PB, Kendari — Bertepatan dengan hari pelantikan Anggota DPRD Sultra priode 2019 – 2024, ratusan Mahasiswa UHO kembali mendatangi DPRD, Senin (7/10).

Kehadiran para mahasiswa itu terkait proses kasus penembakan dua rekan mereka yang gugur beberapa waktu lalu.

“Kami ingin bertemu dengan anggota DPRD Sultra untuk menyampaikan aspirasi terkait progress penanganan kasus kematian dua rekan kami yakni Randi dan Yusuf Qardawi,” teriak orator aksi

Mereka juga menilai bahwa Polda Sultra telah terdegradasi karena yang terduga melakukan penembakan itu justru dari personel kepolisian sendiri.

Situasi sempat memanas karena para peserta aksi tertahan diperempatan jalan depan Kantor Bulog Sultra.

Polisi menggunakan kawat duri, barikade Polwan, barikade Pasukan Huru-Hara dan 1 unit mobil watercanon untuk menghalangi mahasiswa menuju ke kantor DPRD Sultra.

Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan kembali reda tanpa insiden karena pihak Kepolisian dan Humas DPRD Sultra segera mempersilahkan beberapa perwakilan mahasiswa masuk dan bertemu para anggota DPRD untuk menyalurkan aspirasinya.

“Berdasarkan rilis dari media online, ada sekitar 6 orang yang telah ditetapkan sebagai terduga penembakan, 5 diantaranya oknum polisi dari Polres Kendari. Untuk kami menuntut agar Kapolres Kota Kendari dicopot dari jabatannya karena telah gagal dalam mencegah dan menertibkan oknum-oknum anggotanya yang diduga telah menembak mati rekan kami,” ketus orator aksi.

 

(Syah)

loading...