PB, Lumajang — Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban memimpin upacara Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Banyu Putih Kidul Kecamatan Jatiroto, Lumajang, Selasa (22/10).

Dalam amanatnya, Kapolres Lumajang menegaskan bahwa Pondok pesantren adalah laboratorium perdamaian.

“Peringatan Hari Santri yang ke-4 ini temanya Santri Indonesia untuk perdamaian dunia, karena Pondok Pesantren adalah laboraturium perdamaian. Di Pondok Pesantren para santri disemai dan diajarkan tentang ajaran-ajaran Islam yang Rahmatal lil ‘alamin, artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia tanpa melihat perbedaan agama, suku, ras maupun antar Golongan,” tegasnya.

Sementara itu, KH. M Husni Zuhri selaku pembina Yayasan Miftahul Ulum Banyu Putih Lumajang mengatakan sangat mangapresiasi atas kedatangan Kapolres Lumajang.

“Saya sangat mengapresiasi dengan kedatangan Kapolres Lumajang dan mau sebagai inspektur upacara dalam peringatan Hari Santri Nasional ke empat di Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini. Bukan hanya sosok pemimpin, beliau benar-benar sosok berkharismatik dan memiliki pengaruh yang sangat kuat di Kabupaten Lumajang dan bahkan di tingkat Jawa Timur,” ungkapnya.

Untuk diketahui peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Miftahul Ulum diikuti sekira 3500 santri.

Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober oleh bangsa Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional, merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah akan pentingnya Peran Santri, Kyai dan pemuka agama.

Menurut sejarah singkatnya Penetapan Hari Santri Nasional dilatarbelakangi dari satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH Hasjim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.

Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Kesatuan Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan.

Peringatan Hari Santri Nasional yang diselenggarakan setiap tanggal 22 Oktober tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenang hari semangat jihad para santri Nasional, namun lebih merupakan sebuah momentum untuk mengingat kembali suatu peristiwa bersejarah tentang komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Dimana santri masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Sejalan dengan tujuan tersebut, Hari Santri Nasional (HSN) menjadi bagian dalam daftar hari penting Nasional dalam mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan dalam menjaga kesatuan, pengokohan NKRI dan memperjuangkan Pancasila sebagai dasar Negara.

 

(Redaksi)

loading...