grup Facebook ‘Sahabat MAS’, Ahad (6/10).
Dirinya yang mengaku sebagai ‘head team’ Q-Net menyatakan sangat menyesal telah bergabung dalam bisnis tersebut meskipun dirinya telah bergabung dalam Q-Net dalam waktu 2 tahun dan telah memiliki member sebanyak 25 orang.
Akun Fb @Dede waya menjelaskan kalau seharusnya sesuai dengan isi dalam presentasi dirinya sudah bebas financial bila berhasil merekrut orang hingga 25 member baru.
Ditambah lagi dirinya juga telah membeli 3 TCO (Tracking Center Owner) sekaligus yang bernilai 21 juta Rupiah.
Namun nyatanya janji di dalam presentasi hanyalah janji manis belaka.
Pasalnya dirinya ‘hanya’ mendapatkan uang $30(setara Rp 450 ribu), sedangkan yang diiming-iming dalam presentasi akan mendapatkan $250 (sekitar Rp 3,750 Ribu).
Lantaran merasa dibohongi selama 2 tahun sejak ia bergabung, Dede pun memutuskan berhenti dari dunia bisnis Q-Net.
Bahkan sebelum dirinya keluar, ia dipaksa oleh leadernya untuk mengaku dalam sebuah presentasi yaitu mendapatkan pendapatan sebesar $250 setiap bulannya ditambah lagi motor yang ia gunakan diminta agar diakui hasil dari bergabung dalam bisnis Q-Net.
Sang leader tersebut mengatakan bahwa tak masalah berbohong demi kebaikan, mereka yang membutuhkan kita dan kita lah yang membuka mata mereka.
Ia mengatakan setelah keluar, bingung mencari uang karena dirinya dulu membeli 3 TCO yang bernilai 21 juta Rupiah dari hasil hutang ke para kerabat sekitar.
Namun demikian dirinya masih bisa bersyukur karena mendapat hidayah untuk keluar dari bisnis tersebut dan tak lagi memberikan kesaksian palsu kepada para calon rekrutan baru.
Di akhir tulisannya tersebut, dirinya berharap banyak orang belajar dari pengalaman hidupnya.
Ia tak ingin melihat orang yang sudah kesusahan, ditambah lagi beban hidupnya lantaran ingin kaya secara instan dengan mengikuti bujuk rayu para leader Q-Net.
Menyikapi informasi itu, Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban menjelaskan bahwa konsep cuci yang dilakukan oleh Q-Net dari PT. Amoeba bersifat terstruktur, Sistematis dan masif.
Menurutnya, kesaksian yang ditulis di grup Facebook ‘Sahabat MAS’ ini bukan sembarang orang yang menulis.
“Dia adalah salah satu head team (ketua Tim) selama dua tahun dan telah memiliki 25 orang member. Orang yang sudah memiliki posisi tinggi dan memiliki member sebanyak itu saja mengaku rugi dan merasa dibohongi, apalagi yang baru mendapatkan beberapa member. Dia menceritakan bagaimana konsep kebohongan demi kebohongan yang diajarkan oleh seniornya seperti mengakui sudah mendapatkan keuntungan padahal masih rugi. Dan konsep tipu-tipu inipun secara turun temurun diajarkan kepada member baru. saya himbau kepada masyarakat Indonesia untuk menghindari skema bisnis model piramida seperti yang di jalankan Q-Net,” tegas pria yang menyelesaikan gelar S1 di UNS Solo, S2 di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta serta S3 di Universitas Padjajaran Kota Bandung tersebut.
Lanjutnya Q-Net adalah nama sebuah brand yang digunakan oleh PT Amoeba Internasional.
Arsal menuturkan bahwa keberadaan PT Amoeba sendiri selalu disembunyikan oleh pera senior membernya, untuk mengelabui aparat hukum.
“Mereka selalu menampilkan nama Q-Net dan PT. QN Internasional Indonesia supaya tambah menyulitkan aparat mengenduskan, karena PT QN Internasional Indonesia memiliki legalitas hukum yang kuat. Bisa dikatakan mereka menjalankan 2 sistem dalam 1 rumah, dimana saat berhadapan dengan aparat yang diperlihatkan sistem yang sah yang telah berizin. tapi dalam menjalankan bisnisnya, yang digunakan adalah model bisnis kotor berupa penerapan skema piramida dalam pendistribusian barang. sebuah konsep yang cerdas, hanya sayangnya digunakan untuk menipu orang-orang kecil,” jelasnya.
(Redaksi)
loading...