PB, Lumajang — Jeritan para korban Q-Net dari berbagai penjuru terus bermunculan.

Kali ini sebuah akun yang bernama @Lilih Riyani Nya Muhadi melalui grup facebook Sahabat MAS menuliskan deritanya dulu saat ‘disekap’ di kota Pekanbaru, Riau, Selasa (19/11).

Ia mengungkapkan bahwa di kota tersebut dirinya disekap selama 3 hari 3 malam, bahkan saat ia ke kamar mandi pun selalu dibuntuti oleh senior Q-Net.

Selain itu, hp miliknya juga sering kali digunakan tanpa izin hingga kuotanya habis.

Ia juga mengatakan para senior sering kali mencaci maki hingga mendorong yang menyebabkan kaki kanannya ngilu.

Selain itu, bekas jahitan disepanjang paha kanan penulis juga merasakan perih lantaran sering kali dibenturkan ke dinding oleh senior Q-Net.

Mereka pun selalu menghalangi korban saat korban ingin pulang ke rumah.

Saat ketahuan meminta tolong pemilik warug bagaimana caranya melarikan diri dari penampungan tersebut, ia dikatakan sebagai ‘virus’ oleh para senior Q-Net.

Akhirnya iapun ditolong oleh seseorang dan berhasil kembali ke kota asalnya yakni kota Bandung.

Dituliskan, ia dibantu oleh seseorang dari suku Batak dengan nama marga Sihombing.

Melalui PA Dayus yang bermukim disekitar PO Handoyo Pal 10 Jalan Lingkar Barat Jambi, ia mendapatkan tumpangan secara gratis hingga rumah.

Di akhir tulisan, ia berharap suatu saat bisa kembali lagi ke Pekanbaru untuk berterima kasih sekaligus bersilaturahmi dengan pemilik PO Handoyo yang telah menyelamatkan dirinya dari Q-Net.

Ia juga berterima kasih kepada seseorang yang bernama Adip yang mau menampungnya selama 13 hari selama di Pekanbaru.

Menyikapi hal itu Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban menegaskan bahwa korban Q-Net di seluruh Indonesia sangat banyak.

“Korban Q-Net saya yakini berjumlah ratusan ribu orang dan tersebar di seluruh Indonesia. Hati nurani saya terpanggil untuk menyelesaikan kasus ini, dimana para korban kebanyakan adalah orang yang kurang mampu dan tak mengerti akan dunia bisnis. Mereka diiming-iming pekerjaan dan juga gaji yang lumayan sehingga berani meninggalkan rumahnya dan bergabung ke Q-Net dengan harapan bisa merubah taraf hidupnya tapi ternyata mereka ditipu sedemikian rupa. Perusahaan Q-Net di indonesia juga sebenarnya adalah perusahaan ilegal karena SIUPLnya telah mati sejak bulan maret 2018. Selain itu PT QNII sebagai perusahaan QNet di Indonesia juga sudah di keluarkan dari keanggotaan APLI,” terang pria yang menyelesaikan gelar S3 di Universitas Padjajaran Kota Bandung tersebut.

Arsal menghimbau masyarakat Indonesia yang dirugikan oleh Q-Net, untuk melaporkan orang yang mengajaknya ke kepolisian terdekat sesuai locus delictinya.

“PT. QNII yang dijadikan tameng dalam bisnis QNet adalah perusahaan ilegal karena tidak memiliki izin untuk melakukan penjualan langsung. Izin yang dimilikinya sudah mati sejak maret 2018 dan sampai saat ini pemerintah belum memperpanjang izinnya,” jelas Arsal yang menghabiskan masa kecilnya di kalosi – Enrekang, Sulawesi Selatan ini.

 

(Redaksi)

loading...