PB Jakarta- Kreatifitas dan inovasi merupakan ujung tombak dalam menghadapi persaingan global yang berkembang dinamis. Kreatifitas dan inovasi dapat terjadi disemua lapisan masyarakat dan tidak tergantung tingkat pendidikan. Prakondisi yang penting untuk mendukung proses kreatifitas dan inovasi adalah tingginya tingkat kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat atau terhadap perubahan lingkungan. Setiap perubahan, reformasi atau transformasi memerlukan penyesuaian.

Generasi milenial dinilai sebagai agen perubahan. Tentu saja predikat ini disematkan bagi mereka yang punya sisi kreatif dan haus belajar hal baru. Namun bukan perkara gampang untuk mengasah ide menjadi sebuah kreativitas. Kita harus memiliki kemampuan yang mumpuni. Untuk menjadi agen perubahan tersebut, tentu perlu adanya kemampuan kepemimpinan (leadership), kewirausahaan (entrepreneurship), dan tanggung jawab sosial (social responsibility). Generasi millenial merupakan generasi terkaya dimasa depan, melihat kebiasaan dari para generasi millenial saat ini, maka akan dipastikan bahwa generasi millenial akan menjadi generasi terkaya dimasa depan. Generasi ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok jika dibandingkan generasi sebelumnya, salah satunya adalah dalam hal mengejar pekerjaan yang dicintai dan semangat berwirausaha. Ditambah lagi dengan peluang besar sehubungan dengan perkembangan jaman yang ada, memungkinkan generasi ini untuk mengejar kesuksesan finansial jangka panjang.

Saat ini, Indonesia sedang dalam proses memasuki bonus demografi di 2025–2030. Jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus meningkat dari 238,5 juta pada 2010 akan menjadi 305,6 juta jiwa pada 2035. Besarnya jumlah peningkatan penduduk ini berpotensi mendatangkan bonus demografi bagi bangsa ini. Bonus demografi membuat penduduk usia produktif yang berpotensi menggerakkan ekonomi Indonesia untuk menjadi semakin banyak. Diperkirakan pada 2045, pemuda yang dalam usia produktif saat ini akan menjadi generasi emas. Mereka inilah yang saat ini dipersiapkan untuk menggerakkan perekonomian Indonesia kelak di masa depan. Jika disiapkan dan dikawal dengan baik, maka bonus demografi dapat mengakselarasi hadirnya millenials Indonesia mandiri yang berkualitas tinggi.

Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A yang merupakan tokoh entrepreneur nasional berbagi inspirasi di hadapan ratusan generasi muda yang berkumpul di ajang bergengsi ‘Indonesia Millenial Summit 2020’ yang berlangsung di Gedung Tri Brata Jalan Darmawangsa III, Kebayoran, Jakarta Selatan, Sabtu (18/1/2020).

Sandi menanggapi positif penyelenggaran kegiatan yang merangkul generasi muda untuk bertukar pikiran dan kreativitas.

“Sudah saatnya generasi millenial memikirkan masa depan terutama masa depan bangsa dimana mereka akan menjadi tulang punggung ekonomi bangsa dalam beberapa tahun kedepan,” ungkap Sandiaga

Dijelaskan politisi Gerindra ini, Industri ekonomi Indonesia sudah memasuki era digital 4.0 yang serba terbuka, cepat dan bersaing, sehingga di butuhkan kualitas SDM yang tahan banting dan memiliki kreativitas dan semangat berjuang yang tinggi.

“Dan untuk mengasah intuisi, kreativitas dan wawasan, maka mereka perlu mengikuti berbagai ajang tatap muka dan diskusi sehingga dapat menambah pengetahuan mereka. Ajang seperti Indonesia Millenial Summit menjadi langkah tepat untuk mencetak generasi millenials berkualitas,” papar mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta ini.

“Untuk mendongkrak industri ekonomi diera teknologi saat ini, strategi yang harus dilakukan, pertama, kita perlu perkuat kapasitas funding baik lewat tumbuhnya fintech, maupun investasi pertama tumbuhkan fin and fundtech. Kedua, bangun kapasitas investasi millenials”. Sandiaga Uno memaparkan bahwa lima sampai sepuluh tahun lalu kita diserukan akan menghadapi future e commerce dimana hal tersebut yang menjadi tema investasi dan sudah kita rasakan saat ini. Kedepannya eranya fintech AI, investasi di kesehatan, pendidikan dan lain-lain, sehingga generasi millenials juga harus sudah siap,” jelasnya lagi.

Dilanjutkannya, “Inovasi teknologi merupakan bagian penting dalam kemajuan negara, sehingga pemerintah harus sungguh-sungguh mengalokasikan anggaran untuk R&D sehingga lahir inovasi teknologi yang lebih adaptip terhadap perkembangan zaman. Harapannya pemerintah harus memberikan Proteksi terhadap start up dalam negeri sampai bìsa menguasai 80% pasar sehingga produk dalam negeri menjadi dominan di pasar internasional. Untuk itu diperlukan kepiawaian dan mental kuat dalam berbisnis. Terbukanya akses komunikasi antar bangsa juga memberikan keuntungan bagi pelaku bisnis, karena bisnis mereka sudah bisa di akses dimana saja, namun karenanya jadi membutuhkan strategi bisnis yang efektif agar tak hanya menangkap pasar dalam negeri saja, tetapi juga luar negeri”. (Beby)

loading...