PB,  Lumajang — Berbagai cara dilakukan oleh pihak Q-Net untuk memenangkan kasusnya.

Bahkan, mereka berani melakukan sumpah palsu saay sidang Pra Pradilan di Pengadilan Negeri Lumajang.

Ironisnya, saksi yang mereka hadirkan untuk melakukan sumpah palsu adalah seorang kepala dusun.

Sang Kepala Dusun itu bernama Supriyanto (47) warga Desa Singgahan Kecamatan Kebonsari Kabupaten Madiun.

Diketahui, dalam persidangan Supriyanto mengatakan bahwa pihak Tim Cobra Polres Lumajang telah mengambil uang sebanyak 50 juta Rupiah di dalam brankas saat melakukan penggeledahan di rumah Karyadi di Kota Madiun beberapa waktu yang lalu.

Tetapi pada saat dicecar pertanyaan oleh kuasa hukum Tim Cobra tentang seberapa banyak uang yang diambil, dia hanya mengatakan satu gepok uang 50 ribuan dengan memberikan gesture tangannya seperti mencapit uang dengan ketebalan sekitar 5 cm uang 50 juta rupiah.

Hal ini sangat tidak mungkin tumpukan uang 50 ribuan setinggi 5 cm berjumlah 50 juta rupiah.

Dan pada saat dicecer kembali apakah melihat penyidik mengambil uang pada saat itu, ia kebingungan dan mengatakan hanya mendapatkan informasi dari orang lain saja.

Kuasa Hukum Tim Cobra juga menanyakan kepada Kuasa Hukum Karyadi bernama Ida, SH terkait alasan menandatangani berita acara penyitaan dan tidak memprotes pada saat itu juga karena di dalam berita acara tertera barang-barang yang disita.

Namun Kuasa Hukum Karyadi mengatakan tidak membaca isi Berita Acara penggeledahannya tetapi langsung dia tandatangani.

“Yang menjadi pertanyaan bagi Tim Cobra, Kalau memang uang itu ada, kenapa baru mempermasalahkan setelah sekian bulan? Apakah memang sengaja dibuat untuk merusak kredibilitas Tim Cobra Polres Lumajang?!” tegas Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban penuh tanya, Rabu (20/11).

Dia juga menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan penyidikan terhadap Supriyanto yang diduga memberikan kesaksian palsu itu.

“Saksi yang memberikan kesaksian palsu di sidang pengadilan pada saat pra peradilan kasus Q-Net akan kami sidik, karena memberikan kesaksian palsu di bawah sumpah diancam 7 tahun penjara,” tegas pria yang menyelesaikan gelar S3 di Universitas Padjajaran Kota Bandung tahun 2010 tersebut.

Dia juga menuturkan bahwa terkait kesaksian Supriyanto itu, sejauh ini pihaknya telah melakukan pemeriksaan beberapa saksi dan rekaman video.

“Kami sudah memeriksa beberapa orang saksi termasuk memeriksa rekaman video pada saat penggeledahan di rumah Karyadi semuanya membuktikan kalau tidak ada uang saat itu didalam brankas. Apalagi saat itu brankas dalam keadaan terbuka sehingga kami dapat yakinkan bahwa keterangan yang diberikan oleh bapak Supriyanto selaku Kepala Dusun Singgahan adalah keterangan palsu,” ujar Arsal yang menghabiskan masa kecilnya di kota kecil kalosi – Enrekang, Sulawesi Selatan.

Dia menambahkan bahwa pihaknya telah melayangkan surat pemanggilan kepada Supriyanto untuk mendapatkan keterangannya apakah dia bisa membuktikan ucapannya atau tidak.

“Tapi saya yakin panggilan kami untuk datang hari Rabu tanggal 20 November 2019 pasti tidak akan dihadiri olehnya, karena pasti dia takut untuk hadir karena dia merasa telah bersalah. kalau tidak bersalah, kenapa harus takut menghadiri panggilan penyidik?!” imbuhnya.

“Kalaupun dia tidak hadir, pasti Penyidik Tim Cobra akan mengejar yang bersangkutan untuk pertanggungjawaban ucapannya. Mungkin saja ada konspirasi dibelakangnya untuk merusak kredibilitas Tim Cobra dan juga untuk menghancurkan kontruksi penyidikan kami dalam kasus Q-Net,” pungkas Arsal.

 

(Redaksi)

loading...