PB, Lumajang — Tim Cobra Polres Lumajang menetapkan 12 orang tersangka terkait kasus Q-Net.

Penetapan ke 12 tersangka itu merupakan kelanjutan dari hasil penggeledahan yang dilakukan oleh Tim Cobra Polres Lumajang di kantor Amoeba Internasional di Kediri dan Kantor QN International Indonesia di Jakarta yang di pimpin langsung oleh Katim Cobra AKP Hasran beberapa waktu lalu.

Tim Cobra telah membuktikan bahwasanya PT Amoeba Internasional dan PT QN International Indonesia berperan dalam melakukan penipuan investasi dan pendistribusian produk dengan skema piramida.

Sebagaimana diketahui PT QNII sendiri adalah pemegang merek QNet di Indonesia.

Bahkan perusahaan ini diketahui telah menjalankan aksi penipuan investasinya selama kurang lebih 21 tahun di Indonesia.

Diawali dengan Brand yang bernama Gold Quest dan selanjutnya berganti baju menjadi Questnet saat Gold Quest tersandung masalah hingga akhirnya bermetamorfosis menjadi Q-Net.

Adapun sistem kerja ketiga Brand tersebut tidak berbeda dan berada pada satu sistem yang sama sehingga member-member Gold Quest maupun member Quest Net dapat terafilisiasi dengan sistem yang ada di Qnet.

Mereka menjalankan sistem binari dengan menjual produk yang harganya mahal dan diklaim memiliki manfaat, tapi sebenarnya tidak memiliki manfaat seperti claimnya mereka.

Menyikapi hasil kerja Tim Cobra itu, Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban menegaskan PT Amoeba dan PTQNII berperan dalam kasus investasi bodong Q-Net.

“Kami sudah bisa mengurai peran masing-masing perusahaan, baik PT Amoeba maupun PT QN International Indonesia. Keduanya memiliki peran dalam melakukan penipuan investasi di Indonesia dan keduanya juga menjalankan sistem skema piramida yang dilarang oleh undang-undang,” ujar Arsal.

Lanjutnya, dalam sebuah sistem skema piramida apabila diambil kedalaman 10 lapis, maka yang diuntungkan hanya 13% sedangkan yang dirugikan mencapai 87% dari seluruh member yang ikut.

“Saat ini kami telah menetapkan 12 tersangka dalam tindak pidana penipuan Investasi dengan pasal yang kami persangkakan yaitu penipuan, perdagangan tanpa ijin, mendistribusikan barang dengan skema piramida dan mengedarkan alat kesehatan tanpa ijin edar dari Kemenkes,” terangnya.

Arsal juga menerangkan bahwa dari hasil penggeledahan yang dilakukan pihaknya di kantor PT QN International Indonesia di Jakarta membuktikan jika PT QNII bukanlah sebuah perusahaan bonafit yang menjalankan perusahaan dengan baik.

“Sebagai contohnya, di websitenya dipampangkan banyak produk yang mereka jual yang meliputi barang-barang Lifestyle seperti jam tangan, perhiasan, alat-alat kesehatan dan kebugaran, alat-alat perawatan dan kecantikan serta peralatan rumah yang jumlahnya ratusan item. Tapi kenyataannya saat kami geledah, ternyata hanya ada 12 item produk di dalam gudang PT QN International Indonesia. Luas gudangnyapun hanya 4×6 meter. Kalau kita sambungkan dengan kode etik perusahaan PT QNII, perusahaan wajib mengirim barang yang dipesan customer hari itu juga atau paling lambat keosokan harinya sudah harus dikirim. Yang jadi pertanyaan kalau produk yang ditawarkan diwebsite tidak ada digudang, bagaimana mereka mengirimkan prodak tersebut kepada customer dalam jangka waktu sesuai yang disebut kode etik ?!. bahkan rata-rata korban yang kami periksa mengatakan menerima barang setelah 5 bulan, bahkan ada yang tidak mendapatkan produknya sama sekali walau sudah bayar,” beber Doktor jebolan Universitas Padjajaran ini.

Selain itu lanjut Arsal, ternyata PT QNII tidak memiliki kontrak hak distribusi eksklusif dari pemilik merk.

“Seharusnya sebuah perusahaan MLM tidak boleh mengedarkan produk yang tidak memiliki kontrak distribusi eksklusif dari pemilik merk,” terang Arsal.

Yang paling parahnya lagi, menurut Kapolres, PT QN International Indonesia menjalankan sebuah marketing plan yang tidak didaftarkan di Kementerian perdagangan.

“Marketing plan yang didaftarkan oleh PT QNII yaitu sistem pendistribusian dengan model matahari yang maksudnya setiap member boleh memiliki ratusan bahkan ribuan Downliner serta tidak ada pembatasan sama sekali sehingga membentuk seperti matahari. Tapi pada kenyataanya PT QN International Indonesia menjalankan sistem binary, dimana setiap member hanya boleh memiliki 2 downliner yaitu 1 di kaki kanan dan 1 di kaki kiri. Ini jelas-jelas ingin mengelabui hukum, karena mereka memiliki izin resmi dari kemendag dan APLI, tapi mereka menjalankan sistem yang berbeda dengan yang dilaporkan ke kemendag. Tapi izinnya itulah yang selalu ditampilkan ke publik kalau seakan-akan sistem mereka resmi dan terdaftar,” jelas Magister UGM itu.

AKBP Muhammad Arsal Sahban menambahkan jika izin PT QNII selalu dijadikan tameng setiap adanya laporan dari masyarakat.

“PT QN International Indonesia atau Qnet selalu mengatakan bahwa perusahaannya legal dan tidak bisa disentuh oleh hukum, tapi akhirnya dari hasil penyidikan kami bisa membongkar praktek tipu-tipu yang mereka lakukan.
Kalau ini dibiarkan maka korban orang kecil akan terus berjatuhan, karena sasaran mereka adalah orang orang kecil yang mudah diperdaya sedemikian rupa. para korbannya sampai menjual sawah, menjual sapi bahkan sampai hutang bank karena selalu ditanamkan doktrin UGD yakni utang gadai dan dol. Para membernya diminta untuk mencari Hutang kepada siapapun dan menjual barang apapun dengan dalih uang tersebut akan kembali berlipat ganda,” jelas Arsal.

 

(Red)

loading...